Friday, June 17, 2016

Untukmu Yang Tanpa Sadar Sudah Bisa Kulupakan

Kau tahu bahwa melupakan adalah hal paling sulit yang pernah kulakukan.

Untukmu yang dulu sangat sulit kulupakan...
Akhirnya tiba saatnya dimana hati dan pikiranku sudah tidak berisi kisahmu lagi. Kenanganmu sudah tidak lagi menginspirasi tulisanku. Wangimu sudah tidak bisa lagi memindahkan duniaku. Cintamu sudah tak bisa lagi mengubah jalan hidupku. Ada sepenggal kisah yang ternyata mampu membuatku berhasil melupakanmu. Tentunya kisah dengan orang yang baru. Walaupun bersama orang itu kisah tak seindah bersamamu, namun hatinya mampu membuatku lepas dari cerita yang pernah kita tulis bersama. Walaupun bersama orang itu kisah tak sepanjang yang aku harapkan, namun dirinya mampu menggantikan posisimu yang dulu selalu menjadi nomer satu di podium hatiku. Setidaknya kisahmu kini sudah tergantikan. Entah mungkin karena pekerjaan yang membuatku tak sempat memikirkanmu atau dia yang selalu mengisi hariku yang perlahan kisahmu sudah menjadi asap yang mengepul lalu hilang pergi terbawa waktu, aku tak tahu. 
Jujur saja, pertama kali aku mengenal dia, aku melihat sosokmu yang pernah ada dalam dirinya. Sifatnya, wajahnya, harinya, dan pola pikirnya tentu tatapan matanya itu persis seperti apa yang pernah kulihat dalam dirimu. Bersamanya aku mengerti kapan harus berhenti. Ketidaksanggupanku menunggunya membuatku melepasnya pergi. Sudah kubilang di paragraf awal, kisah dengannya tak sepanjang kisah yang kuharapkan. 
Untukmu yang tanpa sadar kulupakan,
Terima kasih karena membuatku sangat bahagia karena bisa melupakan sosok yang bertahun-tahun menjadi hantu dalam pikiranku. Mengerikan jika kenanganmu hadir dalam tawaku dulu. Namun kini, ketika namanu terlintas, entah ada sedikit usaha untuk mengingat kenangan bersamamu tetapi aku tidak mengingatnya. Bukan tidak mengingat, namun terlalu bingung untuk memilih kenangan yang mana. Mungkin aku sudah sangat bosan menjadikanmu inspirasi dalam pikiranku. Mungkin saja aku sudah jenuh menjadikanmu bahan pertimbangan untuk memulai hubungan yang baru. 
Untukmu yang tanpa sadar telah membuatku bahagia,
Aku sadar, ini hanyalah masalah waktu yang perlu kujalani. Entah senyum sumringah seperti apa yang menghiasi wajahku saat ini karena aku merasa menang. Menang melawan diriku sendiri. Menang untuk menaklukkan hatiku untuk membuatnya mengalah dan berhenti mengingatmu. Bulshit? Ini bukan tulisan bulshit, namun ini tulisan tentang kepuasan seorang yang mampu mengalahkan hati dan pikirannya. Karena waktu sudah memberikan jatah untuk setiap kisah. 

Karena waktu sudah memberikan ruang untuk kisah baru yang sudah mengantri panjang di depanmu... 

Monday, June 13, 2016

I Need It!

Apa keinginanmu?
Banyakkah?
Bagaimana tipe lelaki yang kau inginkan?
Tampankah?
Baikkah?
Atau bad boy-kah?

Aku?
keinginanku ingin menikah dengan laki-laki yang kucintai sejak awal.
keinginanku ingin menikah dengan laki-laki yang kusukai sejak awal.
tentu ini adalah keinginan semua orang.
Namun entah kriteriaku berbeda dengan kebanyakan orang.
Aku sering jatuh cinta dengan laki-laki yang mampu membuat hatiku bergetar.
jatuh cinta dengan laki-laki yang kusukai terlebih dahulu.
laki-laki yang menatapku lama dengan mata indahnya.
laki-laki yang sering mengejekku.
laki-laki yang tidak membuatku canggung.
laki-laki yang bersamanya aku sangat nyaman.
laki-laki yang membuatku bertingkah konyol dengan mengantarkan sesuatu ke tempat kerjanya.
laki-laki yang mampu membuat tanganku dengan lancarnya menulis tentang dia.
laki-laki yang mampu membuat semangat hari-hariku.
laki-laki yang mampu membuatku tertawa dan diam saat marah.
laki-laki yang dengan senang hati mendengar keluhku, mendengar lelahku.
laki-laki yang dengannya aku antusias dengan sesuatu.
laki-laki yang membuatku ingin tahu apa yang disukainya.
laki-laki yang membuatku ingin mempelajari apa yang sedang ia pelajari.
laki-laki yang membuatku memperlihatkan isi domper dan sisa uangku.
laki-laki yang dengan senang hati menceritakan kisah hidupnya tanpa menutupi apapun.
laki-laki yang dengannya aku menjadi seorang anak kecil yang perlu digandenganya berjalan di keramaian.
laki-laki yang dengannya aku bisa menjadi diriku sendiri.
laki-laki yang bisa bergaul dengan orang tua dan adikku.
laki-laki humoris yang mampu beradaptasi dengan diriku.
laki-laki baik hati yang mampu membuatku menunggu kabar darinya setiap hari.
laki-laki yang membuatku tidak ingin mengakhiri pembicaraan dengannya.
laki-laki yang membuatku ingin terus bertemu, bukan laki-laki yang membuatku betah dirumah.
laki-laki yang membuatku sangat penasaran.
laki-laki yang membuat aku seperti orang gila.
laki-laki yang membuatku baper dengan lagu-lagu yang sesuai dengan kisahku dengannya.
aku ingin laki-laki yang membuatku seperti itu.

Bukan laki-laki yang gagah dengan pangkat dan kerjaan tetapnya atau kekayaan orang tuanya atau laki-laki yang disukai oleh orang tuaku.



Sunday, June 12, 2016

Muncul Kembali

Ada saat kau menyadari kau terlalu takut untuk melangkah.
Kesalahan karena keinginanmu sendiri.
Pernahkah kau merasa membenci dirimu sendiri? 
Aku pernah.
Saat ini.
Ada sepotong kisah yang kau harapkan.
Kau berusaha memujudkannya, namun ketika akan terwujud hatimu berbalik arah karena rasa takut yang kau sendiri tak tahu apa sebabnya.
Bukan karena masalah yang pernah terjadi.
Tapi ketakutan besar dalam hidup yang masih samar tak tahu apa yang harus kau lakukan.
Hatimu berdebar ketika kata akan terucap.
Bukan berdebar karena kau menyukainya.
Tapi berdebar karena ketakutan.
Jangan sampai kau mendengar rentetan kata yang membuat dirimu takut.
Aku membenci diriku yang terlalu penakut menghadapi apa yang akan terjadi.
Aku membenci diriku dengan perasaan yang bisa dengan sekejap berubah.
Terkadang kau ingin terbiasa namun tak bisa.
Mungkin saja kau menyukai apa yang disukai orang lain.
Karena orang lain suka maka kau menyukainya.
Bukan karena hatimu.
Apakah bisa aku mencintai karena hatiku?

Saturday, June 4, 2016

PAMIT

Terik Sang surya menyentuh wajah seorang wanita yang sedang duduk di kursi taman itu. Dengan headset yang menggantung di telinganya, entah lagu apa yang sedang didengarkannya sehingga membuatnya seperti menghayati lirik demi lirik. Mulutnya mulai mengeluarkan suara,

Yang tersisa dari Kisah ini hanya kau takutku hilang,
Perdebatan apapun menuju kata pisah,
Jangan paksakan genggamanmu..
Yang berubah hanya tak lagi kumilikmu..

Lagu pamit dari tulus ternyata menjadi soundtrack kisah paginya. Otakknya terus memikirkan kata-kata lelaki yang dulu pernah dicintainya.

" Gimana kamu sama si dia?" Tanya Fatur, nama lelaki itu.
" Hmmmm, biasa aja sih, flat, mungkin efek jarang ketemu dan komunikasi." Jawab wanita itu.
" Loh katanya pedekate, tapi kok flat sih? Pedekate yang ngebuat kamu gak bisa ketemu sama aku!"
" Pedekate juga gak mesti ketemu tiap hari juga, gak mesti komunikasi tiap hari, udah bukan anak SMA lagi!" Jawab Rita, wanita yang sudah sedikit geram dengan kata-kata Fatur.
" Aku juga dulu begitu kan? iya iya sudah bukan anak SMA lagi!" Ucapnya dengan nada mengalah.
" Seenggaknya dia gak seperti kamu yang takut sayang sama orang, yang takut tersakiti, takut nyakitin, takut takut dan takut dengan kemungkinan yang akan kamu hadapi nantinya! Ayolah, kamu juga semestinya harus sudahi semuanya, menepilah Fatur, jangan di tengah jalan terus, ditabrak beneran ntar!"
" Syukurlah kalau begitu, dia beda, gak sama seperti aku yang gak bisa jadi seperti apa yang kamu mau, dan pada akhirnya aku menginginkanmu kembali!"
Waktunya seperti berhenti. Detaknya memuncak sampai ke kepala. Dilepasnya hp yang dari tadi digenggamnya. Rita mengalihkan perhatiannya pada novel yang ada disebelahnya. Hanya status "R" pada BBM Fatur. Dia belum sanggup membalasnya. Detak masih terasa diseluruh bagian otak dan dadanya.
" saya menyesal membuang sesuatu yang pasti, yah menyesal memang selalu berada diurutan paling akhir dalam hidup ini!" Sambung Fatur.
Tangan Rita dingin, terkunci, perasaannya campur aduk.
" Jangan sampai perasaanku terhanyut dengan kata-kata manisnya! Tulus atau tidak, hidupmu saat ini baik-baik saja,Rita!" Batinnya.

****
Ikut buka puasa brg anak" ni yuk!

Boleh, kmpl dmna?

Ktmu d gading aja! Aku jmput Opan dlu!

Hari itu, Rita sangat mengingat hari itu. Hari dimana seorang Fatur menembaknya. Namun seperti pernyataan cinta yang terpaksa karena Rita menangis karena sudah tidak tahan dengan sikap Fatur yang semakin hari semakin tidak tahu arah. Fatur seperti seseorang yang bimbang, ingin namun tidak ingin. Dia seperti menginginkan Rita, namun sebenarnya tidak. Berkali-kali Rita menyinggung tentang hubungan mereka, namun Fatur selalu mengatakan
" Jalani aja dulu!"
Sesimpel itulah alur pemikiran yang Fatur miliki. Namun hari itu karena pertanyaan-pertanyaan dari semua teman-temannya seperti sebuah serbuan granat yang terus menerus menimpa isi kepalanya, dia akhirnya menyatakan perasaanya kepada Rita.
****
Rita duduk di atas tempat tidur sambil membaca novel yang baru Ia beli tiga hari yang lalu. Fokusnya tidak pada novel, namun pada sikap Fatur yang mendadak berubah padanya. Beberapa minggu belakangan ini Fatur rajin menghubunginya, mengajaknya nonton, atau sekedar minum kopi di coffeshop. Hubungan mereka sudah lama berakhir karena Fatur yang tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Rita. Saat itu, tepat setahun yang lalu Rita akhirnya mampu merelakan seorang laki-laki yang telah membuka hatinya yang sepi saat Ia merasa sendiri berada di dunia ini. Fatur adalah seorang teman lamanya yang bekerja di salah satu tempat makan yang sering Ia kunjungi.
Setelah empat tahun, mereka akhirnya bertemu di tempat itu. Fatur sering menyapa dan menemani Rita walaupun hanya sekedar mengobrol menanyakan teman-teman Rita yang dikenalnya. Diambilnya hp yang berdering sejak tadi tidak dihiraukannya.

Halo..

Halo ta, lama amat si angkat telpon! Lagi apa sih?

Ternyata telpon dari Fara, sahabat Rita yang kini melanjutkan kuliahnya di Surabaya mengambil gelar Ners.

Sory sory tadi sedang baca novel yang baru aku beli kemarin, novelnya ngebuat baper!

Alahhhh, perasaan semua yang kamu baca juga buat baper! Eh ada apa kemaren bebe-em? Sory kemaren ada ujian jadinya gak hirauin hape!

Jahat! Kamu tau kan aku gak suka liat huruf Er nangkring di bebe-emku!

Sory sory, ada apa sih?

Si Fatur, berubah seperti ngajak balikan!

GAK USAH!!

Jawaban Fara membuat Rita terkejut. Fara adalah seorang sahabat yang mengenalkan Rita dengan Fatur. Ia merasa bersalah karena Fatur menjadi begitu jahat pada Rita.

Gak mungkin mau juga, Far! Aku kan sudah ada Dito sekarang, gak mungkin mau balik lagi sama orag yang dulu ngebiarin aku pergi gitu aja!

Anak pinter! Udah gak usah diladenin lagi telpon, sms ato bebe-emnya, aah aku geram deh kalo nginget gimana usahamu dulu! Pake ngebawaen rainbow cake pula ke tempet kerjanya, bawaen sari kacang ijo ada mininotes-nya pake love love-an, geram banget kalo inget sekarang! Rugi banget deh dia pokoknya sia-siain one of the most romantic woman in the world!! Hahahhaha...

Jawaban Fara membuat Rita tertawa. Ingatan itu kembali seperti dvd player yang secara otomatis berputar ulang di kepala Rita.
Pagi itu Rita bangun lebih awal dari biasanya, dia mulai bermain di dapur dengan tepung,telur,dan sejenisnya. Hari itu Ia akan mengunjungi Fatur di tempat kerjanya. Semacam surprise yang sudah disiapkan Rita dari jauh-jauh hari.

Bersambung....

TENIS

Dia mengayunkan raketnya, memukul bola bundar berwarna hijau itu dengan keras. Suasana lapangan itu sangat tenang. Itu pertama kalinya aku menyaksikan pertandingan tenis sejak mengenal dia.
"RIKO!RIKO!RIKO!" Sorak sorai aku dan teman-teman saat baru datang.
Semua mata menoleh pada kami dengan tatapan tajam.
Tatapan menusuk yang membuat mulut kami tertutup rapat.
" Kenapa sih? " Tanya Momo
" Gak tahu!" Jawabku.
Kami duduk beralaskan kerikil melanjutkan menyaksikan pertandingan tenis Riko. Ronde pertama telah berakhir. Riko segera menghampiri pelatihnya lalu memutar langkahnya menuju kami.
Kuperhatikan setiap detail dirinya dari kejauhan. Peluhan keringat yang tercipta jatuh dari kulit hitam manisnya. Menyentuh hidungnya yang tidak terlalu mancung. Tangannya refleks terangkat mengusap rintikan air yang mengalir dari kulit hitamnya. Senyumnya dari balik Matahari siang terlihat begitu sempurna.
" Makasi udah datang!" Ucapan Riko yang menyapu seluruh lamunanku.
" Kalo nonton tenis gak boleh teriak-teriak, ntar pemainnya gak konsen!" Sambungnya.
" Ohhh, pantes aja semuanya noleh tadi! ini nih suaranya Rika yang paling cempreng!"
"Loh kok aku?"
Kami mengobrol saat Riko sedang beristirahat. Beberapa saat kemudian Riko kembali berdiri di tengah lapangan memegang raket tenisnya, berpose dengan tubuh atletisnya bersiap men-smash bola hijau yang datang kepadanya. Pertandingan berlangsung cukup lama, sedangkan aku dan teman-teman harus segera pulang. Aku meninggalkan lapangan saat Riko masih fokus dengan raketnya di tengah lapangan. Matanya sedikit melirik saat aku melambaikan tangan.
****
Kulempar hp-ku ke atas tempat tidur. Mengambil novel yang baru kubaca setengah, memakai kacamata lalu duduk di kursi samping tempat tidur. Hp-ku berdering. Dengan sigap kuambil hp tersebut lalu membuka pesan masuk.

Mks y ud mau nnton, semngt deh ditonton km! Lusa ad prtndgn lg, Klo sempet nnton lg ya :)

Iya, itu pesan dari Riko. Sontak sms itu membuat mulutku tersenyum begitu lebarnya. Pipiku memerah seperti tomat, jantungku seperti bom waktu yang sebentar lagi akan meledak. Gemetar tanganku menggenggam hp yang berisi sms Riko. Suara Momo membuatku terkejut. Dia tiba-tiba datang ke kamarku dan langsung membuang dirinya ke atas tempat tidur.
" Kamu gimana sih sama Riko?" Tanya Momo tiba-tiba.
" Ya gimana, gini-gini aja! Aku gak mungkin minta dia untuk nembak aku lagi!"
" Tapi gimana dengan si Adil? Kamu udah cuekin dia tiga hari lo!"
" Iya juga sih, tapi gak bisa bohong juga kalo aku belum bisa move on dari Riko!"
" Kalo gitu ceritanya, kamu musti ngomong sama Adil, kasian juga si Adilnya!"
" Iya ntar deh aku sms dia! "
" Jangan sms rika, ngomong langsung, face to face!!!" Tegas Momo seraya menggunakan kedua tangannya untuk menjelaskan.
" gak berani! "
" Harus berani! Sini mana hp-mu, aku sms Adil minta ketemuan ntar sore! Tenang aku temenin!"
Momo mengetik kata demi kata diatas tombol hapeku. Entah kenapa aku mulai takut. Aku tidak selingkuh, namun hatiku belum bisa beranjak dari sosok Riko yang dulu pernah meninggalkanku dengan alasan konyolnya.

Sebelas Januari, pertama kali aku melihat wajah Riko yang malu-malu mengucapkan kata yang membuat jantungku berdetak lebih kencang seperti biasanya. Hari itu aku dan dia menjadi sepasang anak SMA yang sedang jatuh cinta. Bulan demi bulan berlalu, dia berubah. Tidak seperti biasanya dan mengirimkan pesan teks yang berisi :

Kt udahan aja, aku ngrasa km brubah,jrg hubngi aku lgi!trmksh dan maaf!

Aku tertawa membaca pesan teks yang dikirimkan Riko. Aku belum paham mengapa Ia tiba-tiba mengirimkan pesan ini padaku. Aku menjawabnya dengan santai tanpa perasaan sakit hati sama sekali.

Oke gpp, terimksih sudh jd pcr yg baik slm ini.

Entah di hari ke-3 sejak kami putus, disitu aku merasa sangat membutuhkannya. Riko yang setiap malam menyanyikan lagu I'm yours dari Jason Mraz untukku dengan suara merdunya, yang datang Kerumah hanya untuk sekedar mengobrol, dan dia dengan motor bebek C70 yang lucu selalu datang dengan senyuman ke depan pintu rumah. Aku baru merasakan bahwa Riko kini telah pergi.

Sejak hubunganku dan Riko berakhir, aku memulai hubungan baru dengan Adil, seorang anak SMA Pancasila yang sangat nakal. Namun dia sangat baik dan sopan padaku, tentunya dia sangat menyukaiku. Namun sore itu aku mengakhiri hububganku dengan dia. Iya, karena Riko datang lagi ke kehidupanku. Sekeras apapun aku berusah untuk melupakan Riko, namun dia seperti seseorang yang terus-terusan menerobos pertahananku hingga aku tak mampu lagi menjaga hubunganku dengan Adil.

Sore itu aku kembali menjadi seorang Rika yang jomblo dan tidak kesepian. Hari-hariku diisi dengan latihan tenis selama 3x seminggu di LP tempat om-ku bekerja dan aku dilatih oleh narapidana yang dulunya adalah pelatih tenis. Semua itu kulakukan demi Riko, mungkin saja dengan aku bermain tenis aku sedikit lebih paham apa yang dilakukan oleh Riko. Pelatihku adalah pelatih Riko juga. Namun karena om pelatih sempat salah aturan dalam memakai obat-obatan, dia harus mendekam di penjara dalam waktu yang lama.
Riko mengetahui bahwa aku latihan tenis, dia memarahiku saat itu. Tenis olahraga berat. Ia menemuiku dan melihat telapak tanganku. Banyak lecet yang membuat tangan mungilku terlihat tidak seindah biasanya.
Walaupun Riko tidak mengizinkanku, aku terus berlatih, entah untuk apa. Aku sendiri pun tidak mengerti.

"Assalamualaikum!"
Terdengar suara laki-laki dari pintu gerbang membuyarkan lamunanku. Aku keluar dan melihat Riko sudah berdiri dengan Mega, teman kuliahku.
" Wah long time no see pak guru!" Kataku terkejut melihat Riko.
" Aah jangan dipanggil pak guru, belum pantes!"
" Oala, cukuran rambut rapi, tampang.. Hhmmmm.. Paslah disebut pak guru!" Jawabku seraya menilai Riko.
" Iya nih pak guru sok gak mau ngaku kalo udah jadi pak guru beneran!" Sahut Mega.
" Hahaha.. Masuk yuk, udah lama gak kumpul!"
Kami duduk di teras depan rumah.
" Pade jomblo kan?" Tanya Riko tiba-tiba.
" Iya! " kompak aku dan Mega.
" Kasian deh kalian, kayak aku dong, udah punya pacar!"
" Seriusan? siapa siapa? "
" Kepo banget sih cewek-cewek jomblo ini!"
" Ihhhh Rikoo!!!!! Siapaaaa?" Tanyaku penasaran.
" Ada cewek tapi putusnya kemaren!!" Jawab Riko sambil senyum nyengir.
" RIKOOOOOOOO!!!!!!" Kompak Aku dan Mega meneriaki Riko.

****

Riko mengirimiku pesan teks yang cukup panjang pada bulan Oktober itu. Pesan yang membuat hatiku yang sedang kubangun kembali kemudian hancur oleh gempa bumi. Pesannya membuatku sadar, aku harus berhenti saat itu juga.

Ka, maafin aku. Aku bukannya gak mau nembak km lgi, aku syg sm km. Tp aku takut putus lg sm km. Aku gak mau hubungn kita renggang sprti dlu, aku mau kita sprti ini, sahabtan. Krna shbtan itu gak bakalan prnh ad kata putus. Aku tkut nyakitin km lg, aku udh snng bngt km mau maafin aku. Gpp kan skrg kita sprti ini? Sahabatan dan gak lbh dr itu?

***