“ Strawberry Choco Cheese Cake ala
Alil! “
“ Wah, cantik sekali Lil! Cantik
seperti yang buat!” Goda salah satu seniornya yang bernama Affa.
Alil
adalah seorang wanita berusia dua puluh lima tahun yang saat ini bekerja di
salah satu restoran terkenal di kotanya. Berawal dari seorang pencuci piring di
dapur hotel, sampai saat ini Alil bisa menjadi asisten Affa karena kemampuannya
yang mahir dalam membuat kue.
“ Oh iya dong chef Affa, yang buat
cantik kuenya harus cantik dong!” Jawab Alil dengan percaya diri.
“ Rasanya cantik juga gak?”
“ Oh jelas cantik, nih cobain!”
“ Duh, sayang banget mau dimakan!”
“ Yaudah deh gak usah! Biar aku aja
yang cicip sendiri!” Jawab Alil dengan nada sedikit kesal.
Affa
yang melihat perubahan wajah Alil menarik kembali piring berisi kue cantik yang
saat ini sedang dipegang Alil.
“ Eehh ehh gak boleh gitu dong,
barang yang udah dikasih gak boleh diambil lagi!”
Affa
pun mencicip kue buatan Alil.
“ Gimana gimana gimana? “ Tanya Alil
penasaran.
Affa
hanya tersenyum dan meletakkan piring itu di atas meja. Lalu pergi menuju ruang
ganti.
“ CHEFFF AFFAAAA!!! GIMANA???”
Teriak Alil.
“ Ssstttttttt!!!” Jawab Affa sambil
meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya dari kejauhan.
Alil
terlihat kesal. Karena setiap Affa mencicipi kue buatannya, respon Affa selalu
seperti itu.
Alil membersihkan dapur restoran dan
langsung menuju ruang ganti. Kekesalannya pada Affa masih ia rasakan sampai
saat ini. Ia mengambil tas dan mengelurkan handphonenya.
“ Affa??”
Alil
terkejut membaca sms dari Affa. Seketika wajah kesalnya berubah menjadi
senyuman manis yang ia tebarkan di sepanjang jalan saat pulang dari restoran.
Pagi ini Alil membersihkan seluruh
rumah, lalu membantu ibunya membuat sarapan untuk ayah dan kedua adiknya.
Minggu pagi adalah minggu yang merdeka buat Alil, karena hari ini ia libur
bekerja.
“ Kak ALILLL ADA YANG CARIIN!!”
Teriak Riva dari ruang tamu.
Alil
bergegas menuju ruang tamu melihat siapa yang mencarinya sepagi ini.
“ Selamat pagi Alil!” Sapa Affa
dengan senyum manisnya yang sangat Alil sukai.
Affa
seorang chef pastry berusia dua puluh tujuh tahun yang sangat tampan di mata
Alil. Badan Affa yang tegap dengan tinggi badan 170 cm, berkulit sawo matang
dengan lesung di pipi kanannya membuat Affa terlihat menjadi sosok laki-laki
sempurna bagi Alil.
“ CHEF?” Kata Alil terkejut.
Affa
tersenyum cekikikan melihat tampilan Alil di rumah. Dia melihat real Alil, Alil yang benar-benar
original tanpa polesan make up atau lipstick.
“ Ada apa kok tiba-tiba? Kenapa gak
bbm dulu?”
“ Gak boleh?”
“ Boleh kok boleh. Isstt selalu deh
nanya gitu.” Jawab Alil kesal.
Affa
hanya tersenyum melihat Alil yang kesal. Alil mempersilahkan Affa duduk dan
menyuguhkan teh hangat dan sekotak cookies
coklat buatannya.
“ Lil, jalan yuk!” Ajak Affa
tiba-tiba.
“ JALAN?” Alil terkejut. “ NO, NO,
NO!” Tolak Alil.
“ Gak bakal ada tragedi
siram-siraman lagi, gak bakal ada tragedi omel-omelan lagi! Aku janji!”
Alil
tampak berpikir. Selama tiga kali Affa mengajak Alil keluar jalan-jalan, Alil
selalu terkena sial. Pacar Affa yang terlalu over protektif selalu memergoki
mereka berdua dan Alil-lah yang menjadi korban.
“ Ada jaminan?” Tanya Alil penuh
negosiasi.
Affa
memberikan ponselnya kepada Alil. Alil membaca sms dari pacar Affa yang saat
ini sudah berstatus menjadi mantan.
“ Oke, aku mandi dulu!”
Lima
menit kemudian Alil sudah berdiri di depan Affa dengan menggunakan kaos lengan panjang
putih dan celana jeans biru muda yang membuatnya terlihat seperti anak SMA.
“ Udah mandi?” Tanya Affa ragu.
Alil
bisa mandi dengan kekuatan elang saat akan memangsa. Lebih cepat dari kecepatan
cahaya.
“ Pergi gak ni?” Gertak Alil.
“ Iya iya pergi! Aku pamit ke ibu
sama ayah dulu!”
Affa
yang sudah akrab dengan orang tua Alil tampak nyaman berada di rumah Alil.
Pertemuan pertama Affa dengan Alil
saat Alil menjadi seorang pencuci piring di restoran tempatnya bekerja. Saat
restoran close, Affa sering
memperhatikan kebiasaan Alil yang sering duduk sambil melihat-lihat dapur
restoran. Pikiran negatif sempat terlintas di otak Affa, Affa pernah menganggap
Alil sebagai pencuri.
“ Apa yang kamu lakukan disini
setiap malam?” Tanya Affa penuh curiga.
“ Selamat malam, Chef! Maaf
sebelumnya, saya cuma bahagia saja berada di dapur yang dari dulu sangat saya
inginkan! Sebentar aja boleh? Lima menit?”
“ Dua menit, setelah itu kamu boleh
pulang! Tapi, kenapa kamu merasa bahagia berada di sini?”
“
Iya, karena dari dulu saya sangat ingin menjadi seperti chef! Dari kecil saya
sering liat ibu buat kue dan entah mengapa saya juga ingin membuatnya. Kue
pertama saya saat itu untuk pacar saya saat masih SMA. Sejak itu membuat kue
adalah hobi saya. Saat kuliah, saya sering membayangkan takaran betadin dan
aquades untuk membersihkan luka seperti akan membuat adonan kue.”
“ Betadin? Aquades? Kamu kuliah
dimana dulu?”
“ Saya seorang perawat yang sudah
mengangkat sumpah perawatnya lalu meninggalkan pekerjaannya sebagai admin di
salah satu perusahaan asuransi demi menjadi seorang pencuci piring di
restoran.”
“ Kamu bodoh!”
“ Semua orang akan berkata seperti
itu. Tetapi saya yakin, ketika saya mengikuti hati saya, semua akan baik-baik
saja!”
Affa
hanya terdiam mendengar penjelasan Alil.
“ Saya sangat mencintai pastry,
dunia saya terasa lengkap, hati saya bahagia ketika menciptakan karya yang
mungkin gak selezat yang dibuat professional. Tapi saya bahagia. Ketika orang
lain menikmati liburan mereka di pantai, gunung, di hutan atau entah dimana,
saya lebih baik di dapur bermain dengan bahan-bahan yang udah ada dan
menciptakan keindahan. Saya ingin menciptakan keindahan dengan rasa kepuasan
pribadi dalam diri saya. Saya bisa menghabiskan waktu seminggu di dapur saat
liburan semester. Saya bahagia karena saya sangat menikmati. Dan impian saya
bisa berdiri ditempat yang sama dengan para chef di dapur restoran yang akan
menciptakan keindahan untuk memberi kepuasan untuk orang banyak. Apalagi saat
ini, detik ini, saya bisa berbicara langsung dengan chef Affa yang sejak saya
bekerja di sini hanya bisa melihatnya konsentrasi dengan hasil karyanya. Terima
kasih, chef!”
Affa
tertegun mendengar penjelasan wanita yang berdiri sambil berbicara di depannya
saat ini. Ditariknya lengan Alil dan dibawanya menuju meja pojok tempat
biasanya Ia bekerja.
“ Kamu harus menciptakan keindahan
itu malam ini!” Kata Affa dengan tegas.
Ia
beranjak keluar dari dapur dan duduk di kursi tamu paling depan agar bisa
melihat wanita yang membuatnya tertegun malam ini. Alil terkejut tak percaya
bahwa ia boleh memakai seluruh peralatan yang digunakan Affa.
Affa tak lepas memandangi Alil yang
dengan gesit dan hati-hati membuatkannya strawberry lava cake. Satu jam berlalu
dan Affa terkejut melihat hasil ciptaan wanita ini.
“ Sangat cantik! Terima kasih!” Ucap
Affa yang sangat terkejut melihat ciptaan seindah itu.
“ Ini strawberry lava cake pertama
saya dan special untuk chef karena udah ngizinin saya make dapurnya!”
Plating
yang cantik dengan lava cake bundar ditengah dan garnish daun mint diatasnya
ditambah tulisan “ THANK’S AFFA “ dengan menggunakan selai strawberry.
“ Mulai besok aku mau kamu jadi
asistenku!”
Kata-kata
Affa itulah yang membuat Alil menjadi asistennya sampai saat ini. Sesekali
dessert buatan Alil yang dihidangkan pada para tamu.
Semakin lama hubungan Alil dan Affa
semakin dekat, sehingga Affa memberanikan diri untuk mengajaknya jalan walaupun
saat itu Affa sudah memiliki Naura yang sangat over protektif.
“ Aku mengikuti kata hatiku seperti
yang dulu yang pernah kamu katakan kepadaku. Ketika kita mengikuti kata hati,
yakin aja pasti akan baik-baik saja. Dan sepertinya aku sangat baik-baik saja
bersamamu!” Ucap Affa tiba-tiba saat dalam perjalanan yang membuat Alil terkejut.
“ Chef masih inget? Wahh ingatannya
lumayan yah walopun udah tua!Hahahahaha…”
“ Enak aja tua! Udah nyampe, yuk
turun!”
“ Loh loh ini kan restoran, kenapa
kesini? Kan hari libur chef!” Tanya Alil bingung.
“ Kamu diem aja, ikut aja! Sekarang
harus ngikutin perintah chef!”
“ Apaan ni? Aduhh, ibuuuu aku
diculikkkk!”
Affa
menarik tangan Alil dan membawanya masuk ke dalam restoran. Alil duduk di
bangku paling depan, tempat dimana pertama kali Affa duduk saat menunggunya
selesai masak. Affa pergi ke ruang ganti dan kembali dengan pakaian chef rapi
yang biasa ia gunakan setiap hari. Affa mengambil peralatan memasaknya dan
mulai mengeluarkan kemampuannya di dapur. Alil selalu terpesona melihat Affa
jika sudah bermain di dapur. Sejam berlalu dan Alil dibuat tak mampu
berkata-kata melihat apa yang Affa ciptakan untuknya.
“ CHEF???? I…niii buaaatt aku?”
Tanya Alil gagap.
Affa
hanya mengangguk.
“ Ahhhh~ aku gak tega makannya! Foto
dulu foto dulu!” Alil mengeluarkan handphone dari tasnya tetapi Affa
merebutnya.
“ Serius, Lil!!Plis, jangan dianggap
main-main!”
Alil
sebenarnya sedang gerogi. Dia masih tidak menyangka kalau Affa akan
membuatkannya strawberry lava cake dengan tulisan “I LOVE ALIL” dengan saus
strawberry. Alil tersenyum dan mengangguk.
“ Apa? Artinya aku aku gak ngerti!”
Alil
mengambil piring dan saus strawberry di pantry, lalu ditulisnya jawaban yang
membuat Affa langsung memeluknya erat.
“
I LOVE AFFA”.




