Dia mengayunkan raketnya, memukul bola bundar berwarna hijau itu dengan keras. Suasana lapangan itu sangat tenang. Itu pertama kalinya aku menyaksikan pertandingan tenis sejak mengenal dia.
"RIKO!RIKO!RIKO!" Sorak sorai aku dan teman-teman saat baru datang.
Semua mata menoleh pada kami dengan tatapan tajam.
Tatapan menusuk yang membuat mulut kami tertutup rapat.
" Kenapa sih? " Tanya Momo
" Gak tahu!" Jawabku.
Kami duduk beralaskan kerikil melanjutkan menyaksikan pertandingan tenis Riko. Ronde pertama telah berakhir. Riko segera menghampiri pelatihnya lalu memutar langkahnya menuju kami.
Kuperhatikan setiap detail dirinya dari kejauhan. Peluhan keringat yang tercipta jatuh dari kulit hitam manisnya. Menyentuh hidungnya yang tidak terlalu mancung. Tangannya refleks terangkat mengusap rintikan air yang mengalir dari kulit hitamnya. Senyumnya dari balik Matahari siang terlihat begitu sempurna.
" Makasi udah datang!" Ucapan Riko yang menyapu seluruh lamunanku.
" Kalo nonton tenis gak boleh teriak-teriak, ntar pemainnya gak konsen!" Sambungnya.
" Ohhh, pantes aja semuanya noleh tadi! ini nih suaranya Rika yang paling cempreng!"
"Loh kok aku?"
Kami mengobrol saat Riko sedang beristirahat. Beberapa saat kemudian Riko kembali berdiri di tengah lapangan memegang raket tenisnya, berpose dengan tubuh atletisnya bersiap men-smash bola hijau yang datang kepadanya. Pertandingan berlangsung cukup lama, sedangkan aku dan teman-teman harus segera pulang. Aku meninggalkan lapangan saat Riko masih fokus dengan raketnya di tengah lapangan. Matanya sedikit melirik saat aku melambaikan tangan.
****
Kulempar hp-ku ke atas tempat tidur. Mengambil novel yang baru kubaca setengah, memakai kacamata lalu duduk di kursi samping tempat tidur. Hp-ku berdering. Dengan sigap kuambil hp tersebut lalu membuka pesan masuk.
Mks y ud mau nnton, semngt deh ditonton km! Lusa ad prtndgn lg, Klo sempet nnton lg ya :)
Iya, itu pesan dari Riko. Sontak sms itu membuat mulutku tersenyum begitu lebarnya. Pipiku memerah seperti tomat, jantungku seperti bom waktu yang sebentar lagi akan meledak. Gemetar tanganku menggenggam hp yang berisi sms Riko. Suara Momo membuatku terkejut. Dia tiba-tiba datang ke kamarku dan langsung membuang dirinya ke atas tempat tidur.
" Kamu gimana sih sama Riko?" Tanya Momo tiba-tiba.
" Ya gimana, gini-gini aja! Aku gak mungkin minta dia untuk nembak aku lagi!"
" Tapi gimana dengan si Adil? Kamu udah cuekin dia tiga hari lo!"
" Iya juga sih, tapi gak bisa bohong juga kalo aku belum bisa move on dari Riko!"
" Kalo gitu ceritanya, kamu musti ngomong sama Adil, kasian juga si Adilnya!"
" Iya ntar deh aku sms dia! "
" Jangan sms rika, ngomong langsung, face to face!!!" Tegas Momo seraya menggunakan kedua tangannya untuk menjelaskan.
" gak berani! "
" Harus berani! Sini mana hp-mu, aku sms Adil minta ketemuan ntar sore! Tenang aku temenin!"
Momo mengetik kata demi kata diatas tombol hapeku. Entah kenapa aku mulai takut. Aku tidak selingkuh, namun hatiku belum bisa beranjak dari sosok Riko yang dulu pernah meninggalkanku dengan alasan konyolnya.
Sebelas Januari, pertama kali aku melihat wajah Riko yang malu-malu mengucapkan kata yang membuat jantungku berdetak lebih kencang seperti biasanya. Hari itu aku dan dia menjadi sepasang anak SMA yang sedang jatuh cinta. Bulan demi bulan berlalu, dia berubah. Tidak seperti biasanya dan mengirimkan pesan teks yang berisi :
Kt udahan aja, aku ngrasa km brubah,jrg hubngi aku lgi!trmksh dan maaf!
Aku tertawa membaca pesan teks yang dikirimkan Riko. Aku belum paham mengapa Ia tiba-tiba mengirimkan pesan ini padaku. Aku menjawabnya dengan santai tanpa perasaan sakit hati sama sekali.
Oke gpp, terimksih sudh jd pcr yg baik slm ini.
Entah di hari ke-3 sejak kami putus, disitu aku merasa sangat membutuhkannya. Riko yang setiap malam menyanyikan lagu I'm yours dari Jason Mraz untukku dengan suara merdunya, yang datang Kerumah hanya untuk sekedar mengobrol, dan dia dengan motor bebek C70 yang lucu selalu datang dengan senyuman ke depan pintu rumah. Aku baru merasakan bahwa Riko kini telah pergi.
Sejak hubunganku dan Riko berakhir, aku memulai hubungan baru dengan Adil, seorang anak SMA Pancasila yang sangat nakal. Namun dia sangat baik dan sopan padaku, tentunya dia sangat menyukaiku. Namun sore itu aku mengakhiri hububganku dengan dia. Iya, karena Riko datang lagi ke kehidupanku. Sekeras apapun aku berusah untuk melupakan Riko, namun dia seperti seseorang yang terus-terusan menerobos pertahananku hingga aku tak mampu lagi menjaga hubunganku dengan Adil.
Sore itu aku kembali menjadi seorang Rika yang jomblo dan tidak kesepian. Hari-hariku diisi dengan latihan tenis selama 3x seminggu di LP tempat om-ku bekerja dan aku dilatih oleh narapidana yang dulunya adalah pelatih tenis. Semua itu kulakukan demi Riko, mungkin saja dengan aku bermain tenis aku sedikit lebih paham apa yang dilakukan oleh Riko. Pelatihku adalah pelatih Riko juga. Namun karena om pelatih sempat salah aturan dalam memakai obat-obatan, dia harus mendekam di penjara dalam waktu yang lama.
Riko mengetahui bahwa aku latihan tenis, dia memarahiku saat itu. Tenis olahraga berat. Ia menemuiku dan melihat telapak tanganku. Banyak lecet yang membuat tangan mungilku terlihat tidak seindah biasanya.
Walaupun Riko tidak mengizinkanku, aku terus berlatih, entah untuk apa. Aku sendiri pun tidak mengerti.
"Assalamualaikum!"
Terdengar suara laki-laki dari pintu gerbang membuyarkan lamunanku. Aku keluar dan melihat Riko sudah berdiri dengan Mega, teman kuliahku.
" Wah long time no see pak guru!" Kataku terkejut melihat Riko.
" Aah jangan dipanggil pak guru, belum pantes!"
" Oala, cukuran rambut rapi, tampang.. Hhmmmm.. Paslah disebut pak guru!" Jawabku seraya menilai Riko.
" Iya nih pak guru sok gak mau ngaku kalo udah jadi pak guru beneran!" Sahut Mega.
" Hahaha.. Masuk yuk, udah lama gak kumpul!"
Kami duduk di teras depan rumah.
" Pade jomblo kan?" Tanya Riko tiba-tiba.
" Iya! " kompak aku dan Mega.
" Kasian deh kalian, kayak aku dong, udah punya pacar!"
" Seriusan? siapa siapa? "
" Kepo banget sih cewek-cewek jomblo ini!"
" Ihhhh Rikoo!!!!! Siapaaaa?" Tanyaku penasaran.
" Ada cewek tapi putusnya kemaren!!" Jawab Riko sambil senyum nyengir.
" RIKOOOOOOOO!!!!!!" Kompak Aku dan Mega meneriaki Riko.
****
Riko mengirimiku pesan teks yang cukup panjang pada bulan Oktober itu. Pesan yang membuat hatiku yang sedang kubangun kembali kemudian hancur oleh gempa bumi. Pesannya membuatku sadar, aku harus berhenti saat itu juga.
Ka, maafin aku. Aku bukannya gak mau nembak km lgi, aku syg sm km. Tp aku takut putus lg sm km. Aku gak mau hubungn kita renggang sprti dlu, aku mau kita sprti ini, sahabtan. Krna shbtan itu gak bakalan prnh ad kata putus. Aku tkut nyakitin km lg, aku udh snng bngt km mau maafin aku. Gpp kan skrg kita sprti ini? Sahabatan dan gak lbh dr itu?
***
"RIKO!RIKO!RIKO!" Sorak sorai aku dan teman-teman saat baru datang.
Semua mata menoleh pada kami dengan tatapan tajam.
Tatapan menusuk yang membuat mulut kami tertutup rapat.
" Kenapa sih? " Tanya Momo
" Gak tahu!" Jawabku.
Kami duduk beralaskan kerikil melanjutkan menyaksikan pertandingan tenis Riko. Ronde pertama telah berakhir. Riko segera menghampiri pelatihnya lalu memutar langkahnya menuju kami.
Kuperhatikan setiap detail dirinya dari kejauhan. Peluhan keringat yang tercipta jatuh dari kulit hitam manisnya. Menyentuh hidungnya yang tidak terlalu mancung. Tangannya refleks terangkat mengusap rintikan air yang mengalir dari kulit hitamnya. Senyumnya dari balik Matahari siang terlihat begitu sempurna.
" Makasi udah datang!" Ucapan Riko yang menyapu seluruh lamunanku.
" Kalo nonton tenis gak boleh teriak-teriak, ntar pemainnya gak konsen!" Sambungnya.
" Ohhh, pantes aja semuanya noleh tadi! ini nih suaranya Rika yang paling cempreng!"
"Loh kok aku?"
Kami mengobrol saat Riko sedang beristirahat. Beberapa saat kemudian Riko kembali berdiri di tengah lapangan memegang raket tenisnya, berpose dengan tubuh atletisnya bersiap men-smash bola hijau yang datang kepadanya. Pertandingan berlangsung cukup lama, sedangkan aku dan teman-teman harus segera pulang. Aku meninggalkan lapangan saat Riko masih fokus dengan raketnya di tengah lapangan. Matanya sedikit melirik saat aku melambaikan tangan.
****
Kulempar hp-ku ke atas tempat tidur. Mengambil novel yang baru kubaca setengah, memakai kacamata lalu duduk di kursi samping tempat tidur. Hp-ku berdering. Dengan sigap kuambil hp tersebut lalu membuka pesan masuk.
Mks y ud mau nnton, semngt deh ditonton km! Lusa ad prtndgn lg, Klo sempet nnton lg ya :)
Iya, itu pesan dari Riko. Sontak sms itu membuat mulutku tersenyum begitu lebarnya. Pipiku memerah seperti tomat, jantungku seperti bom waktu yang sebentar lagi akan meledak. Gemetar tanganku menggenggam hp yang berisi sms Riko. Suara Momo membuatku terkejut. Dia tiba-tiba datang ke kamarku dan langsung membuang dirinya ke atas tempat tidur.
" Kamu gimana sih sama Riko?" Tanya Momo tiba-tiba.
" Ya gimana, gini-gini aja! Aku gak mungkin minta dia untuk nembak aku lagi!"
" Tapi gimana dengan si Adil? Kamu udah cuekin dia tiga hari lo!"
" Iya juga sih, tapi gak bisa bohong juga kalo aku belum bisa move on dari Riko!"
" Kalo gitu ceritanya, kamu musti ngomong sama Adil, kasian juga si Adilnya!"
" Iya ntar deh aku sms dia! "
" Jangan sms rika, ngomong langsung, face to face!!!" Tegas Momo seraya menggunakan kedua tangannya untuk menjelaskan.
" gak berani! "
" Harus berani! Sini mana hp-mu, aku sms Adil minta ketemuan ntar sore! Tenang aku temenin!"
Momo mengetik kata demi kata diatas tombol hapeku. Entah kenapa aku mulai takut. Aku tidak selingkuh, namun hatiku belum bisa beranjak dari sosok Riko yang dulu pernah meninggalkanku dengan alasan konyolnya.
Sebelas Januari, pertama kali aku melihat wajah Riko yang malu-malu mengucapkan kata yang membuat jantungku berdetak lebih kencang seperti biasanya. Hari itu aku dan dia menjadi sepasang anak SMA yang sedang jatuh cinta. Bulan demi bulan berlalu, dia berubah. Tidak seperti biasanya dan mengirimkan pesan teks yang berisi :
Kt udahan aja, aku ngrasa km brubah,jrg hubngi aku lgi!trmksh dan maaf!
Aku tertawa membaca pesan teks yang dikirimkan Riko. Aku belum paham mengapa Ia tiba-tiba mengirimkan pesan ini padaku. Aku menjawabnya dengan santai tanpa perasaan sakit hati sama sekali.
Oke gpp, terimksih sudh jd pcr yg baik slm ini.
Entah di hari ke-3 sejak kami putus, disitu aku merasa sangat membutuhkannya. Riko yang setiap malam menyanyikan lagu I'm yours dari Jason Mraz untukku dengan suara merdunya, yang datang Kerumah hanya untuk sekedar mengobrol, dan dia dengan motor bebek C70 yang lucu selalu datang dengan senyuman ke depan pintu rumah. Aku baru merasakan bahwa Riko kini telah pergi.
Sejak hubunganku dan Riko berakhir, aku memulai hubungan baru dengan Adil, seorang anak SMA Pancasila yang sangat nakal. Namun dia sangat baik dan sopan padaku, tentunya dia sangat menyukaiku. Namun sore itu aku mengakhiri hububganku dengan dia. Iya, karena Riko datang lagi ke kehidupanku. Sekeras apapun aku berusah untuk melupakan Riko, namun dia seperti seseorang yang terus-terusan menerobos pertahananku hingga aku tak mampu lagi menjaga hubunganku dengan Adil.
Sore itu aku kembali menjadi seorang Rika yang jomblo dan tidak kesepian. Hari-hariku diisi dengan latihan tenis selama 3x seminggu di LP tempat om-ku bekerja dan aku dilatih oleh narapidana yang dulunya adalah pelatih tenis. Semua itu kulakukan demi Riko, mungkin saja dengan aku bermain tenis aku sedikit lebih paham apa yang dilakukan oleh Riko. Pelatihku adalah pelatih Riko juga. Namun karena om pelatih sempat salah aturan dalam memakai obat-obatan, dia harus mendekam di penjara dalam waktu yang lama.
Riko mengetahui bahwa aku latihan tenis, dia memarahiku saat itu. Tenis olahraga berat. Ia menemuiku dan melihat telapak tanganku. Banyak lecet yang membuat tangan mungilku terlihat tidak seindah biasanya.
Walaupun Riko tidak mengizinkanku, aku terus berlatih, entah untuk apa. Aku sendiri pun tidak mengerti.
"Assalamualaikum!"
Terdengar suara laki-laki dari pintu gerbang membuyarkan lamunanku. Aku keluar dan melihat Riko sudah berdiri dengan Mega, teman kuliahku.
" Wah long time no see pak guru!" Kataku terkejut melihat Riko.
" Aah jangan dipanggil pak guru, belum pantes!"
" Oala, cukuran rambut rapi, tampang.. Hhmmmm.. Paslah disebut pak guru!" Jawabku seraya menilai Riko.
" Iya nih pak guru sok gak mau ngaku kalo udah jadi pak guru beneran!" Sahut Mega.
" Hahaha.. Masuk yuk, udah lama gak kumpul!"
Kami duduk di teras depan rumah.
" Pade jomblo kan?" Tanya Riko tiba-tiba.
" Iya! " kompak aku dan Mega.
" Kasian deh kalian, kayak aku dong, udah punya pacar!"
" Seriusan? siapa siapa? "
" Kepo banget sih cewek-cewek jomblo ini!"
" Ihhhh Rikoo!!!!! Siapaaaa?" Tanyaku penasaran.
" Ada cewek tapi putusnya kemaren!!" Jawab Riko sambil senyum nyengir.
" RIKOOOOOOOO!!!!!!" Kompak Aku dan Mega meneriaki Riko.
****
Riko mengirimiku pesan teks yang cukup panjang pada bulan Oktober itu. Pesan yang membuat hatiku yang sedang kubangun kembali kemudian hancur oleh gempa bumi. Pesannya membuatku sadar, aku harus berhenti saat itu juga.
Ka, maafin aku. Aku bukannya gak mau nembak km lgi, aku syg sm km. Tp aku takut putus lg sm km. Aku gak mau hubungn kita renggang sprti dlu, aku mau kita sprti ini, sahabtan. Krna shbtan itu gak bakalan prnh ad kata putus. Aku tkut nyakitin km lg, aku udh snng bngt km mau maafin aku. Gpp kan skrg kita sprti ini? Sahabatan dan gak lbh dr itu?
***
0 comments:
Post a Comment