Cahaya kuning yang menerobos masuk melalui
celah-celah jendela kamar mulai memberikan aroma pagi yang begitu cerah hari
ini. Mataku terbuka melihat seorang laki-laki dengan mata bulat yang sayu
menatap hangat ke arahku, seraya memelukku dan meluncurkan ciuman hangat ke
keningku.
“Assalamualaikum!” Ucapnya.
Aku masih belum bisa mempercayai ini. Dia adalah teman sekelas saat aku masih duduk di bangku SMA. Namanya Jody. Seorang laki-laki bertubuh mungil, dengan mata bulat nan sayu namun sangat tajam itu telah banyak merubah duniaku. Berawal dari buku bahasa inggris milik-ku yang Ia pinjam saat pelajaran bahasa inggris. Sejak hari itu aku mulai memperhatikannya. Menatapnya dari kejauhan, tersenyum ketika melihat wajahnya membentuk senyuman, dan kesal ketika tingkah jahilnya muncul. Entah kenapa aku bisa jatuh cinta dengan lelaki seperti itu. Setiap hari seisi kelas kesal dibuatnya. Dia sosok lelaki yang sangat jahil kepada teman-teman wanitanya, terutama aku. Aku tidak pernah bisa marah kepadanya, karena memang aku bukan tipe wanita emosional.
“Assalamualaikum!” Ucapnya.
Aku masih belum bisa mempercayai ini. Dia adalah teman sekelas saat aku masih duduk di bangku SMA. Namanya Jody. Seorang laki-laki bertubuh mungil, dengan mata bulat nan sayu namun sangat tajam itu telah banyak merubah duniaku. Berawal dari buku bahasa inggris milik-ku yang Ia pinjam saat pelajaran bahasa inggris. Sejak hari itu aku mulai memperhatikannya. Menatapnya dari kejauhan, tersenyum ketika melihat wajahnya membentuk senyuman, dan kesal ketika tingkah jahilnya muncul. Entah kenapa aku bisa jatuh cinta dengan lelaki seperti itu. Setiap hari seisi kelas kesal dibuatnya. Dia sosok lelaki yang sangat jahil kepada teman-teman wanitanya, terutama aku. Aku tidak pernah bisa marah kepadanya, karena memang aku bukan tipe wanita emosional.
Aku dan dia mulai beranjak dari
tempat tidur. Sebenarnya enggan rasanya untuk beranjak dari tempat itu, aku
masih ingin lebih lama bersamanya. Dia memberikanku koper besar yang baru saja
Ia turunkan dari atas lemari. Aku pun memilihkan pakaian dan beberapa
barang-barang yang akan Ia bawa hari itu.
“ Sweater ini aku masukkan koper ya, atau dipake aja?” Tanyaku
“ Dimasukkin aja, aku pake jas aja!”
“Oke!”
Setelah semuanya sudah siap, kami sarapan bersama dan mulai berangkat ke bandara. Aku mengingat bandara ini. Bandara ini menjadi saksi kisah kami berdua. Ini adalah kepergiannya yang kesekian kali yang membuat hatiku merasa sedih sehingga mataku yang Ia katakan seperti langitnya menurunkan hujan lagi. Kepergian pertamanya saat Ia akan melanjutkan kuliah di Malang. Saat itu hubungan kami sudah berakhir. Semua janji-janji yang pernah Ia ucapkan hanya sekedar omong kosong belaka. Dia adalah lelaki yang berkali-kali menggores luka di hati ku.
“ Aku berangkat!” Kata Jody
“ Iya, hati-hati kacang!” Jawabku
Dia sering memanggilku kacang. Itu adalah panggilan sayang kami berdua. Berawal dari dia yang sering membuat aku merasa di kacangi. Karena itu aku memanggilnya dengan sebutan “kacang”.
“ Sweater ini aku masukkan koper ya, atau dipake aja?” Tanyaku
“ Dimasukkin aja, aku pake jas aja!”
“Oke!”
Setelah semuanya sudah siap, kami sarapan bersama dan mulai berangkat ke bandara. Aku mengingat bandara ini. Bandara ini menjadi saksi kisah kami berdua. Ini adalah kepergiannya yang kesekian kali yang membuat hatiku merasa sedih sehingga mataku yang Ia katakan seperti langitnya menurunkan hujan lagi. Kepergian pertamanya saat Ia akan melanjutkan kuliah di Malang. Saat itu hubungan kami sudah berakhir. Semua janji-janji yang pernah Ia ucapkan hanya sekedar omong kosong belaka. Dia adalah lelaki yang berkali-kali menggores luka di hati ku.
“ Aku berangkat!” Kata Jody
“ Iya, hati-hati kacang!” Jawabku
Dia sering memanggilku kacang. Itu adalah panggilan sayang kami berdua. Berawal dari dia yang sering membuat aku merasa di kacangi. Karena itu aku memanggilnya dengan sebutan “kacang”.
Dia berjalan begitu saja meninggalkanku.
Namun, tiba-tiba dia berbalik arah dan kembali menuju ke arahku. Dia memelukku
erat. Dia selalu seperti itu, bertingkah cuek tapi berubah menjadi sosok yang
romantis.
“Maaf
aku harus meninggalkanmu lagi setelah apa yang sudah kamu berikan padaku!” Bisiknya
lirih saat aku berada dalam dekapannya.
Aku
hanya mengangguk, tanda tidak mampu berkata apa-apa lagi.
“ Aku sayang kamu, kacang! Jaga diri
selama aku gak ada, aku akan kembali” Sambungnya seraya mengecup keningku
dengan hangat.
Dia
pun pergi. Pergi dengan janji. Lagi!
Aku pulang ke rumah merapikan sisa-sisa
kenangan yang tertinggal. Baru saja semalam kami berdampingan saling mengingat
kenangan saat SMA dulu. Dulu, saat belum pacaran, dia pernah mengantarku pulang
saat hujan deras. Punggung kecilnya mampu membuatku terasa terlindungi.
“Pake
jaketnya!”Perintahku saat itu.
“Masa iya aku pake jaket kamu gak! Aku mau ngerasain dingin yang sama!”
“Masa iya aku pake jaket kamu gak! Aku mau ngerasain dingin yang sama!”
Jawabannya
saat itu membuat aku benar-benar jatuh cinta. Entah itu hanya gombalan semata
atau bukan, tapi aku benar-benar tersentuh dengan kata-katanya. Oh hujan,
terima kasih telah menjadi teman yang baik saat itu.
Mengingat saat-saat itu bersamanya sudah
menjadi suatu kebiasaan yang rutin kulakukan setiap aku merindukannya. Aku
mengambil kotak besar yang kuletakkan di rak buku paling atas. Disanalah aku
menyimpan rindu, menyimpan memori bersamanya. Aku menemukan buku diary kecil
kuning yang terletak di bawah album foto. Aku seolah kembali pada masa dimana
cahaya lampu bianglala berwarna-warni menyambut kehadiran kami. Aku menaiki
bianglala bersamanya. Itu adalah hal paling memalukan dan romantis yang dia
lakukan untukku. Dia mau karena aku memintanya. Bianglala terang berputar
tinggi ke arah langit. Merasakan hangat genggaman tangan dan tatapan mata yang
begitu tajam dari mata bulatnya yang sayu. Aku merindukanmu, Jody.
****
Pagi ini bulan ketiga dia
meninggalkanku. Aku merasa tidak sehat, sejak seminggu yang lalu setiap pagi
aku merasa mual, aku sering merasa lelah, dan nafsu makanku meningkat. Mungkin
karena aku terlalu lelah bekerja. Setiap pulang kerja, yang aku lakukan hanya
merapikan rumah, menonton TV, dan
mengenang masa-masa saat aku bersama Jody. Aku sering bermimpi saat bersamanya.
Dan dia selalu mewujudkan mimpi itu. Setiap aku sedih Jody selalu berkata
“SMARA”, semangat Ria. Itu adalah semboyan yang aku gunakan sampai saat ini.
Mempersiapkan pakaian dan beberapa barang
yang akan aku bawa ke rumah ibu, aku akan menginap di sana selama beberapa
hari. Tiba-tiba alarm jadwal datang bulan-ku berbunyi. Aku membukanya dan
betapa terkejutnya aku. Sudah tiga bulan aku tidak pernah datang bulan.
Tiba-tiba kepanikan merayapi setiap sel tubuhku. Setelah merapikan semua
barang-barangku, aku langsung berangkat ke rumah ibu. Aku mampir ke sebuah
apotik di pinggir jalan dekat dengan rumah sakit yang tidak jauh dari rumah
ibu.
Dua garis merah terjejer rapi
menghiasi alat panjang tipis yang sedang aku pegang saat ini. Tanganku gemetar.
Tubuhku tiba-tiba keringat dingin. Aku bahagia namun di satu sisi aku sangat sedih.
Apa yang akan ku katakan pada ibu dan bagaimana cara memberitahu Jody yang saat
ini sangat sibuk dengan pekerjaannya. Aku membutuhkanmu, Jody.
Situasi ini mengingatkanku pada kejadian 3
tahun lalu, saat aku dan Jody bukan
sepasang kekasih lagi. Jody sudah mempunyai pacar lain, Nora. Aku melihat
bagaimana Jody yang dewasa saat bersamanya. Jody yang setia, bukan Jody yang
playboy saat bersamaku dulu. Nora sangat mencintai Jody. Karena kebodohanku,
aku membuat diriku malu dengan menghubungi Jody saat tanggal kami jadian
pertama kali dan sms itu dibaca Nora. Aku merasa seperti ditampar keras oleh
jawaban sms Nora. Betapa tidak tahu malunya wanita seperti aku yang
mengharapkan pacar orang lain. Aku butuh ibu saat itu, namun aku tidak tahu apa
yang harus kukatakan pada ibu. Kegundahan ini yang aku rasakan saat ini. Ibu
mungkin akan langsung panik dan tekanan darahnya bisa meningkat karena ulahku. Bagaimana
mungkin aku memberitahu Jody yang lagi sibuk dengan pekerjaan yang benar-benar
Ia cintai saat ini. Walaupun aku ingin. Tetapi aku tidak ingin menjadi wanita
yang tidak tahu malu lagi. Tapi, ini semua karena Jody. Jody harus tahu. Ini
tanggung jawab Jody.
Aku termenung duduk di teras
mendengarkan lagu aku dan Jody. Tompi- Aku jatuh cinta. Aku meresapi lirik demi
lirik yang Tompi nyanyikan.
Hari
ini aku telah jatuh cinta..
Takkan mampu aku menyangkalnya
Takkan mampu aku menyangkalnya
Jatuh
cinta kepadamu
Sosok
yang sering menjengkelkan aku
Sering
menggangguku
Kau
permainkan rasa hatiku..
Sampai
saat usia 26 tahun ini pun dia masih sosok yang menjengkelkan dan masih sering
mempermainkan hatiku.
Pagi ini hujan turun dengan lebatnya. Rasa
dingin yang begitu menusuk hingga tulangku terasa nyeri membawaku kembali ke
memori tujuh tahun lalu. Hujan di Rabu pagi saat masih SMA, seorang laki-laki
yang baru masuk kelas membawa tas ransel dipunggungnya dengan aroma parfum yang
sangat khas memberikan senyuman terbaiknya kepada aku. Dia mampir ke bangku-ku
dan meletakkan potongan kertas lalu dengan gaya acuh pergi menuju bangkunya.
Aku membuka kertas yang Ia letakkan itu. Dan betapa terkejutnya aku saat
membacanya.
“I LOVE YOU”
“I LOVE YOU”
Seperti
ada kembang api meledak-ledak di atas kepalaku. Berwarna-warni seperti pelangi
setelah hujan pergi. Bagaimana bisa aku tidak sangat mencintai lelaki itu. Iya,
dia adalah Jody. Ahhh Jody, aku merindukanmu.
Bersama Jody aku menjadi pemimpi.
Namun dengan Jody pula mimpi itu menjadi nyata. Pagi ini ketika aku akan masuk
ke dalam rumah, ada taxi yang berhenti di depan gerbang rumah. Aku melihat
sosok lelaki keluar dari taxi dan membuka payung biru yang sangat aku kenal
itu. Lihatlah, Jody ada di depanku saat aku benar-benar merasa membutuhkannya.
“
Maafkan aku yang terlalu lama pergi! Aku sangat merindukanmu, kacang!” Katanya seraya
memelukku erat.
Tidakkah
dia tahu aku juga sangat merindukan suamiku yang sering pulang-pergi dalam
jangka waktu yang lama. Dia pergi karena pekerjaan, bukan karena keinginannya.
Kami masih sering tidak menyangka kalau saat ini kami sudah menikah. Bagaimana
tidak, dulu aku sudah mempunyai seseorang yang akan menjadi suamiku dan dia
juga mempunyai Nora. Tetapi, karena perusahaan tempatnya bekerja sering memesan
jarcake di toko kue-ku, kami sering bertemu satu sama lain. Namun entah
keyakinan datangnya dari mana, tiba-tiba dia mencariku dan mengajakku menikah.
Saat itu aku bimbang. Di waktu yang sama aku sedang merencanakan pernikahan
dengan orang lain. Namun, karena keyakinan yang sudah ditunjukkan oleh Allah,
aku memilihnya. Dia mimpiku, dia langitku, dan dia imamku saat ini. Tentunya
aku sangat bahagia bersamanya.
“
Gak apa-apa sayang, aku gak kangen tuh, kamu kelamaan sih perginya,hahahha… nih
baby kecil yang macih dalem pelut yang kangen!” Jawabku seraya melepas pelukan
Jody dan menunjuk perut yang sekarang sudah diisi oleh titipan Allah.
Jody
terkejut mendengar kabar bahagia itu. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Aku
melihat langitku sekarang sedang turun hujan. Dia memelukku erat kembali.
“ Maafkan aku, sayang!”
Aku hanya tersenyum. Lalu dia mengajakku masuk ke ruang tamu dan menyuruhku duduk di kursi.
Aku hanya tersenyum. Lalu dia mengajakku masuk ke ruang tamu dan menyuruhku duduk di kursi.
“ Maafkan ayah ya sayang, ayah gak
tahu kamu ada. Maaf ayah gak tahu perkembangan kamu selama ini. Ayah janji,
kalau anak ayah tumbuh sehat dan sudah bisa ngeliat ayah, kamu boleh cubit ayah
sepuas hatimu! Tapi nyubitnya jangan seperti ibu ya, ayah nyerah kalo kamu
nyubit seperti ibu. Jangan jadi anak yang suka dikacangin seperti ibu ya, Nak!”
Jawabnya sambil tersenyum penuh arti.
Sontak
aku tertawa dibuatnya. Jody, Jody, oh Jody dia memang selalu seperti itu.
Menghadirkan tawa disela kesedihan. Karena itu dia adalah pelangiku. Pelangi
yang ada di langit-ku. Pelangi yang selalu ada kisah disetiap lapisan warnanya.
Pelangi yang dulu diam-diam kuharapkan selama bertahun-tahun, yang selalu
kusimpan rapi di dalam gudang pelangi yang aku punya. Dia selalu muncul di saat
hujan sudah reda. Dia selalu menghadirkan keindahan setelah kesedihan. Kapanpun,
dimanapun Ia berada aku selalu merindukan hadirnya. Seperti tanah kering yang
rindu akan hujan, seperti langit yang rindu dihiasi oleh pelangi, begitulah aku
merindukanmu, Jody. Aku sangat merindukanmu, Jody. Selalu.
***
0 comments:
Post a Comment