Tuesday, January 26, 2016

Strawberry Choco Cheese Cake ala Alil

            “ Strawberry Choco Cheese Cake ala Alil! “
            “ Wah, cantik sekali Lil! Cantik seperti yang buat!” Goda salah satu seniornya yang bernama Affa.
Alil adalah seorang wanita berusia dua puluh lima tahun yang saat ini bekerja di salah satu restoran terkenal di kotanya. Berawal dari seorang pencuci piring di dapur hotel, sampai saat ini Alil bisa menjadi asisten Affa karena kemampuannya yang mahir dalam membuat kue.
            “ Oh iya dong chef Affa, yang buat cantik kuenya harus cantik dong!” Jawab Alil dengan percaya diri.
            “ Rasanya cantik juga gak?”
            “ Oh jelas cantik, nih cobain!”
            “ Duh, sayang banget mau dimakan!”
            “ Yaudah deh gak usah! Biar aku aja yang cicip sendiri!” Jawab Alil dengan nada sedikit kesal.
Affa yang melihat perubahan wajah Alil menarik kembali piring berisi kue cantik yang saat ini sedang dipegang Alil.
            “ Eehh ehh gak boleh gitu dong, barang yang udah dikasih gak boleh diambil lagi!”
Affa pun mencicip kue buatan Alil.
            “ Gimana gimana gimana? “ Tanya Alil penasaran.
Affa hanya tersenyum dan meletakkan piring itu di atas meja. Lalu pergi menuju ruang ganti.
            “ CHEFFF AFFAAAA!!! GIMANA???” Teriak Alil.
            “ Ssstttttttt!!!” Jawab Affa sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya dari kejauhan.
Alil terlihat kesal. Karena setiap Affa mencicipi kue buatannya, respon Affa selalu seperti itu.
            Alil membersihkan dapur restoran dan langsung menuju ruang ganti. Kekesalannya pada Affa masih ia rasakan sampai saat ini. Ia mengambil tas dan mengelurkan handphonenya.
            “ Affa??”
Alil terkejut membaca sms dari Affa. Seketika wajah kesalnya berubah menjadi senyuman manis yang ia tebarkan di sepanjang jalan saat pulang dari restoran.
            Pagi ini Alil membersihkan seluruh rumah, lalu membantu ibunya membuat sarapan untuk ayah dan kedua adiknya. Minggu pagi adalah minggu yang merdeka buat Alil, karena hari ini ia libur bekerja.
            “ Kak ALILLL ADA YANG CARIIN!!” Teriak Riva dari ruang tamu.
Alil bergegas menuju ruang tamu melihat siapa yang mencarinya sepagi ini.
            “ Selamat pagi Alil!” Sapa Affa dengan senyum manisnya yang sangat Alil sukai.
Affa seorang chef pastry berusia dua puluh tujuh tahun yang sangat tampan di mata Alil. Badan Affa yang tegap dengan tinggi badan 170 cm, berkulit sawo matang dengan lesung di pipi kanannya membuat Affa terlihat menjadi sosok laki-laki sempurna bagi Alil.
            “ CHEF?” Kata Alil terkejut.
Affa tersenyum cekikikan melihat tampilan Alil di rumah. Dia melihat real Alil, Alil yang benar-benar original tanpa polesan make up atau lipstick.
            “ Ada apa kok tiba-tiba? Kenapa gak bbm dulu?”
            “ Gak boleh?”
            “ Boleh kok boleh. Isstt selalu deh nanya gitu.” Jawab Alil kesal.
Affa hanya tersenyum melihat Alil yang kesal. Alil mempersilahkan Affa duduk dan menyuguhkan teh hangat dan sekotak cookies coklat buatannya.
            “ Lil, jalan yuk!” Ajak Affa tiba-tiba.
            “ JALAN?” Alil terkejut. “ NO, NO, NO!” Tolak Alil.
            “ Gak bakal ada tragedi siram-siraman lagi, gak bakal ada tragedi omel-omelan lagi! Aku janji!”
Alil tampak berpikir. Selama tiga kali Affa mengajak Alil keluar jalan-jalan, Alil selalu terkena sial. Pacar Affa yang terlalu over protektif selalu memergoki mereka berdua dan Alil-lah yang menjadi korban.
            “ Ada jaminan?” Tanya Alil penuh negosiasi.
Affa memberikan ponselnya kepada Alil. Alil membaca sms dari pacar Affa yang saat ini sudah berstatus menjadi mantan.
            “ Oke, aku mandi dulu!”
Lima menit kemudian Alil sudah berdiri di depan Affa dengan menggunakan kaos lengan panjang putih dan celana jeans biru muda yang membuatnya terlihat seperti anak SMA.
            “ Udah mandi?” Tanya Affa ragu.
Alil bisa mandi dengan kekuatan elang saat akan memangsa. Lebih cepat dari kecepatan cahaya.
            “ Pergi gak ni?” Gertak Alil.
            “ Iya iya pergi! Aku pamit ke ibu sama ayah dulu!”
Affa yang sudah akrab dengan orang tua Alil tampak nyaman berada di rumah Alil.
            Pertemuan pertama Affa dengan Alil saat Alil menjadi seorang pencuci piring di restoran tempatnya bekerja. Saat restoran close, Affa sering memperhatikan kebiasaan Alil yang sering duduk sambil melihat-lihat dapur restoran. Pikiran negatif sempat terlintas di otak Affa, Affa pernah menganggap Alil sebagai pencuri.
            “ Apa yang kamu lakukan disini setiap malam?” Tanya Affa penuh curiga.
            “ Selamat malam, Chef! Maaf sebelumnya, saya cuma bahagia saja berada di dapur yang dari dulu sangat saya inginkan! Sebentar aja boleh? Lima menit?”
            “ Dua menit, setelah itu kamu boleh pulang! Tapi, kenapa kamu merasa bahagia berada di sini?”
“ Iya, karena dari dulu saya sangat ingin menjadi seperti chef! Dari kecil saya sering liat ibu buat kue dan entah mengapa saya juga ingin membuatnya. Kue pertama saya saat itu untuk pacar saya saat masih SMA. Sejak itu membuat kue adalah hobi saya. Saat kuliah, saya sering membayangkan takaran betadin dan aquades untuk membersihkan luka seperti akan membuat adonan kue.”
            “ Betadin? Aquades? Kamu kuliah dimana dulu?”
            “ Saya seorang perawat yang sudah mengangkat sumpah perawatnya lalu meninggalkan pekerjaannya sebagai admin di salah satu perusahaan asuransi demi menjadi seorang pencuci piring di restoran.”
            “ Kamu bodoh!”
            “ Semua orang akan berkata seperti itu. Tetapi saya yakin, ketika saya mengikuti hati saya, semua akan baik-baik saja!”
Affa hanya terdiam mendengar penjelasan Alil.
            “ Saya sangat mencintai pastry, dunia saya terasa lengkap, hati saya bahagia ketika menciptakan karya yang mungkin gak selezat yang dibuat professional. Tapi saya bahagia. Ketika orang lain menikmati liburan mereka di pantai, gunung, di hutan atau entah dimana, saya lebih baik di dapur bermain dengan bahan-bahan yang udah ada dan menciptakan keindahan. Saya ingin menciptakan keindahan dengan rasa kepuasan pribadi dalam diri saya. Saya bisa menghabiskan waktu seminggu di dapur saat liburan semester. Saya bahagia karena saya sangat menikmati. Dan impian saya bisa berdiri ditempat yang sama dengan para chef di dapur restoran yang akan menciptakan keindahan untuk memberi kepuasan untuk orang banyak. Apalagi saat ini, detik ini, saya bisa berbicara langsung dengan chef Affa yang sejak saya bekerja di sini hanya bisa melihatnya konsentrasi dengan hasil karyanya. Terima kasih, chef!”
Affa tertegun mendengar penjelasan wanita yang berdiri sambil berbicara di depannya saat ini. Ditariknya lengan Alil dan dibawanya menuju meja pojok tempat biasanya Ia bekerja.
            “ Kamu harus menciptakan keindahan itu malam ini!” Kata Affa dengan tegas.
Ia beranjak keluar dari dapur dan duduk di kursi tamu paling depan agar bisa melihat wanita yang membuatnya tertegun malam ini. Alil terkejut tak percaya bahwa ia boleh memakai seluruh peralatan yang digunakan Affa.
            Affa tak lepas memandangi Alil yang dengan gesit dan hati-hati membuatkannya strawberry lava cake. Satu jam berlalu dan Affa terkejut melihat hasil ciptaan wanita ini.
            “ Sangat cantik! Terima kasih!” Ucap Affa yang sangat terkejut melihat ciptaan seindah itu.
            “ Ini strawberry lava cake pertama saya dan special untuk chef karena udah ngizinin saya make dapurnya!”
Plating yang cantik dengan lava cake bundar ditengah dan garnish daun mint diatasnya ditambah tulisan “ THANK’S AFFA “ dengan menggunakan selai strawberry.
            “ Mulai besok aku mau kamu jadi asistenku!”
Kata-kata Affa itulah yang membuat Alil menjadi asistennya sampai saat ini. Sesekali dessert buatan Alil yang dihidangkan pada para tamu.
            Semakin lama hubungan Alil dan Affa semakin dekat, sehingga Affa memberanikan diri untuk mengajaknya jalan walaupun saat itu Affa sudah memiliki Naura yang sangat over protektif.
            “ Aku mengikuti kata hatiku seperti yang dulu yang pernah kamu katakan kepadaku. Ketika kita mengikuti kata hati, yakin aja pasti akan baik-baik saja. Dan sepertinya aku sangat baik-baik saja bersamamu!” Ucap Affa tiba-tiba saat dalam perjalanan yang membuat Alil terkejut.
            “ Chef masih inget? Wahh ingatannya lumayan yah walopun udah tua!Hahahahaha…”
            “ Enak aja tua! Udah nyampe, yuk turun!”
            “ Loh loh ini kan restoran, kenapa kesini? Kan hari libur chef!” Tanya Alil bingung.
            “ Kamu diem aja, ikut aja! Sekarang harus ngikutin perintah chef!”
            “ Apaan ni? Aduhh, ibuuuu aku diculikkkk!”
Affa menarik tangan Alil dan membawanya masuk ke dalam restoran. Alil duduk di bangku paling depan, tempat dimana pertama kali Affa duduk saat menunggunya selesai masak. Affa pergi ke ruang ganti dan kembali dengan pakaian chef rapi yang biasa ia gunakan setiap hari. Affa mengambil peralatan memasaknya dan mulai mengeluarkan kemampuannya di dapur. Alil selalu terpesona melihat Affa jika sudah bermain di dapur. Sejam berlalu dan Alil dibuat tak mampu berkata-kata melihat apa yang Affa ciptakan untuknya.
            “ CHEF???? I…niii buaaatt aku?” Tanya Alil gagap.
Affa hanya mengangguk.
            “ Ahhhh~ aku gak tega makannya! Foto dulu foto dulu!” Alil mengeluarkan handphone dari tasnya tetapi Affa merebutnya.
            “ Serius, Lil!!Plis, jangan dianggap main-main!”
Alil sebenarnya sedang gerogi. Dia masih tidak menyangka kalau Affa akan membuatkannya strawberry lava cake dengan tulisan “I LOVE ALIL” dengan saus strawberry. Alil tersenyum dan mengangguk.
            “ Apa? Artinya aku aku gak ngerti!”
Alil mengambil piring dan saus strawberry di pantry, lalu ditulisnya jawaban yang membuat Affa langsung memeluknya erat.
“ I LOVE AFFA”.


0 comments:

Post a Comment