Tuesday, January 26, 2016

Me VS Time

            “Bisakah sehari saja kamu berdamai dengan waktu?” Tanya seorang gadis yang duduk di bawah pohon mangga seraya menutup laptop yang ada dipangkuannya.
            “ Seandainya saja waktu itu aku mampu mencegah ibu agar tidak meninggalkan aku dan Tesa!” Jawab Delfi yang tampak selalu murung dengan keadaannya saat ini.
            “ Lagi-lagi kamu berkata seandainya, Del!”
            “ Seandainya dulu aku tidak marah, aku gak bakal putus dari Jody! Seandainya aku mampu berbicara ketika orang tuaku bertengkar, ibu pasti tidak akan pergi begitu saja dari rumah. Seandainya saat itu aku langsung membawa adikku ke rumah sakit, adikku pasti tertolong dan setiap pulang kerja aku bisa melihatnya tertawa menyambutku! Seandainya….” Delfi menutup wajahnya dengan kedua tangannya tanda dirinya sudah tidak mampu berkata lagi. Air matanya mulai mengalir.
            “ Del, udah udah.. Allah kasi cobaan segitu gdenya buat kamu karena Allah tau kamu kuat! Sehari saja kamu gak bicara tentang waktu itu, seandainya, mungkin kamu bakalan merasa lebih damai! Udah ah, ntar diliatin orang!” Hibur Sena, gadis berjilbab biru yang duduk di samping Delfi.
Delfi mengusap air matanya. Matanya selalu terlihat sembab sejak adiknya meninggal dan ibunya meninggalkan rumah karena mengetahui ayahnya berselingkuh dengan wanita lain.
            “ Sen, maen ayunan yuk!” Ajak delfi.
Sena mengangguk lalu mengambil kunci motor vario matiknya. Sena dan Delfi setiap Sabtu selalu berkunjung ke taman kanak-kanan tempat ibu Sena mengajar. Bermain ayunan, melihat anak-anak kecil adalah obat dari tekanan batin yang Delfi rasakan. Sena, sebagai sahabat yang sangat tahu masalah Delfi selalu ada disamping Delfi walaupun Ia harus bertingkah seperti anak kecil di depan Delfi. Dua gadis dewasa berusia 22 tahun ini sering bertingkah konyol di taman bermain anak-anak. Mereka sangat menyukai permainan anak-anak ini. Terutama Delfi, selain memiliki wajah yang sangat irit, Delfi juga memiliki suara yang sangat lucu. Tak heran ketika Delfi memakai celana jeans panjang, kaos lengan panjang dengan jilbab dan tas ransel, banyak yang menyangka Ia masih anak SMP.
            Sesampai mereka di sekolah tempat ibu Sena mengajar, Delfi langsung berlari menuju ayunan di bawah pohon ketapang.
“Kamu duluan aja main, aku mau cari mama sebentar!” Ucap Sena.
Delfi hanya mengangguk seraya mengayunkan ayunannya sekencang-kencangnya. Delfi tidak memperhatikan sekelilingnya, sampai Ia tersadar ada yang menghentikannya dari belakang.
            “ Maaf deq, orang besar gak boleh pakai ayunan ini! Nanti rusak!” Kata laki-laki yang menggunakan almamater biru itu.
Delfi turun dari ayunan dan duduk di kursi tidak jauh dari ayunan itu. Delfi tidak meminta maaf atau berbasa-basi dengan laki-laki itu.
            “Dasar mahasiswa! “ Cibir Delfi dengan wajah kesal.
Tiba-tiba Sena datang membawa dua teh botol dan satu bungkus chitato.
            “ Kenapa berhenti?”
            “ Noh mahasiswa larang aku!” Jawabnya ketus seraya mengambil sebotol teh yang dibawa Sena.
            “ Main aja main, mama udah ngijinin kok! Ntar kalo dilarang lagi aku yang larang balek itu anak!”
            “ Ntar aja deh, mana manggil aku daq deq daq deq, emangnya aku adeknya! Jelas tuaan aku dari dia! Itu anak musti diomelin kalo sampe dia larang-larang aku lagi!”
Delfi menyeruput tehnya lalu melanjutkan mengayun-ngayunkan ayunannya setinggi langit.
            “ Sen, kamu tau gak kenapa aku suka naik ini?” Tanya Delfi sambil berayun-ayun.
Sena hanya menggeleng. Walaupun itu pertanyaan hampir setiap hari Delfi tanyakan padanya, namun untuk membuat hati sahabatnya itu senang, Sena bersedia mendengarkannya lagi.
            “ Aku seperti terbang, Sen! Aku bisa ke langit rasanya! Hatiku plong rasanya. Aku bisa  tertawa geli saat angin menggelitik hatiku. Aku bisa menutup mata merasakan angin yang membawaku ke langit biru!Aaaahhhhh~ rasanya sejuk hati ini, Sen!” Sambung Delfi dengan kata-kata yang hampir dihafal oleh Sena dari gerakan bibir Sena yang mengikuti kata-kata Delfi saat Delfi berbicara.
Tiba-tiba, lelaki beralmamater itu datang lagi.
            “ Maaf mbak, bukannya gimana tapi orang dewasa gak boleh main ayunan di sini! Tadi saya sudah kasitau adiknya!” Ucap laki-laki itu pada Sena.
Spontan Sena dan Delfi tertawa. Lelaki itu mengerinyitkan alis.
            “ Mas, tenang aja gak bakal rusak kok! Tadi saya udah ijin dengan kepala sekolah TK ini! Namanya siapa Mas?”
            “ Jody, mahasiswa PGTK semester akhir yang sedang praktek di sini!”
Delfi terkejut mendengar nama itu. Tampak wajah Delfi berubah murung setelah mendengar nama itu. Sena yang menyadari perubahan mood sahabatnya langsung merubah topik pembicaraan.
            “ Oh begitu, sini gabung bareng kita. Kenalin saya Sena dan ini teman saya. Tanya aja sama dia namanya siapa, dia gak suka namanya dikenal-kenalin sama orang!”
            “ Oh gitu, mbak namanya siapa?” Tanya Jody sambil tersenyum ramah pada Delfi.
Delfi mengeluarkan coklat dengan merk yang sama dengan namanya. Dipotongnya coklat itu lalu Ia memberikan potongan itu pada Jody. Sena yang melihat kejadian itu terkejut. Delfi tidak biasanya seperti itu. Terakhir tingkah perkenalan itu hanya dilakukan pada Jody, mantan pacarnya yang sampai saat ini belum bisa dilupakannya.
            “ Makasi mbak. Saya suka banget sama coklat ini! Saya musti manggil siapa ni?”
Delfi memberinya sepotong coklat lagi. Jody heran dengan sikap aneh Delfi.
            “ Makasi makasi, tapi udah cukup sepotong aja gausa banyak-banyak! Belum dijawab nih pertanyaan saya.”
Delfi memberikan potongan coklat lagi pada Jody dan mengajak Sena untuk pulang. Jody semakin bingung dengan sikap Delfi. Sena yang melihat kejadian itu menahan tawanya.
***
            Sabtu pagi, Delfi sudah berada di sekolah tempat ibu Sena mengajar. Namun hari ini tanpa Sena. Sena harus mengantar adiknya yang akan mendaftar sekolah.
            “ Del…fi…” Suara laki-laki dari arah belakang yang menghentikan ayunan yang dinaiki gadis itu.
Delfi menoleh.
            “ Bener kan Delfi?? Aku bener kan?”
Delfi hanya mengangguk lalu kembali melanjutkan ayunannya dengan kencang.
            “ Aku gak nyangka ketemu cewek aneh seperti kamu. Cewek aneh yang buat aku kepikiran cuma karena namanya, by the way kamu kok suka banget maen ayunan, kenapa?”
Deg. Delfi menghentikan ayunannya. Ini pertama kalinya ada seseorang bertanya kenapa Ia menyukai bermain ayunan. Delfi menoleh ke arah Jody. Tersenyum, lalu kembali mengayunkan ayunannya.
            “Aku seperti terbang! Aku bisa ke langit rasanya! Hatiku plong rasanya. Aku bisa  tertawa geli saat angin menggelitik hatiku. Aku bisa menutup mata merasakan angin yang membawaku ke langit biru!Aaaahhhhh~ rasanya sejuk hati ini, Jo!”
Ini pertama kalinya Jody mendengar ocehan Delfi yang terdengar tidak masuk akal.
            “ Kamu punya masalah? Boleh aku tau masalahnya apa?”
Delfi hanya mengangguk lalu berhenti dan meninggalkan Jody yang sedang duduk bingung melihat kelakuannya.
            “ Del,Del, mau kemana?” Panggil Jody
Namun Delfi sama sekali tidak merespon panggilan Jody. Jody masih terdiam di bangku samping ayunan. Tiba-tiba Sena datang.
            “ Hai Jo! Kamu bingung ya? Aku aja sering bingung lihat tingkah itu anak!”
            “ Iya mbak, aku bingung banget sama sikapnya.”
            “ Dia sebenarnya gak seperti itu dulu, mamanya pergi ninggalin dia dan adiknya, seminggu sebelum mamanya pergi, adiknya yang paling kecil meninggal dan ayahnya ketauan selingkuh.Selain itu dia putus dengan pacarnya yang punya nama yang sama seperti kamu. Dia selalu bilang dia hidup di waktu yang salah. Waktu sangat kejam baginya. Dia selalu menyalahkan dirinya, berkata seandainya dia , seandainya waktu itu, aku sedih ngeliat dia gitu terus, Jo!Hahhhh…!”
            “ Kenapa mbak Sena cerita semuanya sama aku? “
“Kenapa aku cerita ini, Delfi yang menyuruhku. Dia gak mau sampai kamu salah paham menganggap dia aneh atau gila dengan semua tingkahnya tadi. Delfi percaya sama kamu.”
            “ Percaya sama aku? Kan baru kenal.”
            “ Kamu anak dari wanita yang membuat mamanya pergi dari rumah. Dia gak benci sama kamu, dia malah menyalahkan dirinya. Dia pernah melihatmu bersama ibumu saat kami di mall. Delfi sangat terkejut bisa bertemu denganmu di tempat ini. Namun Ia tidak menyalahkanmu atas masalah yang menimpanya, walaupun itu berhubungan dengan orang terdekatmu. Ahhh… aku sudah kehabisan cara untuk membuat anak itu tertawa!”
Jody terkejut mendengar penjelasan Sena. Wajahnya tampak terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu.
            Minggu pagi sekitar pukul 11.00 siang, ada seorang gadis datang ke rumahnya menggunakan baju kaos lengan panjang pink, celana jeans panjang dan sepatu docmart biru. Gadis itu berbicara serius dengan ibunya, bahkan Ia melihat gadis itu menangis di depan ibunya. Pukul 13.00, gadis itu pulang dari rumahnya. Jody memperhatikan gadis itu keluar dari gerbang rumahnya. Ketika Jody kembali masuk ke dalam rumah, Ia bertanya pada Ibunya tentang masalah yang terjadi antara ibunya dan gadis itu. Ibunya menceritakan semua yang sudah dilakukannya kepada keluarga gadis itu. Ibunya tampak menyesal. Jody marah dengan kelakuan ibunya itu, namun Ia tidak bisa membenci ibunya. Jody sempat ingin pergi menemui gadis itu, tetapi Ia tidak cukup memiliki keberanian. Dan gadis itu ternyata adalah Delfi, gadis yang dilarangnya naik ayunan di TK tempatnya praktek. Suatu kebetulan yang mengejutkan.
            “ Mbak Sena, tau rumah Delfi gak? Bisa anterin aku?”
            “ Delfi gak ada di rumah jam segini, dia biasanya nongkrong di kafe kopi dekat pantai!”
Jody segera mengambil helm dan menyalakan sepeda motornya. Dia memikirkan betapa ia merasa bersalah pada Delfi karena ulah ibunya. Panik dan rasa bersalah sedang menghinggapi otaknya saat itu. Sesampainya di Kafe kopi yang disebutkan Sena tadi, ia melihat Delfi sedang duduk sambil memejamkan mata dengan dua kabel headset tergantung di telinganya. Ia menghampiri Delfi tanpa suara.
            “ Del..fii?” Kata Jody membuka suara.
Delfi membuka matanya.
            “ Jody??”
            “ Iya, Jody. Bisakah saat ini kita berdamai dengan waktu, Del? Bisakah pertemuan kita ini kita anggap waktu yang benar?’
Raut muka Delfi berubah.
            “ Aku minta maaf atas nama mamaku, aku malu, Del! Maafin aku. Aku gak tau kalo itu kamu. Dulu saat kamu ke rumahku bertemu dengan ibuku, aku ingin bertemu denganmu untuk meminta maaf atas ibuku, tetapi aku terlalu pengecut! Maafin aku, Del!” Kata Jody dengan raut muka bersalah.
Delfi tersenyum dan mengeluarkan sepotong coklat lalu memberinya kepada Jody.
            “ Nih makan dulu biar tenangan!”
            “ Del, aku serius mau minta maaf!”
            “ Iya aku juga serius kok! Jo, udahlah! Udah lama juga, udah terjadi juga, apa yang harus disesali? Sekarang aku pengen hidup bahagia, Jo! Tanpa kebencian, tanpa pengandaian yang membuat aku menyalahkan diriku. Aku baru sadar, Allah kasi aku cobaan begini beratnya karena aku kuat. Waktu gak pernah bersalah, aku hanya mengambing hitamkan waktu untuk melampiaskan kesedihanku. Allah udah kasik aku waktu yang begitu indah untuk aku jalani, dengan papa, adik, ibu yang sudah kembali ke rumah sejak tadi pagi. Kesedihan dan cobaan yang aku jalani, itu cuma masalah waktu untuk mengikhlaskannya! Jadi, yuk mulai saat ini kita berdamai dengan waktu! Kamu gausa minta maaf lagi!”
Jody bangun dari kursinya, lalu memeluk Delfi. Delfi terkejut melihat reaksi tiba-tiba dari Jody. Namun Ia membiarkan anak itu memeluknya.
            “ Udah ah udah, lucu kan kalo orang ngeliat aku dipeluk brondong!” Canda Delfi
            “ Brondong?? Siapa? Aku?”
            “ Yaialah adikku sayang! Aku seorang wanita kantoran berusia dua puluh dua tahun, dan kamu masih Sembilan belas tahun! Hahahaha…” Jawab Delfi seraya terbangun merapikan isi tasnya dan akan beranjak pergi.
            “ Apa?? “ .

***
           


0 comments:

Post a Comment