entah kenapa lagu DENTING ini membuatku kembali merindukan saat-saat dimana aku menyayangi seseorang hingga aku sangat merindukannya dengan mengeluarkan air mata. Rasa yang begitu hangat disaat aku pernah begitu mencintai seseorang. Merindukannya hingga aku merasa dunia sepi jika tidak ada dirinya. Merindukannya hingga aku bermusuhan dengan waktu. Merindukannya hingga tangisan menjadi cerita di setiap malamku. Merindukannya hingga telepon menjadi panas karena kami berbicara sampai pagi. Setiap pagi melihatnya ada di kampus, tersenyum menyambutku, menggenggam erat tanganku, tangan yang besar dan hangat. Aaahhh~ aku merindukan saat-saat ini.
Saat ini aku seperti pasrah dibawa waktu. Waktu dimana pernikahan menjadi sesuatu yang harus dijalani dan dengan orang yang tepat bukan dengan orang yang dicintai. Dengan seseorang yang mempunyai pekerjaan yang disukai oleh orangtuaku bukan dengan seseorang yang akan berjuang bersamaku. Aku seperti tidak bisa lagi merasa jatuh cinta. Terakhir saat itu dengan si capung. Iya terakhir aku merasakan cinta tanpa pemikiran logis dan dengan ketulusan hati yang benar-benar tulus tulus tulus. Seseorang yang tidak bisa bersamaku. Seseorang yang hanya bisa menjadi temanku. Seorang teman yang membawaku keluar malam jam 9 malam dimana diwaktu itu aku harus sudah dirumah. Dan itu atas izin mamak. Seseorang laki-laki yang bersamaku mengelilingi kota mataram sampai jam 10 malam. Dan seseorang yang menceritakan kisah masa kecilnya, masalah orangtuanya, seseorang yang melindungiku dari keramaian, seseorang yang kubawakan minyak kayu putih di pagi hari, Seseorang yang memainkan gitar untukku disaat masalah mamak dan bapak, seseorang yang menjadi tujuan bercerita disaat masalah orangtuaku. Seseorang yang mempunyai nasib yang sama denganku namun dia lebih tangguh daripadaku. Seseorang yang memberiku teh kotak saat tangisan akan keluar dari mataku, seseorang yang membuatku terobsesi. Membuatku berharap. Seseorang yang membuatku menyatakan perasaanku duluan. Iya aku terlalu terobsesi dengannya. Hingga saat ini aku sudah bisa melepaskan tentangnya dan mulai berhati-hati untuk membuka hati.
Penuh pertimbangan jika akan membuka hati saat ini. Umur 24 tahun, dan tahun depan 25 tahun. Sudah saatnya memikirkan masa depan. Menemukan pendamping dengan semua kriteria yang dunia sudah berlakukan secara umum. Namun aku ingin ditemukan dengan seseorang yang tanpa harus pacaran aku bisa menikah dengannya. Tanpa aku harus meminta dia sudah memberikan. Tanpa aku mengeluh dia sudah mengerti bagaimana keadaanku. Bukan seseorang yang memamerkan pekerjaannya bukan seseorang yang memerkan hatinya, bukan seseorang ... begitu banyak mau yah !!
Yang pasti harapanku hanya aku yang bisa temukan, aku ingin menikah dengan orang yang kucintai. Dengannya aku bisa jatuh cinta dan percaya cinta itu akan tumbuh lagi di hatiku yang sedang mati saat in.
Bolehkah aku jatuh cinta ?
bisakah ?
Siapkah aku jatuh cinta ?
Sendiri?
aku sedang dalam tahap bosan saat ini!!
Saat ini aku seperti pasrah dibawa waktu. Waktu dimana pernikahan menjadi sesuatu yang harus dijalani dan dengan orang yang tepat bukan dengan orang yang dicintai. Dengan seseorang yang mempunyai pekerjaan yang disukai oleh orangtuaku bukan dengan seseorang yang akan berjuang bersamaku. Aku seperti tidak bisa lagi merasa jatuh cinta. Terakhir saat itu dengan si capung. Iya terakhir aku merasakan cinta tanpa pemikiran logis dan dengan ketulusan hati yang benar-benar tulus tulus tulus. Seseorang yang tidak bisa bersamaku. Seseorang yang hanya bisa menjadi temanku. Seorang teman yang membawaku keluar malam jam 9 malam dimana diwaktu itu aku harus sudah dirumah. Dan itu atas izin mamak. Seseorang laki-laki yang bersamaku mengelilingi kota mataram sampai jam 10 malam. Dan seseorang yang menceritakan kisah masa kecilnya, masalah orangtuanya, seseorang yang melindungiku dari keramaian, seseorang yang kubawakan minyak kayu putih di pagi hari, Seseorang yang memainkan gitar untukku disaat masalah mamak dan bapak, seseorang yang menjadi tujuan bercerita disaat masalah orangtuaku. Seseorang yang mempunyai nasib yang sama denganku namun dia lebih tangguh daripadaku. Seseorang yang memberiku teh kotak saat tangisan akan keluar dari mataku, seseorang yang membuatku terobsesi. Membuatku berharap. Seseorang yang membuatku menyatakan perasaanku duluan. Iya aku terlalu terobsesi dengannya. Hingga saat ini aku sudah bisa melepaskan tentangnya dan mulai berhati-hati untuk membuka hati.
Penuh pertimbangan jika akan membuka hati saat ini. Umur 24 tahun, dan tahun depan 25 tahun. Sudah saatnya memikirkan masa depan. Menemukan pendamping dengan semua kriteria yang dunia sudah berlakukan secara umum. Namun aku ingin ditemukan dengan seseorang yang tanpa harus pacaran aku bisa menikah dengannya. Tanpa aku harus meminta dia sudah memberikan. Tanpa aku mengeluh dia sudah mengerti bagaimana keadaanku. Bukan seseorang yang memamerkan pekerjaannya bukan seseorang yang memerkan hatinya, bukan seseorang ... begitu banyak mau yah !!
Yang pasti harapanku hanya aku yang bisa temukan, aku ingin menikah dengan orang yang kucintai. Dengannya aku bisa jatuh cinta dan percaya cinta itu akan tumbuh lagi di hatiku yang sedang mati saat in.
Bolehkah aku jatuh cinta ?
bisakah ?
Siapkah aku jatuh cinta ?
Sendiri?
aku sedang dalam tahap bosan saat ini!!
0 comments:
Post a Comment