Janji yang tercipta antara langit dan hujan pada Rabu Malam.
Hujan akan membawakan pelangi untuknya.
Langit mengharapkan pelangi yang ia sendiri tak tahu pelangi akan datang atau tidak.
Itu membuatnya takut.
Takut jika Rabu tidak membawakan pelangi untuknya.
Harapan yang terlalu difikirkannya itu membuatnya takut.
Takut jika angannya hanya sebatas asap rokok yang mengepul di udara lalu wuuusss hilang dibawa angin.
Takut jika janji itu hanya sekedar angin yang menggelitik tubuhnya lalu hilang begitu saja.
Sepi.
Bahkan suara nafas pohon tempatnya menunggu tak terdengar.
Suara para kawanan jangkrik yang bermain di ranting-ranting itu juga tak terdengar.
Apa yang akan dilakukannya ketika semuanya terjadi?
Jika angan hanya sebatas angan?
Mungkin saja ia akan memaki dalam hati.
Mungkin saja ia akan menggambar senyum yang tak bisa dilihat hujan karena hujan membuatnya luruh.
Mungkin saja ia akan mengasihani dirinya sendiri karenan membentuk gumpalan angan yang seharusnya ia sadari dari awal itu tidak akan pernah terjadi.
Langit sangat takut.
Ia sangat takut.
Ia sudah berusaha tidak menggambar gumpalan angan itu namun tetap tak bisa.
Karena ini pertama.
Pertama kali ia akan dibawakan pelangi oleh hujan.
Setelah beribu-ribu purnama berlalu.
Kisah kelamnya saat matahari menggambarkan pelangi untuknya.
Lalu perlahan purnama mengkikis setiap lapisan warna pelangi itu hingga awan hitam mengepul di hidupnya.
Hidupnya kelam.
Seketika titik cahaya terbuka dari celah-celah ujung jantungnya, namun tertutup lagi oleh kepulan awan hitam itu.
Mau bagaimana lagi?
Angan yang tercipta tidak selalu membawakannya warna yang membentuk lapisan warna yang ia sebut pelangi itu.
Oleh karena itu, saat ini ia sangat takut menghadapi jika kenyataan esok hujan lupa atau tidak jadi membawakannya pelangi yang dapat menghilangkan awan hitam dari setiap bagian jantungnya.
Ellya S.N - 14:24
0 comments:
Post a Comment