"Teringat masa kecilku, kau peluk dan kau manja..."
Kalian pasti tau kan sepenggal lirik di atas. Iya itu lagu tentang "Ayah". Bagaimana sosok "Bapak" di mata kalian?? Bagiku sosok Bapak adalah segalanya,tentunya Ibu selalu berada di urutan paling atas.
Bapakku, dia sosok laki-laki yang bertanggung jawab namun ada kalanya dia tergiur dengan keindahan alam lain.
Hahahaha..
Aku teringat bagaimana ibuku menceritakan saat aku dilahirkan, disana tidak ada bapak yang menyaksikan saat aku dilahirkan ke dunia ini. Saat itu bapakku sedang sakit parah. Aku tidak mendengar alunan suara adzan yang biasa dilantunkan oleh para bapak saat bayi kecilnya dilahirkan ke dunia ini.
Masa kecilku adalah masa paling membahagiakan yang pernah ku alami. Aku hidup berpindah-pindah tempat namun masi dalam satu pulau karena pekerjaan bapak. Bapak dulu bekerja di LP Praya sebelum pindah ke RUPBASAN. Ketidakcocokanku dengan lingkungan disana membuatku harus berpisah dengan kedua orang tuaku saat aku berusia 8 bulan. Masih cukup kecil bukan? Aku tinggal bersama mbah putri, mbah kakung, paman dan bibiku. Mereka adalah keluarga ibuku. Mereka sangat menyayangi aku, karena akulah si cucu pertama dari keluarga ibu maupun ayahku.
Diriku sejak kecil memang sedikit aneh, aku gadis kecil yang sangat takut dengan "nasi". Satu biji nasi bisa membuatku merinding dan menangis. Entah sejarahnya apa sampai aku bermusuhan dengan nasi.
Sampai pada umurku 5 tahun, aku bisa memakan makanan yang menurutku itu menjijikkan karena tekadku ingin bersekolah seperti teman-temanku. Aku bisa makan "nasi". Aku memasuki dunia taman kanak-kanak. Ayunan, jungkat-jungkit, prosotan, dress biru ala anak TK dengan baju kemeja kerah didalamnya, aku bertemu dengan mereka semua setiap hari saat aku memasuki dunia itu. Aku sedang tersenyum hangat saat menulis tentang masa-masa itu. Mengapa? Ya karena aku sangat bahagia tanpa pikiran saat itu. Setiap pagi, siang, malam bapak selalu menyuapi jika aku makan seraya bercerita hal-hal tidak masuk akal. Sekarang aku menyadarinya dan begitu polosnya aku mempercayai cerita bapak. Wuaaa~ its so warm guys.
Aku hidup dengan didikan keras. Memiliki orang tua seperti mereka adalah anugerah terindah dalam hidupku. Disaat ini, saat usiaku 23 tahun aku menyadari hasil didikan mereka yang begitu keras saat aku masih kecil. Aku memahami maksud dan tujuan didikan keras mereka. Really love you, mom..dad..
Aku merasa bangga memiliki mereka walaupun kehidupan kami serba berkecukupan. Gaji bapak yang seorang PNS sejauh ini cukup untuk menghidupi istri dan anaknya sampai saat ini walaupun hutang masih menjadi cerita tambahan dalam kehidupan kami.
Oktober, 2014
Ini titik terberat kehidupan yang aku dan keluargaku alami. Dimana pengkhianatan yang dilakukan seseorang pada kami begitu terasa. Aku seperti mayat hidup saat itu. Aku seperti hantu. Aku seperti tidak berpijak di bumi. Bagaimana dengan ibuku? Tentunya dia yang merasa paling tersakiti saat itu. Kondisi bapak yang tidak sadarkan diri karena kecelakaan, kondisi yang pengkhianatannya terungkap saat itu, kondisi keuangan keluarga yang sangat minim, sudah cukup lengkap bukan? Ditambah masalah ekstra kecemburuan sosial seorang wanita padaku karena aku berteman dengan kekasihnya yang tidak lain adalah mantan kekasihku dulu. Seperti jatuh tertimpa tangga lagi guys rasanya. Aku, anak sulung. Aku memiliki dua adik, seorang gadis yang duduk di bangku SMA dan seorang laki-laki kecil yang saat ini masih duduk di bangku SD. Seandainya semuanya terputus, bagaimana nasib kedua adikku?
Aku seorang wanita yang memiliki kepribadian yang pendiam jika marah, sedih. Aku tidak mampu berbicara langsung jika ada masalah. Selama aku bisa mengatasinya sendiri, kenapa harus dibebankan pada orang lain? Bisakah kau bayangkan rasanya bagaimana jadi aku saat di rumah sakit menjaga kedua orang tuaku? Bapak yang tidak sadarkan diri dan ibu yang hatinya sedang benar-benar sakit hingga ingin berniat melakukan hal bodoh? Bayangkan saja rasanya merawat bapak yang mengalami COS (cidera otak sedang) yang kesadarannya tidak sempurna. Yang setiap hari selalu kujaga tubuhnya yang begitu besar untuk tidak bangun dari tempat tidurnya dan membuka selang infus. Yang merengek seperti anak kecil karena ingin minum atau buang air kecil. Disisi lain aku harus menjaga setiap gerak-gerik ibu yang bisa saja melakukan hal nekat. Dan ditambah lagi masalah tambahan dengan wanita dan mantan kekasihku. Hai wanita cantik, aku tidak ingin merebut kekasihmu, aku hanya ingin berbagi cerita dengan kekasihmu. Karena aku membutuhkan teman saat itu. Aku sangat butuh. Teman-temanku saat itu sudah pulang kampung dan otakku blank tidak bisa berpikir. Dan aku tidak tahu jika kau masih bersamanya, aku pikir kalian sudah tidak ada apa-apa lagi. Maap.
Mungkin kalian memiliki masalah yang berbeda-beda dan ukuran yang berbeda-beda menilai suatu masalah ini besar atau kecil. Tapi bagiku ini masalah terbesar yang pernah aku alami.
Di suatu malam, di rumah sakit yang hawanya begitu dingin, aku berbagi tangis dengan ibu. Menumpahkan semua kesalahan pada bapak. Aku merasakan bagaimana perihnya yang dirasakan ibu saat ibu memelukku. Aku memohon untuk tidak melakukan hal-hal nekat dan egois. Silahkan lakukan hal tersebut jika anak mereka hanya aku. Tapi mereka masi memiliki dua anak yang masi butuh biaya sekolah dan kasih sayang.
Aku? Aku baik-baik saja. Jangan lihat aku, lihatlah kedua adikku yang hidupnya masih panjang dan ingin mempunyai kedua orang tua yang selalu berada disampingnya. Sosok orang tua yang mereka lihat setiap pulang sekolah, yang mereka lihat saat baru membuka mata, dan sosok orang tua yang ada saat mereka menjadi sukses. Saat itu aku berkeliaran dijalanan entah tak tahu mau kemana dengan supir taxi. Otakku blank! Hatiku benar-benar hancur dibuatnya.
Ketahuilah, ini lebih sakit dari sekedar patah hati. Tubuh melemas, detak jantung terasa lebih kencang dari biasanya, over thinking guys!!
Allah memberikan aku masalah ini karena Allah tau aku kuat, aku bisa melewatinya. Rumah sepi, seperti tidak berpenghuni. Debu rumah yang tebal karena tidak ada yang menempatinya lumayan lama. Rumah yang dulu hangat dan selalu menjadi tujuan pulang saat itu terasa dingin, kosong. Angin yang masuk dari celah-celah ventilasi terasa sangat menusuk saat itu. Sakit. Perih. Melihat adik laki-lakiku datang menghampiri dengan tawa di wajahnya, bertanya " Bapak udah bangun, kak?" Tahukah kalian bagaimana rasanya? Akankah tawa itu akan selalu seperti itu? HARUS! Itu pikirku, itu tawa yang harus kujaga jangan sampai digantikan dengan tangis dan penyesalan.
Menyelamatkan keluarga adalah misiku saat itu. Aku yang begitu nekat pergi jauh mencari rumah "sang mafia pengganggu" yang merusak kebahagian keluargaku saat itu. Setiap langkah aku mengingat bagaimana tangisan ibu karenanya, bagaimana bapak karenanya, bagaimana aku, dan adik-adikku.
Dua hari perjalanan yang begitu jauh dan panas hingga akhirnya aku bertatap muka dan berbicara dengan "sang mafia pengganggu". Aku selalu ingat kata ibu " Sesakit hatinya kita sama orang, kita tetap harus sopan. Ibu sekolahin kamu biar kamu jadi orang yang berpendidikan. Tunjukkan kamu anak yang berpendidikan yang menyelesaikan masalah dengan baik-baik". Really really love you, mom ..
Bertatap muka dengan seorang "WANITA PENGGANGGU" dirumahnya, berbicara sinis dan sedikit mengancam. Dusta dan omong kosong yang dia keluarkan dari bibir merahnya. Sejak aku masih SMP, hitung saja berapa tahun, bisakah kau terus-terusan percaya laki-laki jika yang sudah menikah saja masih bisa berkhianat apalagi yang belum halal? BISA? Tahukah kalian bagaimana rasanya jadi aku yang sedari kecil dimanja oleh seorang laki-laki yang membuatku merasa menjadi seorang putri kerajaan bersamanya. Yang selalu mengajariku membaca, menghitung, bahkan bersikap, namun ketika dewasa kau menemukan dia mengabaikan kepercayaan yang di berikan?
Bisakah aku menemukan seseorang yang begitu mencintai dan menjagaku tanpa ada pengkhianatan dalam kisah kami?
Mungkin bisa.
Tapi Bisakah aku percaya lagi?
Masih bolehkah aku mempercayai lagi ?
Bisakah?
Masalah selesai saat itu juga. Dia menyesali semua perbuatannya dan berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Namun ibu tidak secepat itu memaafkan segalanya.
Yah~
badai itu pasti benar-benar berlalu. Terimakasih orang-orang yang ada saat aku jatuh. Orang yang membantuku saat itu.
Mutia, thanks udah jadi orang yang dateng saat berita besar itu terdengar. Sudah memberikan pelukan hangatnya untuk nenangin hati.
Bunda Ela, Thanks banget udah mau nemenin sabtu itu nyari rumah " WANITA T*I" itu. Udah jauh jauh nyasar sama gueeehhh sampe lotim.
Kak ipung, terimakasih sudah jadi pendengar dan penasihat saat itu. Gitarannya buat adem dihari besar itu, teh kotaknya buat hati yang panas jadi dingin walaupun sementara, sarapannya yang buat bahagia saat itu.
Puput, thanks sudah mau diajakin keluar malemmalem nongki di alfamart pas saya lagi uree banget gatau mau kemana dan ketika saya gak mampu nahen semua masalah saya sendiri. Thanks udah mau dianterin lagi sampe rumah sakit.
Aku begitu menyayangi kalian semua. Aku, adik-adikku, ibu, dan ayah ingin melupakan semuanya. Ingin kembali hidup dengan tawa di setiap harinya. Ingin hidup saat malam hari kami bisa berbagi satu ice cream bersama-sama. Dan saat ini, menyuapi ice cream ke bapak adalah moment terfavorit dalam kedewasaanku yang perlahan menjadi sempurna.
Ada masa dimana aku takut memulai hubungan karena bapak. Aku takut apa yang dilakukan bapak terjadi padaku. Ini alasan kenapa aku lebih memilih sendiri daripada harus memulai hubungan dengan yang lain. Selain itu aku tidak ingin menduakan Allah dengan mencintai orang yang belum tentu menjadi jodohku. Aku yakin suatu saat menemukan seseorang yang tidak pernah bosan menyayangiku, menjaga kepercayaan, mengerti tentang diriku.
Aku, Ria.
Suatu malam, dingin.