Saturday, June 4, 2016

PAMIT

Terik Sang surya menyentuh wajah seorang wanita yang sedang duduk di kursi taman itu. Dengan headset yang menggantung di telinganya, entah lagu apa yang sedang didengarkannya sehingga membuatnya seperti menghayati lirik demi lirik. Mulutnya mulai mengeluarkan suara,

Yang tersisa dari Kisah ini hanya kau takutku hilang,
Perdebatan apapun menuju kata pisah,
Jangan paksakan genggamanmu..
Yang berubah hanya tak lagi kumilikmu..

Lagu pamit dari tulus ternyata menjadi soundtrack kisah paginya. Otakknya terus memikirkan kata-kata lelaki yang dulu pernah dicintainya.

" Gimana kamu sama si dia?" Tanya Fatur, nama lelaki itu.
" Hmmmm, biasa aja sih, flat, mungkin efek jarang ketemu dan komunikasi." Jawab wanita itu.
" Loh katanya pedekate, tapi kok flat sih? Pedekate yang ngebuat kamu gak bisa ketemu sama aku!"
" Pedekate juga gak mesti ketemu tiap hari juga, gak mesti komunikasi tiap hari, udah bukan anak SMA lagi!" Jawab Rita, wanita yang sudah sedikit geram dengan kata-kata Fatur.
" Aku juga dulu begitu kan? iya iya sudah bukan anak SMA lagi!" Ucapnya dengan nada mengalah.
" Seenggaknya dia gak seperti kamu yang takut sayang sama orang, yang takut tersakiti, takut nyakitin, takut takut dan takut dengan kemungkinan yang akan kamu hadapi nantinya! Ayolah, kamu juga semestinya harus sudahi semuanya, menepilah Fatur, jangan di tengah jalan terus, ditabrak beneran ntar!"
" Syukurlah kalau begitu, dia beda, gak sama seperti aku yang gak bisa jadi seperti apa yang kamu mau, dan pada akhirnya aku menginginkanmu kembali!"
Waktunya seperti berhenti. Detaknya memuncak sampai ke kepala. Dilepasnya hp yang dari tadi digenggamnya. Rita mengalihkan perhatiannya pada novel yang ada disebelahnya. Hanya status "R" pada BBM Fatur. Dia belum sanggup membalasnya. Detak masih terasa diseluruh bagian otak dan dadanya.
" saya menyesal membuang sesuatu yang pasti, yah menyesal memang selalu berada diurutan paling akhir dalam hidup ini!" Sambung Fatur.
Tangan Rita dingin, terkunci, perasaannya campur aduk.
" Jangan sampai perasaanku terhanyut dengan kata-kata manisnya! Tulus atau tidak, hidupmu saat ini baik-baik saja,Rita!" Batinnya.

****
Ikut buka puasa brg anak" ni yuk!

Boleh, kmpl dmna?

Ktmu d gading aja! Aku jmput Opan dlu!

Hari itu, Rita sangat mengingat hari itu. Hari dimana seorang Fatur menembaknya. Namun seperti pernyataan cinta yang terpaksa karena Rita menangis karena sudah tidak tahan dengan sikap Fatur yang semakin hari semakin tidak tahu arah. Fatur seperti seseorang yang bimbang, ingin namun tidak ingin. Dia seperti menginginkan Rita, namun sebenarnya tidak. Berkali-kali Rita menyinggung tentang hubungan mereka, namun Fatur selalu mengatakan
" Jalani aja dulu!"
Sesimpel itulah alur pemikiran yang Fatur miliki. Namun hari itu karena pertanyaan-pertanyaan dari semua teman-temannya seperti sebuah serbuan granat yang terus menerus menimpa isi kepalanya, dia akhirnya menyatakan perasaanya kepada Rita.
****
Rita duduk di atas tempat tidur sambil membaca novel yang baru Ia beli tiga hari yang lalu. Fokusnya tidak pada novel, namun pada sikap Fatur yang mendadak berubah padanya. Beberapa minggu belakangan ini Fatur rajin menghubunginya, mengajaknya nonton, atau sekedar minum kopi di coffeshop. Hubungan mereka sudah lama berakhir karena Fatur yang tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Rita. Saat itu, tepat setahun yang lalu Rita akhirnya mampu merelakan seorang laki-laki yang telah membuka hatinya yang sepi saat Ia merasa sendiri berada di dunia ini. Fatur adalah seorang teman lamanya yang bekerja di salah satu tempat makan yang sering Ia kunjungi.
Setelah empat tahun, mereka akhirnya bertemu di tempat itu. Fatur sering menyapa dan menemani Rita walaupun hanya sekedar mengobrol menanyakan teman-teman Rita yang dikenalnya. Diambilnya hp yang berdering sejak tadi tidak dihiraukannya.

Halo..

Halo ta, lama amat si angkat telpon! Lagi apa sih?

Ternyata telpon dari Fara, sahabat Rita yang kini melanjutkan kuliahnya di Surabaya mengambil gelar Ners.

Sory sory tadi sedang baca novel yang baru aku beli kemarin, novelnya ngebuat baper!

Alahhhh, perasaan semua yang kamu baca juga buat baper! Eh ada apa kemaren bebe-em? Sory kemaren ada ujian jadinya gak hirauin hape!

Jahat! Kamu tau kan aku gak suka liat huruf Er nangkring di bebe-emku!

Sory sory, ada apa sih?

Si Fatur, berubah seperti ngajak balikan!

GAK USAH!!

Jawaban Fara membuat Rita terkejut. Fara adalah seorang sahabat yang mengenalkan Rita dengan Fatur. Ia merasa bersalah karena Fatur menjadi begitu jahat pada Rita.

Gak mungkin mau juga, Far! Aku kan sudah ada Dito sekarang, gak mungkin mau balik lagi sama orag yang dulu ngebiarin aku pergi gitu aja!

Anak pinter! Udah gak usah diladenin lagi telpon, sms ato bebe-emnya, aah aku geram deh kalo nginget gimana usahamu dulu! Pake ngebawaen rainbow cake pula ke tempet kerjanya, bawaen sari kacang ijo ada mininotes-nya pake love love-an, geram banget kalo inget sekarang! Rugi banget deh dia pokoknya sia-siain one of the most romantic woman in the world!! Hahahhaha...

Jawaban Fara membuat Rita tertawa. Ingatan itu kembali seperti dvd player yang secara otomatis berputar ulang di kepala Rita.
Pagi itu Rita bangun lebih awal dari biasanya, dia mulai bermain di dapur dengan tepung,telur,dan sejenisnya. Hari itu Ia akan mengunjungi Fatur di tempat kerjanya. Semacam surprise yang sudah disiapkan Rita dari jauh-jauh hari.

Bersambung....

0 comments:

Post a Comment