Thursday, May 5, 2016

Kebingungan yang diciptakan Kamis

Langkah demi langkah Ia telusuri. Kebingungan sedang melanda otaknya. Lantai dua telah dinaikinya. Diambilnya gadget dari dalam tas ransel mini berwarna coklat. Mencoba menelpon saudara perempuannya yang kini sedang berada dirumah temannya. Terlihat perempuan ini sedang kebingungan apa yang harus dilakukannya. Lalu Ia turun kembali, melewati bakery dan melihat wajah tak asing di dalam bakery tersebut. Seorang kawan lama yang bekerja di sana. Bertukar sapa sebentar lalu memutuskan masuk ke dalam coffeshop di sebelah bakery tempat kawannya bekerja.
" Hai kakak, mau pesen apa? kopi, cokelat atau teh?" tanya lelaki jangkung yang berdiri dibalik meja kasir.
" kopi aja!"
" Mau kopi apa kakak?"
" Vanilla Latte aja!"
" Mau pake gelas yang ini atau ini?" Tanyanya lagi seraya menunjukkan dua gelas plastik berukuran berbeda.
" yang itu aja!" jawab perempuan itu menunjuk gelas yang dipegang pada tangan kiri lelaki itu.
Lalu dikeluarkannya dompet coklatnya dari dalam tas dan membayar kopi tersebut.
Perempuan itu membalikkan badannya memilih kursi tempatnya duduk untuk menyendiri. Kursi pojok dekat dengan pintu masuk telah dipilihnya. Dikeluarkannya headset lalu disambungkannya ke gadget yang dibawanya. Laki-laki bertubuh semampai membawakan nampan berisi segelas kopi yang dipesannya.
" Terima kasih!" Ucapnya.

Ribuan jejak meninggalkan bekas. Dua pasang tangan bertemu dalam sebuah gedung pertunjukkan. Empat pasang mata bertemu menciptakan tawa. Perempuan ini duduk dikursi sofa pojok dengan segelas kopi dihadapannya. Memainkan gadget dengan tangan raksasanya. Sesekali matanya memperhatikan sekeliling, dilihatnya segerombolan perempuan dan lelaki berjalan melewati mejanya. Dilanjutkannya memperhatikan gadgetnya dengan membuka novel pdf yang telah didownloadnya. Seorang laki-laki berpakaian hitam dengan kacamata bertengger diatas hidungnya menghampiri.
" Ini password wi-finya mbak!"
" Oh ya, terimakasih!"
Lelaki itu kembali melakukan pekerjaannya dan Ia kembali larut dalam novel bahasa inggris yang didownloadnya.
Sesekali dilepasnya pandangan dari gadget tersebut, melihat pintu masuk berharap ada satu orang yang dikenalnya datang menghampiri sekedar bertukar sapa lalu duduk bersamanya. Namun hanya orang asing yang berlalu lalang menikmati long weekend yang cukup panjang di bulan Mei.

Difotonya segelas kopi berukuran maxx untuk diupload ke instagram dan dijadikan dp bbm. Penuh komentar yang masuk karena foto itu. Tentu saja salah satunya dari kawan lamanya yang bekerja di bakery samping coffeshop tempatnya duduk saat ini. Dibukanya aplikasi Line lalu mencoba bervideo call dengan kawannya di Surabaya. Mengobrol sebentar lalu terputus karena sinyal di kamar kos kawannya tidak cukup kuat untuk melakukan videocall. Dicobanya menghubungi adiknya yang kini berada di rumah temannya, perempuan itupun berbicara sebentar dengan teman-teman adiknya. Ditutupnya lalu kembali larut dalam novel yang dibacanya.

Kebosanan perlahan menghampiri dan kopi yang dipesannya sudah berada digaris tengah. Ia menutup novelnya lalu menghubungi kawannya di Dompu. Ia berbicara cukup lama dengan kawannya. Apa yang orang-orang pikir tentang perempuan yang berbicara menggunakan headset, tertawa, menggerakkan tangan seolah ada seseorang di depannya, lalu tenang layaknya tak ada apa-apa. Ditutupnya telpon tersebut lalu duduk tenang kembali, menyeruput kopi yang tinggal setengah gelas. Membuka bbm dan membalas bbm-bbm yang tadi tak terhiraukan. Membuka game hay day-nya. Kopi sudah berada di seperempat gelas, Ia merapikan mejanya yang berantakan dengan tisu dan sisa-sisa air yang mengembun karena ice coffenya. Dipakainya tas ransel coklat kecil yang dibawanya, lalu pergi dengan meninggalkan senyum pada lelaki jangkung yang melayaninya saat memesan. Menoleh ke arah bakery tempat kawan lamanya bekerja lalu meninggalkan tanya pada teman kerja kawan lamanya.
" Adit sudah pulang?"
Lelaki itu menggeleng tanda adit belum pulang. Ia melanjutkan perjalanannya menuruni tangga dan menuju parkiran yang sangat panas. Ditemuinya sepasang kekasih yang meninggalkan tawa pada pintu masuk, gerombolan keluarga yang meninggalkan jejak pada anak-anak tangga tersebut, dan dua orang satpam di depan pintu masuk yang meninggalkan cerita pada tempat yang begitu ramai tersebut.

Perempuan itu kembali ke rumahnya. Melemparkan dirinya pada tempat tidur empuknya. Lelah di tubuhnya begitu terasa saat tiba di rumah. Dia mencoba tidur, namun pikirannya masih saja penuh dengan pikiran aneh yang beberapa hari ini menghinggap di otaknya. Dibukanya kembali game hay day-nya dan tiba-tiba saja matanya tertutup dan Ia terlelap dalam tidur yang tidak Ia rencanakan.

Ini kisah perempuan yang sedang mengalami kebosanan dengan kesendiriannya. Perempuan yang bosan dengan perhatian yang diberikan oleh seseorang yang dulu pernah disukainya namun kini tidak lagi, perhatian yang sangat terlambat, orang yang dulu tidak menyukainya dan meninggalkannya, lalu kini kembali menanyakan kabar dan berusaha bertemu lagi dengannya. Perempuan yang illfeel dengan seseorang yang belakangan ini menghubunginya lalu menyuruhnya menjemputnya karena motornya sedang di bengkel. Perempuan yang kesal dengan seseorang yang menganggap remeh apa yang ditulisnya. Perempuan yang sangat tidak menyukai tulisannya tidak dihargai dan dianggap berlebihan. Perempuan yang marah dengan keadaan yang Ia hadapi. Perempuan yang berusaha kuat. Perempuan yang selalu berusaha mencari bahagia dengan dirinya sendiri.


Wednesday, May 4, 2016

RABU MALAM

Hawa dingin yang meresap masuk ke dalam tubuh seorang perempuan.
Ditelusurinya jalanan yang dipenuhi kubangan air.
Dengan senyum yang tercipta dari bibir merahnya dan wajah yang sudah tersentuh dengan bedak iya mengatakan "Tidak apa-apa"
Dalam hatinya sebenarnya sudah mengetahui hal ini akan terjadi.
Ada masa dimana kata hatimu lebih kuat daripada harapan konyolmu.
Hujan membawa peristiwa itu larut dengan mengkikisnya perlahan.
Dihitungnya langkah demi langkah, setitik air jatuh di tangan mungilnya lalu Ia berkata "Seperti inikah takdir, Ia akan jatuh tepat di genggamanmu?"
Ditelusurinya hati yang tadi terancang rapi lalu tiba-tiba menjadi tak menentu ujungnya seperti labirin yang membuat manusia sulit menemukan jalan keluar.
Ada apa dengan perempuan ini?
Ada hal yang membuat tangannya begitu dingin, hidupnya seperti bom, wajahnya seperti pelangi. Melengkung, berwarna, dan memiliki nafas disetiap detakannya.
Hujan membawa angin bersamanya. Ia terbang dan kembali mempertanyakan untuk memastikan ketakutannya sudah terbukti saat ini.
Ada hal yang membuat hujan menghentikan langkahnya.
Ada hal yang harus Ia mengerti.
Ada hal yang harus Ia Terima.
Hal yang membuat tangannya kembali menghangat seperti kehidupan kembali masuk ke dalam ujung jantungnya.

Monday, May 2, 2016

Janji Hujan Pada Rabu Malam

Janji yang tercipta antara langit dan hujan pada Rabu Malam.
Hujan akan membawakan pelangi untuknya.
Langit mengharapkan pelangi yang ia sendiri tak tahu pelangi akan datang atau tidak.
Itu membuatnya takut.
Takut jika Rabu tidak membawakan pelangi untuknya.
Harapan yang terlalu difikirkannya itu membuatnya takut.
Takut jika angannya hanya sebatas asap rokok yang mengepul di udara lalu wuuusss hilang dibawa angin.
Takut jika janji itu hanya sekedar angin yang menggelitik tubuhnya lalu hilang begitu saja.
Sepi.
Bahkan suara nafas pohon tempatnya menunggu tak terdengar.
Suara para kawanan jangkrik yang bermain di ranting-ranting itu juga tak terdengar.
Apa yang akan dilakukannya ketika semuanya terjadi?
Jika angan hanya sebatas angan?
Mungkin saja ia akan memaki dalam hati.
Mungkin saja ia akan menggambar senyum yang tak bisa dilihat hujan karena hujan membuatnya luruh.
Mungkin saja ia akan mengasihani dirinya sendiri karenan membentuk gumpalan angan yang seharusnya ia sadari dari awal itu tidak akan pernah terjadi.
Langit sangat takut.
Ia sangat takut.
Ia sudah berusaha tidak menggambar gumpalan angan itu namun tetap tak bisa.
Karena ini pertama.
Pertama kali ia akan dibawakan pelangi oleh hujan.
Setelah beribu-ribu purnama berlalu.
Kisah kelamnya saat matahari menggambarkan pelangi untuknya.
Lalu perlahan purnama mengkikis setiap lapisan warna pelangi itu hingga awan hitam mengepul di hidupnya.
Hidupnya kelam.
Seketika titik cahaya terbuka dari celah-celah ujung jantungnya, namun tertutup lagi oleh kepulan awan hitam itu.
Mau bagaimana lagi?
Angan yang tercipta tidak selalu membawakannya warna yang membentuk lapisan warna yang ia sebut pelangi itu.
Oleh karena itu, saat ini ia sangat takut menghadapi jika kenyataan esok hujan lupa atau tidak jadi membawakannya pelangi yang dapat menghilangkan awan hitam dari setiap bagian jantungnya.


Ellya S.N - 14:24



Tanpa Judul 10:44





Ada sepotong kisah yang kau khawatirkan layaknya sisa potongan roti yang hilang sedangkan kau akan membaginya pada adik-adikmu.
Ada resah yang tertinggal dalam ujung otakmu.
Resah yang membuat matahari pagi terasa lebih panas daripada goresan besi panas yang menguliti telapak tanganmu.
Adakah celah untuk kenyamanan hadir diantara keresahan itu ?
Terlalu kecil seperti lubang semut yang tak tampak ketika kau tidak menatapnya lebih dekat.
Anginpun menerbangkanmu sampai ke awan.
membawamu lebih atas lebih atas lagi.
Apa yang kau temukan?
Apakah hanya gumpalan putih yang melayang-layang atau seseorang yang berdiri menunggumu di balik pelangi?
Menunggumu dengan penuh tawa dan cerita.