Subuh pagi yang dingin membangunkanku dengan melodi indahnya..
melodi yang Tuhan ciptakan untuk mengakhiri retakan retakan hati karena kerasnya dunia..
melodi yang hadir untuk membawa kembali tumpukan kenangan yang tergeletak berantakan di sisi-sisi pikiran.
Perasaan yang kembali tertutup rapat untuk kebahagian.
Tutup sejenak, ingat kembali, hentikan kebahagian beberapa saat, ingat saat tangis menjadi kisah yang menjadi warna dalam hidup.
Tanpa tangis itu kau takkan tahu bagaimana rasanya tertawa.
Tanpa kesedihan kau takkan pernah tahu bahagia itu seperti apa.
Mari sejenak lepas kebahagian, 1 menit saja.
Terkesan menjadi wanita ter "kajuman" di dunia yang menyisihkan waktu 1 menitnya untuk mengingat luka yang pernah menggores tajam di hatinya.
Pernah merasakan "mencintai" seseorang dengan sangat. Waktu di saat putih abu-abu masih melekat erat di tubuh mungil ini. Waktu dimana pikiran masih labil, masih belum paham apa sebenarnya cinta itu. Namun abaikan tentang ketidaktahuan, because its the first time. Usia belasan dengan pikiran labil, baju putih abu, sepatu sneakers hitam putih, tas ransel di punggung, no make up, tidakkah itu terlalu sempurna untuk dilewatkan? Kau tidak akan pernah merasakan moment seperti itu di hari berikutnya, karena itu pertama kalinya dan tidak akan ada yang kedua kalinya.
Cinta saat itu menjadi sesuatu yang indah. Dimana kau merasakan butterfly efek di perutmu. Namun bisa menjadi sesuatu yang sangat kejam, karena koping dirimu belum sempurna karena usiamu masih terbilang labil (mungkin usiaku lebih tepatnya).
Membuka halaman demi halaman buku harianku membuat tawa menjadi hiasan kecil di wajahku ini. Mengatakan pada diri sendiri "Lihat, betapa anehnya dirimu yang dulu, RIA!"
Apakah laki-laki yang menyakitimu akan merasakan yang sama ketika kau memakinya di lembaran buku harian yang terlalu lucu untuk dijadikan tempat memaki. Hahahahaha..
Kekanak-kanakkan bukan? Namun, itu semua menjadi ukuran hidupku saat ini. Ketika aku malu dengan tulisanku saat itu, berarti otakku kini sudah berkembang. Sudah menjadi sedikit dewasa dari biasanya. Walaupun aku masih belum paham dewasa itu apa. Seseorang pernah mengatakan kepadaku saat mati lampu " Hidup itu memang selalu gelap, sampe kita bener-bener tau apa tujuannya! " aku membenarkan kata-katanya namun saat percakapan semalam aku menyanggahnya.
Kuakui hidup itu terlalu gelap untuk dijalani. Semua menghitam sampai matahari pagi menyambut untuk menjawab misteri teka-teki semalam. Apa yang akan terjadi besok? Apakah akan cerah atau hujan?
Sama seperti saat ini, hujan yang begitu dingin namun lebih terasa hangat ketika kenangan memelukmu erat.
1 menit berakhir.
Namun hujan masih berlanjut.
Kau tidak perlu melanjutkan untuk 1 menit berikutnya lagi. Karena tidak perlu berlarut-larut menutup pintu hatimu untuk mencegah kebahagian hadir. Tidak perlu berlarut-larut bersedih, tidakkah kau menyayangkan menit-menitmu terlewatkan dengan wajah muram ?
Tulisan yang tidak terlalu jelas awal pertengah dan ujungnya. Namun abaikan saja, aku hanya ingin mencatat. Mencatat isi pikiranku sebelum semuanya menghilang.
melodi yang Tuhan ciptakan untuk mengakhiri retakan retakan hati karena kerasnya dunia..
melodi yang hadir untuk membawa kembali tumpukan kenangan yang tergeletak berantakan di sisi-sisi pikiran.
Perasaan yang kembali tertutup rapat untuk kebahagian.
Tutup sejenak, ingat kembali, hentikan kebahagian beberapa saat, ingat saat tangis menjadi kisah yang menjadi warna dalam hidup.
Tanpa tangis itu kau takkan tahu bagaimana rasanya tertawa.
Tanpa kesedihan kau takkan pernah tahu bahagia itu seperti apa.
Mari sejenak lepas kebahagian, 1 menit saja.
Terkesan menjadi wanita ter "kajuman" di dunia yang menyisihkan waktu 1 menitnya untuk mengingat luka yang pernah menggores tajam di hatinya.
Pernah merasakan "mencintai" seseorang dengan sangat. Waktu di saat putih abu-abu masih melekat erat di tubuh mungil ini. Waktu dimana pikiran masih labil, masih belum paham apa sebenarnya cinta itu. Namun abaikan tentang ketidaktahuan, because its the first time. Usia belasan dengan pikiran labil, baju putih abu, sepatu sneakers hitam putih, tas ransel di punggung, no make up, tidakkah itu terlalu sempurna untuk dilewatkan? Kau tidak akan pernah merasakan moment seperti itu di hari berikutnya, karena itu pertama kalinya dan tidak akan ada yang kedua kalinya.
Cinta saat itu menjadi sesuatu yang indah. Dimana kau merasakan butterfly efek di perutmu. Namun bisa menjadi sesuatu yang sangat kejam, karena koping dirimu belum sempurna karena usiamu masih terbilang labil (mungkin usiaku lebih tepatnya).
Membuka halaman demi halaman buku harianku membuat tawa menjadi hiasan kecil di wajahku ini. Mengatakan pada diri sendiri "Lihat, betapa anehnya dirimu yang dulu, RIA!"
Apakah laki-laki yang menyakitimu akan merasakan yang sama ketika kau memakinya di lembaran buku harian yang terlalu lucu untuk dijadikan tempat memaki. Hahahahaha..
Kekanak-kanakkan bukan? Namun, itu semua menjadi ukuran hidupku saat ini. Ketika aku malu dengan tulisanku saat itu, berarti otakku kini sudah berkembang. Sudah menjadi sedikit dewasa dari biasanya. Walaupun aku masih belum paham dewasa itu apa. Seseorang pernah mengatakan kepadaku saat mati lampu " Hidup itu memang selalu gelap, sampe kita bener-bener tau apa tujuannya! " aku membenarkan kata-katanya namun saat percakapan semalam aku menyanggahnya.
Kuakui hidup itu terlalu gelap untuk dijalani. Semua menghitam sampai matahari pagi menyambut untuk menjawab misteri teka-teki semalam. Apa yang akan terjadi besok? Apakah akan cerah atau hujan?
Sama seperti saat ini, hujan yang begitu dingin namun lebih terasa hangat ketika kenangan memelukmu erat.
1 menit berakhir.
Namun hujan masih berlanjut.
Kau tidak perlu melanjutkan untuk 1 menit berikutnya lagi. Karena tidak perlu berlarut-larut menutup pintu hatimu untuk mencegah kebahagian hadir. Tidak perlu berlarut-larut bersedih, tidakkah kau menyayangkan menit-menitmu terlewatkan dengan wajah muram ?
Tulisan yang tidak terlalu jelas awal pertengah dan ujungnya. Namun abaikan saja, aku hanya ingin mencatat. Mencatat isi pikiranku sebelum semuanya menghilang.
0 comments:
Post a Comment