Tuesday, January 26, 2016

Aku Merindukanmu, Jody

Cahaya kuning yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar mulai memberikan aroma pagi yang begitu cerah hari ini. Mataku terbuka melihat seorang laki-laki dengan mata bulat yang sayu menatap hangat ke arahku, seraya memelukku dan meluncurkan ciuman hangat ke keningku.
            “Assalamualaikum!” Ucapnya.
Aku masih belum bisa mempercayai ini. Dia adalah teman sekelas saat aku masih duduk di bangku SMA. Namanya Jody. Seorang laki-laki bertubuh mungil, dengan mata bulat nan sayu namun sangat tajam itu telah banyak merubah duniaku. Berawal dari buku bahasa inggris milik-ku yang Ia pinjam saat pelajaran bahasa inggris. Sejak hari itu aku mulai memperhatikannya. Menatapnya dari kejauhan, tersenyum ketika melihat wajahnya membentuk senyuman, dan kesal ketika tingkah jahilnya muncul. Entah kenapa aku bisa jatuh cinta dengan lelaki seperti itu. Setiap hari seisi kelas kesal dibuatnya. Dia sosok lelaki yang sangat jahil kepada teman-teman wanitanya, terutama aku. Aku tidak pernah bisa marah kepadanya, karena memang aku bukan tipe wanita emosional.
            Aku dan dia mulai beranjak dari tempat tidur. Sebenarnya enggan rasanya untuk beranjak dari tempat itu, aku masih ingin lebih lama bersamanya. Dia memberikanku koper besar yang baru saja Ia turunkan dari atas lemari. Aku pun memilihkan pakaian dan beberapa barang-barang yang akan Ia bawa hari itu.
            “ Sweater ini aku masukkan koper ya, atau dipake aja?” Tanyaku
            “ Dimasukkin aja, aku pake jas aja!”
            “Oke!”
Setelah semuanya sudah siap, kami sarapan bersama dan mulai berangkat ke bandara. Aku mengingat bandara ini. Bandara ini menjadi saksi kisah kami berdua. Ini adalah kepergiannya yang kesekian kali yang membuat hatiku merasa sedih sehingga mataku yang Ia katakan seperti langitnya menurunkan hujan lagi. Kepergian pertamanya saat Ia akan melanjutkan kuliah di Malang. Saat itu hubungan kami sudah berakhir. Semua janji-janji yang pernah Ia ucapkan hanya sekedar omong kosong belaka. Dia adalah lelaki yang berkali-kali menggores luka di hati ku.
            “ Aku berangkat!” Kata Jody
            “ Iya, hati-hati kacang!” Jawabku
Dia sering memanggilku kacang. Itu adalah panggilan sayang kami berdua. Berawal dari dia yang sering membuat aku merasa di kacangi. Karena itu aku memanggilnya dengan sebutan “kacang”.
Dia berjalan begitu saja meninggalkanku. Namun, tiba-tiba dia berbalik arah dan kembali menuju ke arahku. Dia memelukku erat. Dia selalu seperti itu, bertingkah cuek tapi berubah menjadi sosok yang romantis.
“Maaf aku harus meninggalkanmu lagi setelah apa yang sudah kamu berikan padaku!” Bisiknya lirih saat aku berada dalam dekapannya.
Aku hanya mengangguk, tanda tidak mampu berkata apa-apa lagi.
            “ Aku sayang kamu, kacang! Jaga diri selama aku gak ada, aku akan kembali” Sambungnya seraya mengecup keningku dengan hangat.
Dia pun pergi. Pergi dengan janji. Lagi!
Aku pulang ke rumah merapikan sisa-sisa kenangan yang tertinggal. Baru saja semalam kami berdampingan saling mengingat kenangan saat SMA dulu. Dulu, saat belum pacaran, dia pernah mengantarku pulang saat hujan deras. Punggung kecilnya mampu membuatku terasa terlindungi.
“Pake jaketnya!”Perintahku saat itu.
“Masa iya aku pake jaket kamu gak! Aku mau ngerasain dingin yang sama!”
Jawabannya saat itu membuat aku benar-benar jatuh cinta. Entah itu hanya gombalan semata atau bukan, tapi aku benar-benar tersentuh dengan kata-katanya. Oh hujan, terima kasih telah menjadi teman yang baik saat itu.
Mengingat saat-saat itu bersamanya sudah menjadi suatu kebiasaan yang rutin kulakukan setiap aku merindukannya. Aku mengambil kotak besar yang kuletakkan di rak buku paling atas. Disanalah aku menyimpan rindu, menyimpan memori bersamanya. Aku menemukan buku diary kecil kuning yang terletak di bawah album foto. Aku seolah kembali pada masa dimana cahaya lampu bianglala berwarna-warni menyambut kehadiran kami. Aku menaiki bianglala bersamanya. Itu adalah hal paling memalukan dan romantis yang dia lakukan untukku. Dia mau karena aku memintanya. Bianglala terang berputar tinggi ke arah langit. Merasakan hangat genggaman tangan dan tatapan mata yang begitu tajam dari mata bulatnya yang sayu. Aku merindukanmu, Jody.
****
            Pagi ini bulan ketiga dia meninggalkanku. Aku merasa tidak sehat, sejak seminggu yang lalu setiap pagi aku merasa mual, aku sering merasa lelah, dan nafsu makanku meningkat. Mungkin karena aku terlalu lelah bekerja. Setiap pulang kerja, yang aku lakukan hanya merapikan rumah, menonton TV,  dan mengenang masa-masa saat aku bersama Jody. Aku sering bermimpi saat bersamanya. Dan dia selalu mewujudkan mimpi itu. Setiap aku sedih Jody selalu berkata “SMARA”, semangat Ria. Itu adalah semboyan yang aku gunakan sampai saat ini.
Mempersiapkan pakaian dan beberapa barang yang akan aku bawa ke rumah ibu, aku akan menginap di sana selama beberapa hari. Tiba-tiba alarm jadwal datang bulan-ku berbunyi. Aku membukanya dan betapa terkejutnya aku. Sudah tiga bulan aku tidak pernah datang bulan. Tiba-tiba kepanikan merayapi setiap sel tubuhku. Setelah merapikan semua barang-barangku, aku langsung berangkat ke rumah ibu. Aku mampir ke sebuah apotik di pinggir jalan dekat dengan rumah sakit yang tidak jauh dari rumah ibu.
            Dua garis merah terjejer rapi menghiasi alat panjang tipis yang sedang aku pegang saat ini. Tanganku gemetar. Tubuhku tiba-tiba keringat dingin. Aku bahagia namun di satu sisi aku sangat sedih. Apa yang akan ku katakan pada ibu dan bagaimana cara memberitahu Jody yang saat ini sangat sibuk dengan pekerjaannya. Aku membutuhkanmu, Jody.
Situasi ini mengingatkanku pada kejadian 3 tahun lalu,  saat aku dan Jody bukan sepasang kekasih lagi. Jody sudah mempunyai pacar lain, Nora. Aku melihat bagaimana Jody yang dewasa saat bersamanya. Jody yang setia, bukan Jody yang playboy saat bersamaku dulu. Nora sangat mencintai Jody. Karena kebodohanku, aku membuat diriku malu dengan menghubungi Jody saat tanggal kami jadian pertama kali dan sms itu dibaca Nora. Aku merasa seperti ditampar keras oleh jawaban sms Nora. Betapa tidak tahu malunya wanita seperti aku yang mengharapkan pacar orang lain. Aku butuh ibu saat itu, namun aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada ibu. Kegundahan ini yang aku rasakan saat ini. Ibu mungkin akan langsung panik dan tekanan darahnya bisa meningkat karena ulahku. Bagaimana mungkin aku memberitahu Jody yang lagi sibuk dengan pekerjaan yang benar-benar Ia cintai saat ini. Walaupun aku ingin. Tetapi aku tidak ingin menjadi wanita yang tidak tahu malu lagi. Tapi, ini semua karena Jody. Jody harus tahu. Ini tanggung jawab Jody.
            Aku termenung duduk di teras mendengarkan lagu aku dan Jody. Tompi- Aku jatuh cinta. Aku meresapi lirik demi lirik yang Tompi nyanyikan.
Hari ini aku telah jatuh cinta..
 Takkan mampu aku menyangkalnya
Jatuh cinta kepadamu
Sosok yang sering menjengkelkan aku
Sering menggangguku
Kau permainkan rasa hatiku..
Sampai saat usia 26 tahun ini pun dia masih sosok yang menjengkelkan dan masih sering mempermainkan hatiku.
Pagi ini hujan turun dengan lebatnya. Rasa dingin yang begitu menusuk hingga tulangku terasa nyeri membawaku kembali ke memori tujuh tahun lalu. Hujan di Rabu pagi saat masih SMA, seorang laki-laki yang baru masuk kelas membawa tas ransel dipunggungnya dengan aroma parfum yang sangat khas memberikan senyuman terbaiknya kepada aku. Dia mampir ke bangku-ku dan meletakkan potongan kertas lalu dengan gaya acuh pergi menuju bangkunya. Aku membuka kertas yang Ia letakkan itu. Dan betapa terkejutnya aku saat membacanya.
“I LOVE YOU”
Seperti ada kembang api meledak-ledak di atas kepalaku. Berwarna-warni seperti pelangi setelah hujan pergi. Bagaimana bisa aku tidak sangat mencintai lelaki itu. Iya, dia adalah Jody. Ahhh Jody, aku merindukanmu.
            Bersama Jody aku menjadi pemimpi. Namun dengan Jody pula mimpi itu menjadi nyata. Pagi ini ketika aku akan masuk ke dalam rumah, ada taxi yang berhenti di depan gerbang rumah. Aku melihat sosok lelaki keluar dari taxi dan membuka payung biru yang sangat aku kenal itu. Lihatlah, Jody ada di depanku saat aku benar-benar merasa membutuhkannya.
“ Maafkan aku yang terlalu lama pergi! Aku sangat merindukanmu, kacang!” Katanya seraya memelukku erat.
Tidakkah dia tahu aku juga sangat merindukan suamiku yang sering pulang-pergi dalam jangka waktu yang lama. Dia pergi karena pekerjaan, bukan karena keinginannya. Kami masih sering tidak menyangka kalau saat ini kami sudah menikah. Bagaimana tidak, dulu aku sudah mempunyai seseorang yang akan menjadi suamiku dan dia juga mempunyai Nora. Tetapi, karena perusahaan tempatnya bekerja sering memesan jarcake di toko kue-ku, kami sering bertemu satu sama lain. Namun entah keyakinan datangnya dari mana, tiba-tiba dia mencariku dan mengajakku menikah. Saat itu aku bimbang. Di waktu yang sama aku sedang merencanakan pernikahan dengan orang lain. Namun, karena keyakinan yang sudah ditunjukkan oleh Allah, aku memilihnya. Dia mimpiku, dia langitku, dan dia imamku saat ini. Tentunya aku sangat bahagia bersamanya.
“ Gak apa-apa sayang, aku gak kangen tuh, kamu kelamaan sih perginya,hahahha… nih baby kecil yang macih dalem pelut yang kangen!” Jawabku seraya melepas pelukan Jody dan menunjuk perut yang sekarang sudah diisi oleh titipan Allah.
Jody terkejut mendengar kabar bahagia itu. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Aku melihat langitku sekarang sedang turun hujan. Dia memelukku erat kembali.
            “ Maafkan aku, sayang!”
Aku hanya tersenyum. Lalu dia mengajakku masuk ke ruang tamu dan menyuruhku duduk di kursi.
            “ Maafkan ayah ya sayang, ayah gak tahu kamu ada. Maaf ayah gak tahu perkembangan kamu selama ini. Ayah janji, kalau anak ayah tumbuh sehat dan sudah bisa ngeliat ayah, kamu boleh cubit ayah sepuas hatimu! Tapi nyubitnya jangan seperti ibu ya, ayah nyerah kalo kamu nyubit seperti ibu. Jangan jadi anak yang suka dikacangin seperti ibu ya, Nak!” Jawabnya sambil tersenyum penuh arti.
Sontak aku tertawa dibuatnya. Jody, Jody, oh Jody dia memang selalu seperti itu. Menghadirkan tawa disela kesedihan. Karena itu dia adalah pelangiku. Pelangi yang ada di langit-ku. Pelangi yang selalu ada kisah disetiap lapisan warnanya. Pelangi yang dulu diam-diam kuharapkan selama bertahun-tahun, yang selalu kusimpan rapi di dalam gudang pelangi yang aku punya. Dia selalu muncul di saat hujan sudah reda. Dia selalu menghadirkan keindahan setelah kesedihan. Kapanpun, dimanapun Ia berada aku selalu merindukan hadirnya. Seperti tanah kering yang rindu akan hujan, seperti langit yang rindu dihiasi oleh pelangi, begitulah aku merindukanmu, Jody. Aku sangat merindukanmu, Jody. Selalu.

***








0 comments:

Post a Comment