Tuesday, January 26, 2016

Strawberry Choco Cheese Cake ala Alil

            “ Strawberry Choco Cheese Cake ala Alil! “
            “ Wah, cantik sekali Lil! Cantik seperti yang buat!” Goda salah satu seniornya yang bernama Affa.
Alil adalah seorang wanita berusia dua puluh lima tahun yang saat ini bekerja di salah satu restoran terkenal di kotanya. Berawal dari seorang pencuci piring di dapur hotel, sampai saat ini Alil bisa menjadi asisten Affa karena kemampuannya yang mahir dalam membuat kue.
            “ Oh iya dong chef Affa, yang buat cantik kuenya harus cantik dong!” Jawab Alil dengan percaya diri.
            “ Rasanya cantik juga gak?”
            “ Oh jelas cantik, nih cobain!”
            “ Duh, sayang banget mau dimakan!”
            “ Yaudah deh gak usah! Biar aku aja yang cicip sendiri!” Jawab Alil dengan nada sedikit kesal.
Affa yang melihat perubahan wajah Alil menarik kembali piring berisi kue cantik yang saat ini sedang dipegang Alil.
            “ Eehh ehh gak boleh gitu dong, barang yang udah dikasih gak boleh diambil lagi!”
Affa pun mencicip kue buatan Alil.
            “ Gimana gimana gimana? “ Tanya Alil penasaran.
Affa hanya tersenyum dan meletakkan piring itu di atas meja. Lalu pergi menuju ruang ganti.
            “ CHEFFF AFFAAAA!!! GIMANA???” Teriak Alil.
            “ Ssstttttttt!!!” Jawab Affa sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya dari kejauhan.
Alil terlihat kesal. Karena setiap Affa mencicipi kue buatannya, respon Affa selalu seperti itu.
            Alil membersihkan dapur restoran dan langsung menuju ruang ganti. Kekesalannya pada Affa masih ia rasakan sampai saat ini. Ia mengambil tas dan mengelurkan handphonenya.
            “ Affa??”
Alil terkejut membaca sms dari Affa. Seketika wajah kesalnya berubah menjadi senyuman manis yang ia tebarkan di sepanjang jalan saat pulang dari restoran.
            Pagi ini Alil membersihkan seluruh rumah, lalu membantu ibunya membuat sarapan untuk ayah dan kedua adiknya. Minggu pagi adalah minggu yang merdeka buat Alil, karena hari ini ia libur bekerja.
            “ Kak ALILLL ADA YANG CARIIN!!” Teriak Riva dari ruang tamu.
Alil bergegas menuju ruang tamu melihat siapa yang mencarinya sepagi ini.
            “ Selamat pagi Alil!” Sapa Affa dengan senyum manisnya yang sangat Alil sukai.
Affa seorang chef pastry berusia dua puluh tujuh tahun yang sangat tampan di mata Alil. Badan Affa yang tegap dengan tinggi badan 170 cm, berkulit sawo matang dengan lesung di pipi kanannya membuat Affa terlihat menjadi sosok laki-laki sempurna bagi Alil.
            “ CHEF?” Kata Alil terkejut.
Affa tersenyum cekikikan melihat tampilan Alil di rumah. Dia melihat real Alil, Alil yang benar-benar original tanpa polesan make up atau lipstick.
            “ Ada apa kok tiba-tiba? Kenapa gak bbm dulu?”
            “ Gak boleh?”
            “ Boleh kok boleh. Isstt selalu deh nanya gitu.” Jawab Alil kesal.
Affa hanya tersenyum melihat Alil yang kesal. Alil mempersilahkan Affa duduk dan menyuguhkan teh hangat dan sekotak cookies coklat buatannya.
            “ Lil, jalan yuk!” Ajak Affa tiba-tiba.
            “ JALAN?” Alil terkejut. “ NO, NO, NO!” Tolak Alil.
            “ Gak bakal ada tragedi siram-siraman lagi, gak bakal ada tragedi omel-omelan lagi! Aku janji!”
Alil tampak berpikir. Selama tiga kali Affa mengajak Alil keluar jalan-jalan, Alil selalu terkena sial. Pacar Affa yang terlalu over protektif selalu memergoki mereka berdua dan Alil-lah yang menjadi korban.
            “ Ada jaminan?” Tanya Alil penuh negosiasi.
Affa memberikan ponselnya kepada Alil. Alil membaca sms dari pacar Affa yang saat ini sudah berstatus menjadi mantan.
            “ Oke, aku mandi dulu!”
Lima menit kemudian Alil sudah berdiri di depan Affa dengan menggunakan kaos lengan panjang putih dan celana jeans biru muda yang membuatnya terlihat seperti anak SMA.
            “ Udah mandi?” Tanya Affa ragu.
Alil bisa mandi dengan kekuatan elang saat akan memangsa. Lebih cepat dari kecepatan cahaya.
            “ Pergi gak ni?” Gertak Alil.
            “ Iya iya pergi! Aku pamit ke ibu sama ayah dulu!”
Affa yang sudah akrab dengan orang tua Alil tampak nyaman berada di rumah Alil.
            Pertemuan pertama Affa dengan Alil saat Alil menjadi seorang pencuci piring di restoran tempatnya bekerja. Saat restoran close, Affa sering memperhatikan kebiasaan Alil yang sering duduk sambil melihat-lihat dapur restoran. Pikiran negatif sempat terlintas di otak Affa, Affa pernah menganggap Alil sebagai pencuri.
            “ Apa yang kamu lakukan disini setiap malam?” Tanya Affa penuh curiga.
            “ Selamat malam, Chef! Maaf sebelumnya, saya cuma bahagia saja berada di dapur yang dari dulu sangat saya inginkan! Sebentar aja boleh? Lima menit?”
            “ Dua menit, setelah itu kamu boleh pulang! Tapi, kenapa kamu merasa bahagia berada di sini?”
“ Iya, karena dari dulu saya sangat ingin menjadi seperti chef! Dari kecil saya sering liat ibu buat kue dan entah mengapa saya juga ingin membuatnya. Kue pertama saya saat itu untuk pacar saya saat masih SMA. Sejak itu membuat kue adalah hobi saya. Saat kuliah, saya sering membayangkan takaran betadin dan aquades untuk membersihkan luka seperti akan membuat adonan kue.”
            “ Betadin? Aquades? Kamu kuliah dimana dulu?”
            “ Saya seorang perawat yang sudah mengangkat sumpah perawatnya lalu meninggalkan pekerjaannya sebagai admin di salah satu perusahaan asuransi demi menjadi seorang pencuci piring di restoran.”
            “ Kamu bodoh!”
            “ Semua orang akan berkata seperti itu. Tetapi saya yakin, ketika saya mengikuti hati saya, semua akan baik-baik saja!”
Affa hanya terdiam mendengar penjelasan Alil.
            “ Saya sangat mencintai pastry, dunia saya terasa lengkap, hati saya bahagia ketika menciptakan karya yang mungkin gak selezat yang dibuat professional. Tapi saya bahagia. Ketika orang lain menikmati liburan mereka di pantai, gunung, di hutan atau entah dimana, saya lebih baik di dapur bermain dengan bahan-bahan yang udah ada dan menciptakan keindahan. Saya ingin menciptakan keindahan dengan rasa kepuasan pribadi dalam diri saya. Saya bisa menghabiskan waktu seminggu di dapur saat liburan semester. Saya bahagia karena saya sangat menikmati. Dan impian saya bisa berdiri ditempat yang sama dengan para chef di dapur restoran yang akan menciptakan keindahan untuk memberi kepuasan untuk orang banyak. Apalagi saat ini, detik ini, saya bisa berbicara langsung dengan chef Affa yang sejak saya bekerja di sini hanya bisa melihatnya konsentrasi dengan hasil karyanya. Terima kasih, chef!”
Affa tertegun mendengar penjelasan wanita yang berdiri sambil berbicara di depannya saat ini. Ditariknya lengan Alil dan dibawanya menuju meja pojok tempat biasanya Ia bekerja.
            “ Kamu harus menciptakan keindahan itu malam ini!” Kata Affa dengan tegas.
Ia beranjak keluar dari dapur dan duduk di kursi tamu paling depan agar bisa melihat wanita yang membuatnya tertegun malam ini. Alil terkejut tak percaya bahwa ia boleh memakai seluruh peralatan yang digunakan Affa.
            Affa tak lepas memandangi Alil yang dengan gesit dan hati-hati membuatkannya strawberry lava cake. Satu jam berlalu dan Affa terkejut melihat hasil ciptaan wanita ini.
            “ Sangat cantik! Terima kasih!” Ucap Affa yang sangat terkejut melihat ciptaan seindah itu.
            “ Ini strawberry lava cake pertama saya dan special untuk chef karena udah ngizinin saya make dapurnya!”
Plating yang cantik dengan lava cake bundar ditengah dan garnish daun mint diatasnya ditambah tulisan “ THANK’S AFFA “ dengan menggunakan selai strawberry.
            “ Mulai besok aku mau kamu jadi asistenku!”
Kata-kata Affa itulah yang membuat Alil menjadi asistennya sampai saat ini. Sesekali dessert buatan Alil yang dihidangkan pada para tamu.
            Semakin lama hubungan Alil dan Affa semakin dekat, sehingga Affa memberanikan diri untuk mengajaknya jalan walaupun saat itu Affa sudah memiliki Naura yang sangat over protektif.
            “ Aku mengikuti kata hatiku seperti yang dulu yang pernah kamu katakan kepadaku. Ketika kita mengikuti kata hati, yakin aja pasti akan baik-baik saja. Dan sepertinya aku sangat baik-baik saja bersamamu!” Ucap Affa tiba-tiba saat dalam perjalanan yang membuat Alil terkejut.
            “ Chef masih inget? Wahh ingatannya lumayan yah walopun udah tua!Hahahahaha…”
            “ Enak aja tua! Udah nyampe, yuk turun!”
            “ Loh loh ini kan restoran, kenapa kesini? Kan hari libur chef!” Tanya Alil bingung.
            “ Kamu diem aja, ikut aja! Sekarang harus ngikutin perintah chef!”
            “ Apaan ni? Aduhh, ibuuuu aku diculikkkk!”
Affa menarik tangan Alil dan membawanya masuk ke dalam restoran. Alil duduk di bangku paling depan, tempat dimana pertama kali Affa duduk saat menunggunya selesai masak. Affa pergi ke ruang ganti dan kembali dengan pakaian chef rapi yang biasa ia gunakan setiap hari. Affa mengambil peralatan memasaknya dan mulai mengeluarkan kemampuannya di dapur. Alil selalu terpesona melihat Affa jika sudah bermain di dapur. Sejam berlalu dan Alil dibuat tak mampu berkata-kata melihat apa yang Affa ciptakan untuknya.
            “ CHEF???? I…niii buaaatt aku?” Tanya Alil gagap.
Affa hanya mengangguk.
            “ Ahhhh~ aku gak tega makannya! Foto dulu foto dulu!” Alil mengeluarkan handphone dari tasnya tetapi Affa merebutnya.
            “ Serius, Lil!!Plis, jangan dianggap main-main!”
Alil sebenarnya sedang gerogi. Dia masih tidak menyangka kalau Affa akan membuatkannya strawberry lava cake dengan tulisan “I LOVE ALIL” dengan saus strawberry. Alil tersenyum dan mengangguk.
            “ Apa? Artinya aku aku gak ngerti!”
Alil mengambil piring dan saus strawberry di pantry, lalu ditulisnya jawaban yang membuat Affa langsung memeluknya erat.
“ I LOVE AFFA”.


Me VS Time

            “Bisakah sehari saja kamu berdamai dengan waktu?” Tanya seorang gadis yang duduk di bawah pohon mangga seraya menutup laptop yang ada dipangkuannya.
            “ Seandainya saja waktu itu aku mampu mencegah ibu agar tidak meninggalkan aku dan Tesa!” Jawab Delfi yang tampak selalu murung dengan keadaannya saat ini.
            “ Lagi-lagi kamu berkata seandainya, Del!”
            “ Seandainya dulu aku tidak marah, aku gak bakal putus dari Jody! Seandainya aku mampu berbicara ketika orang tuaku bertengkar, ibu pasti tidak akan pergi begitu saja dari rumah. Seandainya saat itu aku langsung membawa adikku ke rumah sakit, adikku pasti tertolong dan setiap pulang kerja aku bisa melihatnya tertawa menyambutku! Seandainya….” Delfi menutup wajahnya dengan kedua tangannya tanda dirinya sudah tidak mampu berkata lagi. Air matanya mulai mengalir.
            “ Del, udah udah.. Allah kasi cobaan segitu gdenya buat kamu karena Allah tau kamu kuat! Sehari saja kamu gak bicara tentang waktu itu, seandainya, mungkin kamu bakalan merasa lebih damai! Udah ah, ntar diliatin orang!” Hibur Sena, gadis berjilbab biru yang duduk di samping Delfi.
Delfi mengusap air matanya. Matanya selalu terlihat sembab sejak adiknya meninggal dan ibunya meninggalkan rumah karena mengetahui ayahnya berselingkuh dengan wanita lain.
            “ Sen, maen ayunan yuk!” Ajak delfi.
Sena mengangguk lalu mengambil kunci motor vario matiknya. Sena dan Delfi setiap Sabtu selalu berkunjung ke taman kanak-kanan tempat ibu Sena mengajar. Bermain ayunan, melihat anak-anak kecil adalah obat dari tekanan batin yang Delfi rasakan. Sena, sebagai sahabat yang sangat tahu masalah Delfi selalu ada disamping Delfi walaupun Ia harus bertingkah seperti anak kecil di depan Delfi. Dua gadis dewasa berusia 22 tahun ini sering bertingkah konyol di taman bermain anak-anak. Mereka sangat menyukai permainan anak-anak ini. Terutama Delfi, selain memiliki wajah yang sangat irit, Delfi juga memiliki suara yang sangat lucu. Tak heran ketika Delfi memakai celana jeans panjang, kaos lengan panjang dengan jilbab dan tas ransel, banyak yang menyangka Ia masih anak SMP.
            Sesampai mereka di sekolah tempat ibu Sena mengajar, Delfi langsung berlari menuju ayunan di bawah pohon ketapang.
“Kamu duluan aja main, aku mau cari mama sebentar!” Ucap Sena.
Delfi hanya mengangguk seraya mengayunkan ayunannya sekencang-kencangnya. Delfi tidak memperhatikan sekelilingnya, sampai Ia tersadar ada yang menghentikannya dari belakang.
            “ Maaf deq, orang besar gak boleh pakai ayunan ini! Nanti rusak!” Kata laki-laki yang menggunakan almamater biru itu.
Delfi turun dari ayunan dan duduk di kursi tidak jauh dari ayunan itu. Delfi tidak meminta maaf atau berbasa-basi dengan laki-laki itu.
            “Dasar mahasiswa! “ Cibir Delfi dengan wajah kesal.
Tiba-tiba Sena datang membawa dua teh botol dan satu bungkus chitato.
            “ Kenapa berhenti?”
            “ Noh mahasiswa larang aku!” Jawabnya ketus seraya mengambil sebotol teh yang dibawa Sena.
            “ Main aja main, mama udah ngijinin kok! Ntar kalo dilarang lagi aku yang larang balek itu anak!”
            “ Ntar aja deh, mana manggil aku daq deq daq deq, emangnya aku adeknya! Jelas tuaan aku dari dia! Itu anak musti diomelin kalo sampe dia larang-larang aku lagi!”
Delfi menyeruput tehnya lalu melanjutkan mengayun-ngayunkan ayunannya setinggi langit.
            “ Sen, kamu tau gak kenapa aku suka naik ini?” Tanya Delfi sambil berayun-ayun.
Sena hanya menggeleng. Walaupun itu pertanyaan hampir setiap hari Delfi tanyakan padanya, namun untuk membuat hati sahabatnya itu senang, Sena bersedia mendengarkannya lagi.
            “ Aku seperti terbang, Sen! Aku bisa ke langit rasanya! Hatiku plong rasanya. Aku bisa  tertawa geli saat angin menggelitik hatiku. Aku bisa menutup mata merasakan angin yang membawaku ke langit biru!Aaaahhhhh~ rasanya sejuk hati ini, Sen!” Sambung Delfi dengan kata-kata yang hampir dihafal oleh Sena dari gerakan bibir Sena yang mengikuti kata-kata Delfi saat Delfi berbicara.
Tiba-tiba, lelaki beralmamater itu datang lagi.
            “ Maaf mbak, bukannya gimana tapi orang dewasa gak boleh main ayunan di sini! Tadi saya sudah kasitau adiknya!” Ucap laki-laki itu pada Sena.
Spontan Sena dan Delfi tertawa. Lelaki itu mengerinyitkan alis.
            “ Mas, tenang aja gak bakal rusak kok! Tadi saya udah ijin dengan kepala sekolah TK ini! Namanya siapa Mas?”
            “ Jody, mahasiswa PGTK semester akhir yang sedang praktek di sini!”
Delfi terkejut mendengar nama itu. Tampak wajah Delfi berubah murung setelah mendengar nama itu. Sena yang menyadari perubahan mood sahabatnya langsung merubah topik pembicaraan.
            “ Oh begitu, sini gabung bareng kita. Kenalin saya Sena dan ini teman saya. Tanya aja sama dia namanya siapa, dia gak suka namanya dikenal-kenalin sama orang!”
            “ Oh gitu, mbak namanya siapa?” Tanya Jody sambil tersenyum ramah pada Delfi.
Delfi mengeluarkan coklat dengan merk yang sama dengan namanya. Dipotongnya coklat itu lalu Ia memberikan potongan itu pada Jody. Sena yang melihat kejadian itu terkejut. Delfi tidak biasanya seperti itu. Terakhir tingkah perkenalan itu hanya dilakukan pada Jody, mantan pacarnya yang sampai saat ini belum bisa dilupakannya.
            “ Makasi mbak. Saya suka banget sama coklat ini! Saya musti manggil siapa ni?”
Delfi memberinya sepotong coklat lagi. Jody heran dengan sikap aneh Delfi.
            “ Makasi makasi, tapi udah cukup sepotong aja gausa banyak-banyak! Belum dijawab nih pertanyaan saya.”
Delfi memberikan potongan coklat lagi pada Jody dan mengajak Sena untuk pulang. Jody semakin bingung dengan sikap Delfi. Sena yang melihat kejadian itu menahan tawanya.
***
            Sabtu pagi, Delfi sudah berada di sekolah tempat ibu Sena mengajar. Namun hari ini tanpa Sena. Sena harus mengantar adiknya yang akan mendaftar sekolah.
            “ Del…fi…” Suara laki-laki dari arah belakang yang menghentikan ayunan yang dinaiki gadis itu.
Delfi menoleh.
            “ Bener kan Delfi?? Aku bener kan?”
Delfi hanya mengangguk lalu kembali melanjutkan ayunannya dengan kencang.
            “ Aku gak nyangka ketemu cewek aneh seperti kamu. Cewek aneh yang buat aku kepikiran cuma karena namanya, by the way kamu kok suka banget maen ayunan, kenapa?”
Deg. Delfi menghentikan ayunannya. Ini pertama kalinya ada seseorang bertanya kenapa Ia menyukai bermain ayunan. Delfi menoleh ke arah Jody. Tersenyum, lalu kembali mengayunkan ayunannya.
            “Aku seperti terbang! Aku bisa ke langit rasanya! Hatiku plong rasanya. Aku bisa  tertawa geli saat angin menggelitik hatiku. Aku bisa menutup mata merasakan angin yang membawaku ke langit biru!Aaaahhhhh~ rasanya sejuk hati ini, Jo!”
Ini pertama kalinya Jody mendengar ocehan Delfi yang terdengar tidak masuk akal.
            “ Kamu punya masalah? Boleh aku tau masalahnya apa?”
Delfi hanya mengangguk lalu berhenti dan meninggalkan Jody yang sedang duduk bingung melihat kelakuannya.
            “ Del,Del, mau kemana?” Panggil Jody
Namun Delfi sama sekali tidak merespon panggilan Jody. Jody masih terdiam di bangku samping ayunan. Tiba-tiba Sena datang.
            “ Hai Jo! Kamu bingung ya? Aku aja sering bingung lihat tingkah itu anak!”
            “ Iya mbak, aku bingung banget sama sikapnya.”
            “ Dia sebenarnya gak seperti itu dulu, mamanya pergi ninggalin dia dan adiknya, seminggu sebelum mamanya pergi, adiknya yang paling kecil meninggal dan ayahnya ketauan selingkuh.Selain itu dia putus dengan pacarnya yang punya nama yang sama seperti kamu. Dia selalu bilang dia hidup di waktu yang salah. Waktu sangat kejam baginya. Dia selalu menyalahkan dirinya, berkata seandainya dia , seandainya waktu itu, aku sedih ngeliat dia gitu terus, Jo!Hahhhh…!”
            “ Kenapa mbak Sena cerita semuanya sama aku? “
“Kenapa aku cerita ini, Delfi yang menyuruhku. Dia gak mau sampai kamu salah paham menganggap dia aneh atau gila dengan semua tingkahnya tadi. Delfi percaya sama kamu.”
            “ Percaya sama aku? Kan baru kenal.”
            “ Kamu anak dari wanita yang membuat mamanya pergi dari rumah. Dia gak benci sama kamu, dia malah menyalahkan dirinya. Dia pernah melihatmu bersama ibumu saat kami di mall. Delfi sangat terkejut bisa bertemu denganmu di tempat ini. Namun Ia tidak menyalahkanmu atas masalah yang menimpanya, walaupun itu berhubungan dengan orang terdekatmu. Ahhh… aku sudah kehabisan cara untuk membuat anak itu tertawa!”
Jody terkejut mendengar penjelasan Sena. Wajahnya tampak terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu.
            Minggu pagi sekitar pukul 11.00 siang, ada seorang gadis datang ke rumahnya menggunakan baju kaos lengan panjang pink, celana jeans panjang dan sepatu docmart biru. Gadis itu berbicara serius dengan ibunya, bahkan Ia melihat gadis itu menangis di depan ibunya. Pukul 13.00, gadis itu pulang dari rumahnya. Jody memperhatikan gadis itu keluar dari gerbang rumahnya. Ketika Jody kembali masuk ke dalam rumah, Ia bertanya pada Ibunya tentang masalah yang terjadi antara ibunya dan gadis itu. Ibunya menceritakan semua yang sudah dilakukannya kepada keluarga gadis itu. Ibunya tampak menyesal. Jody marah dengan kelakuan ibunya itu, namun Ia tidak bisa membenci ibunya. Jody sempat ingin pergi menemui gadis itu, tetapi Ia tidak cukup memiliki keberanian. Dan gadis itu ternyata adalah Delfi, gadis yang dilarangnya naik ayunan di TK tempatnya praktek. Suatu kebetulan yang mengejutkan.
            “ Mbak Sena, tau rumah Delfi gak? Bisa anterin aku?”
            “ Delfi gak ada di rumah jam segini, dia biasanya nongkrong di kafe kopi dekat pantai!”
Jody segera mengambil helm dan menyalakan sepeda motornya. Dia memikirkan betapa ia merasa bersalah pada Delfi karena ulah ibunya. Panik dan rasa bersalah sedang menghinggapi otaknya saat itu. Sesampainya di Kafe kopi yang disebutkan Sena tadi, ia melihat Delfi sedang duduk sambil memejamkan mata dengan dua kabel headset tergantung di telinganya. Ia menghampiri Delfi tanpa suara.
            “ Del..fii?” Kata Jody membuka suara.
Delfi membuka matanya.
            “ Jody??”
            “ Iya, Jody. Bisakah saat ini kita berdamai dengan waktu, Del? Bisakah pertemuan kita ini kita anggap waktu yang benar?’
Raut muka Delfi berubah.
            “ Aku minta maaf atas nama mamaku, aku malu, Del! Maafin aku. Aku gak tau kalo itu kamu. Dulu saat kamu ke rumahku bertemu dengan ibuku, aku ingin bertemu denganmu untuk meminta maaf atas ibuku, tetapi aku terlalu pengecut! Maafin aku, Del!” Kata Jody dengan raut muka bersalah.
Delfi tersenyum dan mengeluarkan sepotong coklat lalu memberinya kepada Jody.
            “ Nih makan dulu biar tenangan!”
            “ Del, aku serius mau minta maaf!”
            “ Iya aku juga serius kok! Jo, udahlah! Udah lama juga, udah terjadi juga, apa yang harus disesali? Sekarang aku pengen hidup bahagia, Jo! Tanpa kebencian, tanpa pengandaian yang membuat aku menyalahkan diriku. Aku baru sadar, Allah kasi aku cobaan begini beratnya karena aku kuat. Waktu gak pernah bersalah, aku hanya mengambing hitamkan waktu untuk melampiaskan kesedihanku. Allah udah kasik aku waktu yang begitu indah untuk aku jalani, dengan papa, adik, ibu yang sudah kembali ke rumah sejak tadi pagi. Kesedihan dan cobaan yang aku jalani, itu cuma masalah waktu untuk mengikhlaskannya! Jadi, yuk mulai saat ini kita berdamai dengan waktu! Kamu gausa minta maaf lagi!”
Jody bangun dari kursinya, lalu memeluk Delfi. Delfi terkejut melihat reaksi tiba-tiba dari Jody. Namun Ia membiarkan anak itu memeluknya.
            “ Udah ah udah, lucu kan kalo orang ngeliat aku dipeluk brondong!” Canda Delfi
            “ Brondong?? Siapa? Aku?”
            “ Yaialah adikku sayang! Aku seorang wanita kantoran berusia dua puluh dua tahun, dan kamu masih Sembilan belas tahun! Hahahaha…” Jawab Delfi seraya terbangun merapikan isi tasnya dan akan beranjak pergi.
            “ Apa?? “ .

***
           


Kutitipkan mimpi di Hatimu

            Tawa anak-anak itu membuatnya menjadi merasa lebih baik. Keceriaan mereka, kenakalan mereka, tangisan mereka, itu adalah hal terindah yang dirasakan wanita dua puluh satu tahun ini. Dia adalah seorang mahasiswa perawat semester akhir yang sedang praktek kerja di salah satu rumah sakit pemerintah. Cita-citanya  tidak terlalu tinggi, cukup menjadi seorang guru TK dan mempunyai cafe kecil. Sejak Ia duduk di bangku taman kanak-kanak, setiap ibu guru bertanya Ia selalu menjawab akan menjadi guru TK seperti ibu gurunya. Namun kini takdir berkata lain, keinginan orang tua membuatnya menjadi seorang perawat.
            “ Fan, makasi ya udah diajakin ke tempat ini!” Ucap Elma, nama wanita itu.
            “ Iya sama-sama, disyukuri aja sekarang apa yang didapet, gak boleh ngeluh ah!  Udah gde gitu cengeng amat!”
Ifan adalah seorang teman yang diam-diam Elma sukai. Ifan bisa menjadi seorang kakak karena usia Ifan memang tiga tahun lebih tua daripada Elma. Ifan juga bisa menjadi teman sebaya karena wajah Ifan yang terlihat masih muda dan tampan. Mereka berdua saling mengenal melalu sosial media “Bee Talk”. Berawal dari saling mengirim voice note, mereka akhirnya bertukar nomer handphone. Sejak itulah mereka menjadi akrab dan saat ini mereka berada di salah satu taman kanak-kanak di kota Mataram. Bukan untuk menjemput adik, bukan untuk penelitian, namun untuk melihat Elma tersenyum. Ifan akan melakukan apapun untuk membuat gadis ini tidak bersedih.
            “ Aku pengennya liat mereka seperti ini, Fan. Bukan melihat mereka kesakitan, menangis karena sakit parah dan takut tiap aku masuk ke kamar mereka!”
            “ Iya iya aku ngerti, tapi gabole gitu dong! Kamu gak bangga rawat mereka sampai mereka sembuh?”
            “ Bangga sih, tapi tetep aja aku suka sedih kalau ngeliat mereka terbaring lemah di rumah sakit, Fan! Bayangin aja fan, disini seandainya aku menjadi ibu guru mereka, mereka akan berlari ke arahku dan memelukku sambil memanggil “selamat pagi ibu guru Elma”, tapi di rumah sakit aku seperti menjadi monster mengerikan yang sangat mereka takuti, Fan!”
            “ Anak ini gak bersyukur banget deh jadi orang! Aku gak suka ih kamu ngeluh-ngeluh terus! Aku kan udah ajak kamu ke sini tiga kali seminggu, udah kayak minum obat aja kan? Hahahaha !”
Tawa Ifan dan gaya khasnya saat tertawa membuat hati Elma merasa lebih baik. Elma sangat menyukai Ifan, tetapi Ifan seperti menarik ulur hatinya dan tidak ada kepastian. Tetapi Elma tetap bertahan hanya menyukainya, tanpa harus jujur. Karena dengan hanya berteman dengan Ifan, Elma bisa selalu dekat dengannya.
             Malam ini Elma terlihat sangat sibuk dengan laporan prakteknya yang Ia kerjakan di ruang istirahat perawat. Tiba-tiba salah seorang ibu berteriak memanggil perawat.
            “ SUSTER, DOKTER ANAK SAYA KENAPA???” Teriak ibu itu.
Elma segera berlari ke ruangan dahlia 8 untuk melihat anak ibu tersebut. Anak itu terlihat susah bernafas. Anak itu masuk rumah sakit dengan diagnosa asma bronkiale. Elma segera memanggil dokter yang bertanggung jawab atas anak itu. Tindakan demi tindakan telah dilakukan oleh dokter dan para perawat lainnya. Namun takdir berkata lain, Allah sangat menginginkan anak itu untuk kembali pada-Nya. Ini yang Elma sangat tidak suka berada di rumah sakit. Setiap hari Ia selalu merasa kehilangan. Entah itu anak-anak ataupun orang dewasa. Elma tak kuasa melihat tangisan ibu dari anak tersebut, dengan lembut Ia membantu ibu itu untuk tenang dan mampu mengikhlaskan anaknya yang telah kembali ke pangkuan Allah.
            Pukul 06.00 pagi, terlihat Ifan sudah berdiri di depan ruangan perawat membawakan sebotol susu indomilk strawberry dan kotak makan berisi blackforest untuk Elma. Elma yang tadinya terlihat lelah karena tidak tidur saat piket malam menjadi lebih semangat karena kehadiran Ifan. Mereka beristirahat bersama di kursi tunggu keluarga di samping kamar mayat. Ketika orang berpikir kamar mayat menyeramkan, namun bagi Elma itu adalah tempat paling tenang. Bukan karena mencari tempat sepi untuk berduaan dengan Ifan, tetapi entah mereka berdua asyik-asyik saja mengobrol ditempat menyeramkan seperti itu ditemani pak Roki, satpam kamar mayat.
            “ Pasti itu perut kembung ya begadang semaleman?” Tanya Ifan dengan wajah ngantuknya.
            “ Pasti itu mata lelah ya begadang terus setiap hari?” Jawab Elma balik bertanya.
Ifan adalah manusia kelelawar. Seandainya matanya bisa berbicara, matanya akan mengeluh terus-terusan karena tidak pernah dipakai untuk tidur.
            “ Ini anak tiap ditanyain suka nanya balik! Udah abisin gih terus balik ke ruangan, aku mau balek ke kos tidur!”
Elma melahap abis sepotong blackforest dan susu yang dibawakan Ifan. Itu makanan khas yang dibawakan Ifan ketika menerima bbm Elma.
            Fan, ad yg meninggl L anak kecil L
Tanpa membalas satu kata pun, besok subuhnya Ifan sudah ada di rumah sakit membawakan sebotol susu dan sepotong blackforest. Itu bukan makanan kesukaan Elma, tetapi Elma pernah berkata seperti ini pada Ifan saat mereka bermain di TK yang biasa mereka kunjungi.
            “ Entah hati jadi enakan makan blackforest sama susu stoberi ini!”
Sejak itulah setiap Elma sedih karena ada anak yang meninggal, Ifan selalu membawakan susu indomilk rasa strawberry dan sepotong blackforest.
            Hubungan Elma dan Ifan memang bukan sepasang kekasih, tetapi cara mereka bersama lebih dari sepasang kekasih. Dibalik pertahanan Elma dengan selalu menganggap Ifan sahabat baiknya, Elma juga seorang wanita yang sangat butuh status. Setiap orang bertanya, Ifan dan kamu pacaran? Jawabanyya selalu, tidak.
            “ Ga, apa iya wajar kalo cewek ngomong suka duluan?”
            “ Gak wajar sih, tapi terkadang wajar-wajar aja sapatau si Ifan sebenernya juga suka sama kamu tapi malu bilangnya! “ Jawab Mega, sahabat perempuan Elma.
            “ Gitu ya, tapi dari caranya siapa yang gak anggep dia gak suka aku coba? Apa iya dia begitu sama semua cewek?”
            “ Ya pasti gaklah, Positif aja! Kan Ifan vitamin pelangi merah kuning ijo dilangitnya Ifan. Udah ah udah, Ifan datang tuh!” Jawab Mega seperti  bernyanyi lalu terkejut dengan kedatangan Ifan.
Dari arah liff mall lantai 3 terlihat Ifan dengan menggunakan kaos hitam vans dan celana panjang jeans dengan sepatu boot coklat yang sangat disukai oleh Elma.
            “ Eh ada ibu megawati!”
            “ Mulai deh mulai pisang ijo ini!”
Mereka bertiga sering berkumpul bersama jika tidak ada kesibukan. Ifan yang sering memanggil Mega dengan sebutan ibu megawati dan Mega yang memanggilnya pisang ijo. Pisang ijo adalah panggilan yang dibuat Elma untuk Ifan, karena saat mereka baru pertama berkenalan, mereka memperdebatkan nama pisang kecil yang kata Elma sangat Ia sukai.
            “ Udah lama?” Tanya Ifan basa-basi
            “ Udah dari kemarin, Fan!” Jawab Elma ketus
            “ hohooo, liat si buntet emosi !”
Mereka bertiga berbincang-bincang mengenai masalah kampus mereka masing-masing sampai Mega dijemput oleh Rosi, kekasihnya.
            “ Fan, cau yuk cau!” Ajak Elma
            “ Kamu mau kemana?”
            “ Event tiga ribu tiga puluh yuk! Liat lampu-lampu !”
            “ Yuk, tapi inget lo, kata mama musti pulang jam 10!”
            “ Siap-siap!”
Mereka berdua pergi ke acara 3030 yang diadakan oleh kartu seluler 3 yang setiap harinya ramai dikunjungi oleh para anak-anak muda. Ketika mereka sampai disana, tiket sudah habis dan sudah gate close. Akhirnya mereka memutuskan hanya berkeliling mengukur jalanan kota Mataram dikala malam hari.
            “ Fan, boleh jujur?”
            “ Berarti selama ini boong dong!”
            “ Serius, Fan! Fan boleh gak sih aku suka duluan sama kamu?”
Ifan terdiam.
            “ Gak boleh!” Jawabnya singkat
            “ Yaudah deh! Pliss jangan diseriusin ya ngomong ngawur barusan! Aku janji deh gak ngeluh-ngeluh lagi sama kamu, gak gangguin kamu tiap pagi dengan bebe-em gak penting, janji janji, tapi jangan sampe kamu jauhin aku ya, Fan?”
            “ Kamu gausa berubah, aku suka kamu yang sekarang!”
Jawaban Ifan seperti menggantung itu membuat hati Elma merasa lebih baik. Mereka pun berhenti di salah satu warung kopi di pinggir jalan dekat dengan pantai.
            “ Fan, boleh gak sih kita mimpi tinggi-tinggi?”
            “ Oh jelas bolehlah!Kenapa?
            “ Boleh gak sih aku mimpi terus bisa jadi guru TK? Walopun karena mimpi itu aku sering ngeluh?”
            “ Kamu boleh mimpi menjadi apapun yang kamu inginkan, kamu bisa mimpi jadi presiden, kamu bisa mimpi punya pesawat terbang, bahkan kamu bisa bermimpi jadi seorang peri kecil nan cantik yang selalu kamu bilang sama aku. Kamu bisa juga mimpi punya cafe dengan desain yang sudah kita rancang bersama. Kamu bisa mengatakan semua mimpi itu sama aku, El! Jangan pernah batasi mimpi kamu dan jangan sampai mimpi itu menjadikanmu orang yang sering ngeluh karena penuh pengandaian.”
            “ Bisa gak kamu gak seperti ini terus? Ntar aku move on-nya lama!”
Ifan tertawa mendengar jawaban wanita mungil yang duduk di sampingnya itu. Wanita yang sebenarnya sangat Ifan sayangi namun karena keadaan, Ifan tidak bisa menjadi kekasihnya.
            “ Elma sayang, gak apa-apa deh kamu gak bisa move on dari aku. Aku gak ngebolehin!”
            “ Kok jahat banget ?”
            “ Elma..” Ucap Ifan tiba-tiba dengan wajah serius.
Elma terkejut melihat perubahan itu.
            “ Aku sayang sama kamu. Tapi saat ini aku mau benar-benar fokus kuliah, fokus sama tugas-tugas aku yang banyak ini. Aku gak mau gara-gara pacaran semuanya terbengkalai. Aku juga punya mimpi, sama seperti kamu. Kamu tau sendiri kan, seharusnya saat ini aku sudah menjadi laki-laki mandiri yang mempunyai penghasilan setiap bulannya, tetapi karena aku lalai saat itu yahhh beginilah hasilnya!”
Elma tidak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan Ifan.
            “ Begini saja apa tidak cukup, El? Aku bahagia sejak kenal kamu. Aku gak pengen nyakitin kamu. Kamu punya mimpi, aku punya mimpi, yuk kita gapai bareng-bareng! Cafe impianmu, ntar aku yang desain. Guru TK, aku akan selalu bersedia menemanimu pergi melihat anak-anak bermain di sekolahnya. Sekarang kamu calon perawat, ikhlas ya ngerawatnya biar dapet pahala. Banyak lo yang iri sama kamu gara-gara kamu bisa ngerawat orang. Mulai sekarang gak boleh ngeluh ya!” Sambung Ifan panjang lebar.
Elma hanya mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca.
Dibalik Ifan yang cuek, dia adalah seorang laki-laki bertanggung jawab yang saat ini sedang memikirkan masa depan. Dulu dia pernah kuliah di Malang, tetapi berhenti gara-gara orang tuanya menyarankan untuk mengikuti tes IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri). Ifan mengikuti saran orang tuanya, tetapi tidak lulus. Lalu Ia pindah ke Jakarta untuk kuliah, orang tuanya menyuruhnya untuk ikut tes lagi, namun tidak lulus. Dan akhirnya Ia pindah ke Mataram untuk kuliah disana. Ifan seperti jenuh dengan hidupnya saat itu, sehingga tingkah tidak peduli dengan kuliah Ia lakukan. Namun saat ini Ifan sudah mulai berpikir untuk menyelesaikan kuliahnya tepat waktu.
“Eh buntet, kenapa diem? Biasanya cerewet sok imut kalo diajak ngobrol! Pulang yuk ntar dimarahin mama kamu lagi!”
“ Fan, makasi ya! Aku janji aku gak akan ngeluh lagi! Kamu janji kamu gak boleh males lagi ya! Selesein itu kuliah cepet-cepet! Walaupun aku gabisa jadi guru TK, aku bisa ngerawat mereka yang sedang sakit. Walaupun kemampuan buat kue gak bisa dipakai setiap hari, suatu saat aku bisa punya cafe yang di desain sama kamu! Fighting fighting!!! “
            Ifan tersenyum dan menyalakan sepeda motornya. Mereka berdua pulang tepat jam 10 malam sampai di rumah Elma. Bicara tentang mimpi. Tentunya kita harus jatuh berkali-kali terlebih dahulu saat menaiki tangga yang akan membawa kita menuju mimpi tersebut. Itu adalah proses. Ada banyak anak tangga yang tidak sempurna, mungkin saja ada yang sangat licin, kotor, berlubang, ketika kita akan berniat untuk turun, hitunglah anak tangga yang sudah kita lalui. Akankah kita melewati anak tangga yang sama lagi? Tentunya tidak. Tidak ada salahnya kita bermimpi, bermimpilah setinggi-tingginya. Khawatirlah jika kamu tidak mempunyai mimpi. Jika kamu tidak sanggup menyimpan mimpi itu sendirian, berbagilah mimpi itu dengan seseorang yang kamu percaya. Bisa saja bersamanya kamu bisa menggapai mimpi itu.
            “ Hati-hati dijalan, Fan! Selamat ngerjain tugas pisang ijo! FIGHTING! Bebe-em sampe kos ya!”

            “ Oke buntet! Assalamualaikum! “.

Kenyataan di Lapisan Pelangi Terakhir

                Matahari dengan cantiknya bersinar diantara birunya lukisan tuhan membuat kaca jendela di kamarku tidak sanggup membendung sinarnya. Sinar itu tembus melewati partikel-partikel silika yang begitu tebal dan mampu menyentuh kulit tanganku yang sedang memegang gelas teh. Hangat. Itu yang kurasakan.
Diantara sinar itu, aku pernah menemukan dia, dia yang setiap pagi memarkirkan motornya di balik jendela kamarku. Mengetuknya sesekali, lalu duduk mengobrol dengan ibu yang sedang menyiram bunga. Aku pun keluar dengan seragam putih abu, sepatu sneakers hitam dan kerudung putih, tak lupa tas ransel kuning spongebob menggantung di kedua lenganku yang kurus ini.
            “ Lama sekali!” Keluhnya.
            “ Baru aja jam tujuh!”
            “ Udah sejam nunggu ni!”
            “ Baru aja ngetuk jendela! Nih denger!” Jawabku seraya memberikan rekaman
               suara ketukan jendelanya yang selalu kurekam setiap pagi.
Senyumnya terlihat diantara pancaran sinar yang melewati setiap lekukan wajahnya. Hangat. Angin pagi yang dingin membawa aroma parfumnya menerobos masuk ke dalam celah-celah hidung mungilku ini. Harum.
            Kuletakkan gelas teh yang isinya sudah lama kusruput habis diatas meja hijau tosca disamping jendela. Aku mengambil handbag coklat yang diberikan lelaki itu sebagai hadiah di hari pertama kerjaku. Kerjaan kantor yang menumpuk menjadi sarapanku pagi itu. Hari itu pula aku harus pergi ke kantor area untuk mengambil berkas klaim. Menyelesaikan beberapa berkas untuk di upload dan setelah itu aku berangkat ke kantor area. Panas mentari yang sangat terik ditambah pemerintah sedang melaksanakan program pelebaran jalan yang mengharuskan pohon-pohon sumber oksigen di pinggir jalan harus ditebang membuatku sedikit gerah.
            “ Pagi, mbak Sani!” Sapa salah satu satpam bernama Mas Qadafi yang terkenal
               ramah di kantor area.
            “ Pagi juga mas!”
Aku menaiki berpuluh-puluh anak tangga untuk sampai ke lantai tiga. Tepat di lantai dua aku selalu merasakan aroma hangat dari parfum yang lelaki itu pakai sejak SMA. Tetapi itu bukan dia, aku tak tahu itu siapa. Sampai saat ini pun aku masih belum tahu parfum apa yang ia gunakan. Aromanya masih melekat di setiap bagian hidungku. Angin sepertinya enggan membawa aroma itu pergi dari penciumanku dan air sepertinya tak tega mencuci bersih aroma itu sehingga debu yang menempel di hidungku tidak membawa aroma itu pergi.
            “ Ehh parfum Ruli!”
            “ Tuh kan masih belum bisa move on ! Lebai amat sampe-sampe aroma parfumnya
   masih dihafal sampe sekarang!” Omel Sera.
“ Udah move on kok! Cuma gak bisa lupa sama aroma itu aja!”
“ Udah tiga tahun masih belum bisa lupa dan bilang udah bisa move on ? lucu
   deh, yuk balek ke kampus, katanya dosen ntar lagi masuk!”
Aku selalu mendengar omelan Sera ketika aku mengatakan “Parfum Ruli!”. Seperti lagu lama yang masih sering ku putar dan Sera bosan mendengarnya. Genap enam tahun aku berpisah dengan Ruli, dan sudah enam tahun pula aku tidak menjalin hubungan kekasih dengan siapapun. Aku masih menantinya kembali, disini, ditempat yang sama, diantara sinar matahari pagi.
            Langit yang tadinya sangat cerah berubah menjadi gelap sore ini, langit menurunkan ribuan titik-titik air yang mampu membentuk melodi indah yang sangat aku sukai. Aku menikmati melodi yang diciptakan tuhan dari balik kaca jendela di ruanganku. Memperhatikan orang-orang dijalanan yang sedang menghindari hujan yang turun begitu tiba-tiba ini. Aku menemukan dua anak remaja memakai pakaian putih abu sedang berteduh di depan toko helm depan kantorku. Lagi lagi aku mengingatnya.
            “ JAKETNYA KENAPA GAK DIPAKE? GAK DINGIN?” Teriakku diantara suara
   hujan yang sangat deras.
            “ GAK KOK, GAK APA-APA! AKU GAMAU PAKE SOALNYA KAMU JUGA
  GA PAKE JAKET!”
Terdengar lucu, tetapi sangat berarti untuk anak seusiaku saat itu. Pulang sekolah menembus hujan bersama Ruli. Itu pertama kalinya aku memasukkannya disalah satu lapisan warna pelangi yang aku punya. Aku meletakkan kehangatan hatinya di lapisan pertama. Aku menemukan indah senyumnya diantara cahaya matahari yang bersinar. Senyumnya aku letakkan di lapisan kedua. Mata hangatnya aku letakkan di lapisan selanjutnya. Begitu seterusnya sampai di usiaku yang sudah akan beranjak ke angka dua puluh enam ini.
            Kenangan bersama Ruli, aroma parfum Ruli, bekas jejak kaki Ruli diantara pasir pantai, dan tingkah konyol Ruli saat dilapangan futsal masih tertata rapi di setiap lapisan warna pelangi itu. Aku sangat mencintainya Walaupun saat ini dia berada jauh di Malang karena pekerjaan, sesekali aku bertemu dengannya saat reuni sekolah.
            Kutepis kenangan tentang Ruli yang membuatku sering lupa waktu itu. Jarum jam pendek sudah berada di angka lima dan jarum jam panjang sudah sampai di angka dua belas, waktunya pulang. Badanku sepertinya mau remuk, pekerjaan kantor yang begitu banyak membuat kepalaku pusing dan badanku seperti mau remuk.
            “ Assalamualaikum!” Salamku dengan suara lemas.
            “Waalaikumussalam! Oiya, tadi Sera datang katanya ada sesuatu yang dititip untuk
  kamu.”
            “ Titip apaan ma? Wah tu anak gak ngabarin balek dari Malang! Awas aja yah!”
            “ Gak tau, paling ditaruh di meja dekat jendela. Sera sering ketemu Ruli dong?
              Kamu gak pernah dikasitau tentang Ruli?”
            “ Iya, Ma. Sering kok, Sera jadi mata-mataku disana! Hahahaha…!!”
Aku bergegas masuk kamar untuk melihat apa yang diberikan Sera.
            “ Undangan??”
            “ Sera nikah?” Tanya mama terkejut.
            “ Gak tau ma, kok dia nikah gak cerita dulu sama aku! Awas ni anak ketemu di
   pelaminan abis deh aku omelin! Udah berapa tahun temenan masih aja main
   rahasia-rahasian gini!” Gerutuku seraya membuka undangan yang diberikan Sera.
            “ Udah udah dibuka yang bener itu undangan!”
Tanganku tiba-tiba gemetar membaca kedua nama calon mempelai yang tertulis di undangan putih bertinta emas itu.
            “ Ma, lihat!” Ucapku dengan nada suara yang bergetar.
            “ RULI??? SERA??”


***