“Bisakah sehari saja kamu berdamai
dengan waktu?” Tanya seorang gadis yang duduk di bawah pohon mangga seraya
menutup laptop yang ada dipangkuannya.
“ Seandainya saja waktu itu aku
mampu mencegah ibu agar tidak meninggalkan aku dan Tesa!” Jawab Delfi yang
tampak selalu murung dengan keadaannya saat ini.
“ Lagi-lagi kamu berkata seandainya,
Del!”
“ Seandainya dulu aku tidak marah,
aku gak bakal putus dari Jody! Seandainya aku mampu berbicara ketika orang
tuaku bertengkar, ibu pasti tidak akan pergi begitu saja dari rumah. Seandainya
saat itu aku langsung membawa adikku ke rumah sakit, adikku pasti tertolong dan
setiap pulang kerja aku bisa melihatnya tertawa menyambutku! Seandainya….”
Delfi menutup wajahnya dengan kedua tangannya tanda dirinya sudah tidak mampu
berkata lagi. Air matanya mulai mengalir.
“ Del, udah udah.. Allah kasi cobaan
segitu gdenya buat kamu karena Allah tau kamu kuat! Sehari saja kamu gak bicara
tentang waktu itu, seandainya, mungkin kamu bakalan merasa lebih damai! Udah
ah, ntar diliatin orang!” Hibur Sena, gadis berjilbab biru yang duduk di
samping Delfi.
Delfi
mengusap air matanya. Matanya selalu terlihat sembab sejak adiknya meninggal
dan ibunya meninggalkan rumah karena mengetahui ayahnya berselingkuh dengan
wanita lain.
“ Sen, maen ayunan yuk!” Ajak delfi.
Sena
mengangguk lalu mengambil kunci motor vario matiknya. Sena dan Delfi setiap Sabtu
selalu berkunjung ke taman kanak-kanan tempat ibu Sena mengajar. Bermain
ayunan, melihat anak-anak kecil adalah obat dari tekanan batin yang Delfi
rasakan. Sena, sebagai sahabat yang sangat tahu masalah Delfi selalu ada
disamping Delfi walaupun Ia harus bertingkah seperti anak kecil di depan Delfi.
Dua gadis dewasa berusia 22 tahun ini sering bertingkah konyol di taman bermain
anak-anak. Mereka sangat menyukai permainan anak-anak ini. Terutama Delfi,
selain memiliki wajah yang sangat irit, Delfi juga memiliki suara yang sangat
lucu. Tak heran ketika Delfi memakai celana jeans panjang, kaos lengan panjang
dengan jilbab dan tas ransel, banyak yang menyangka Ia masih anak SMP.
Sesampai mereka di sekolah tempat
ibu Sena mengajar, Delfi langsung berlari menuju ayunan di bawah pohon
ketapang.
“Kamu duluan aja main, aku mau cari mama
sebentar!” Ucap Sena.
Delfi
hanya mengangguk seraya mengayunkan ayunannya sekencang-kencangnya. Delfi tidak
memperhatikan sekelilingnya, sampai Ia tersadar ada yang menghentikannya dari
belakang.
“ Maaf deq, orang besar gak boleh
pakai ayunan ini! Nanti rusak!” Kata laki-laki yang menggunakan almamater biru
itu.
Delfi
turun dari ayunan dan duduk di kursi tidak jauh dari ayunan itu. Delfi tidak
meminta maaf atau berbasa-basi dengan laki-laki itu.
“Dasar mahasiswa! “ Cibir Delfi
dengan wajah kesal.
Tiba-tiba
Sena datang membawa dua teh botol dan satu bungkus chitato.
“ Kenapa berhenti?”
“ Noh mahasiswa larang aku!”
Jawabnya ketus seraya mengambil sebotol teh yang dibawa Sena.
“ Main aja main, mama udah ngijinin
kok! Ntar kalo dilarang lagi aku yang larang balek itu anak!”
“ Ntar aja deh, mana manggil aku daq
deq daq deq, emangnya aku adeknya! Jelas tuaan aku dari dia! Itu anak musti
diomelin kalo sampe dia larang-larang aku lagi!”
Delfi
menyeruput tehnya lalu melanjutkan mengayun-ngayunkan ayunannya setinggi
langit.
“ Sen, kamu tau gak kenapa aku suka
naik ini?” Tanya Delfi sambil berayun-ayun.
Sena
hanya menggeleng. Walaupun itu pertanyaan hampir setiap hari Delfi tanyakan
padanya, namun untuk membuat hati sahabatnya itu senang, Sena bersedia
mendengarkannya lagi.
“ Aku seperti terbang, Sen! Aku bisa
ke langit rasanya! Hatiku plong rasanya. Aku bisa tertawa geli saat angin menggelitik hatiku.
Aku bisa menutup mata merasakan angin yang membawaku ke langit biru!Aaaahhhhh~
rasanya sejuk hati ini, Sen!” Sambung Delfi dengan kata-kata yang hampir
dihafal oleh Sena dari gerakan bibir Sena yang mengikuti kata-kata Delfi saat
Delfi berbicara.
Tiba-tiba,
lelaki beralmamater itu datang lagi.
“ Maaf mbak, bukannya gimana tapi
orang dewasa gak boleh main ayunan di sini! Tadi saya sudah kasitau adiknya!”
Ucap laki-laki itu pada Sena.
Spontan
Sena dan Delfi tertawa. Lelaki itu mengerinyitkan alis.
“ Mas, tenang aja gak bakal rusak
kok! Tadi saya udah ijin dengan kepala sekolah TK ini! Namanya siapa Mas?”
“ Jody, mahasiswa PGTK semester
akhir yang sedang praktek di sini!”
Delfi
terkejut mendengar nama itu. Tampak wajah Delfi berubah murung setelah
mendengar nama itu. Sena yang menyadari perubahan mood sahabatnya langsung merubah topik pembicaraan.
“ Oh begitu, sini gabung bareng
kita. Kenalin saya Sena dan ini teman saya. Tanya aja sama dia namanya siapa,
dia gak suka namanya dikenal-kenalin sama orang!”
“ Oh gitu, mbak namanya siapa?”
Tanya Jody sambil tersenyum ramah pada Delfi.
Delfi
mengeluarkan coklat dengan merk yang sama dengan namanya. Dipotongnya coklat
itu lalu Ia memberikan potongan itu pada Jody. Sena yang melihat kejadian itu
terkejut. Delfi tidak biasanya seperti itu. Terakhir tingkah perkenalan itu
hanya dilakukan pada Jody, mantan pacarnya yang sampai saat ini belum bisa
dilupakannya.
“ Makasi mbak. Saya suka banget sama
coklat ini! Saya musti manggil siapa ni?”
Delfi
memberinya sepotong coklat lagi. Jody heran dengan sikap aneh Delfi.
“ Makasi makasi, tapi udah cukup
sepotong aja gausa banyak-banyak! Belum dijawab nih pertanyaan saya.”
Delfi
memberikan potongan coklat lagi pada Jody dan mengajak Sena untuk pulang. Jody
semakin bingung dengan sikap Delfi. Sena yang melihat kejadian itu menahan
tawanya.
***
Sabtu pagi, Delfi sudah berada di
sekolah tempat ibu Sena mengajar. Namun hari ini tanpa Sena. Sena harus
mengantar adiknya yang akan mendaftar sekolah.
“ Del…fi…” Suara laki-laki dari arah
belakang yang menghentikan ayunan yang dinaiki gadis itu.
Delfi
menoleh.
“ Bener kan Delfi?? Aku bener kan?”
Delfi
hanya mengangguk lalu kembali melanjutkan ayunannya dengan kencang.
“ Aku gak nyangka ketemu cewek aneh
seperti kamu. Cewek aneh yang buat aku kepikiran cuma karena namanya, by the way kamu kok suka banget maen
ayunan, kenapa?”
Deg.
Delfi menghentikan ayunannya. Ini pertama kalinya ada seseorang bertanya kenapa
Ia menyukai bermain ayunan. Delfi menoleh ke arah Jody. Tersenyum, lalu kembali
mengayunkan ayunannya.
“Aku seperti terbang! Aku bisa ke
langit rasanya! Hatiku plong rasanya. Aku bisa
tertawa geli saat angin menggelitik hatiku. Aku bisa menutup mata
merasakan angin yang membawaku ke langit biru!Aaaahhhhh~ rasanya sejuk hati ini,
Jo!”
Ini
pertama kalinya Jody mendengar ocehan Delfi yang terdengar tidak masuk akal.
“ Kamu punya masalah? Boleh aku tau
masalahnya apa?”
Delfi
hanya mengangguk lalu berhenti dan meninggalkan Jody yang sedang duduk bingung
melihat kelakuannya.
“ Del,Del, mau kemana?” Panggil Jody
Namun
Delfi sama sekali tidak merespon panggilan Jody. Jody masih terdiam di bangku
samping ayunan. Tiba-tiba Sena datang.
“ Hai Jo! Kamu bingung ya? Aku aja
sering bingung lihat tingkah itu anak!”
“ Iya mbak, aku bingung banget sama
sikapnya.”
“ Dia sebenarnya gak seperti itu
dulu, mamanya pergi ninggalin dia dan adiknya, seminggu sebelum mamanya pergi,
adiknya yang paling kecil meninggal dan ayahnya ketauan selingkuh.Selain itu
dia putus dengan pacarnya yang punya nama yang sama seperti kamu. Dia selalu
bilang dia hidup di waktu yang salah. Waktu sangat kejam baginya. Dia selalu
menyalahkan dirinya, berkata seandainya dia , seandainya waktu itu, aku sedih
ngeliat dia gitu terus, Jo!Hahhhh…!”
“ Kenapa mbak Sena cerita semuanya
sama aku? “
“Kenapa
aku cerita ini, Delfi yang menyuruhku. Dia gak mau sampai kamu salah paham
menganggap dia aneh atau gila dengan semua tingkahnya tadi. Delfi percaya sama
kamu.”
“ Percaya sama aku? Kan baru kenal.”
“ Kamu anak dari wanita yang membuat
mamanya pergi dari rumah. Dia gak benci sama kamu, dia malah menyalahkan dirinya.
Dia pernah melihatmu bersama ibumu saat kami di mall. Delfi sangat terkejut
bisa bertemu denganmu di tempat ini. Namun Ia tidak menyalahkanmu atas masalah
yang menimpanya, walaupun itu berhubungan dengan orang terdekatmu. Ahhh… aku
sudah kehabisan cara untuk membuat anak itu tertawa!”
Jody
terkejut mendengar penjelasan Sena. Wajahnya tampak terlihat sedang
mengingat-ingat sesuatu.
Minggu pagi sekitar pukul 11.00
siang, ada seorang gadis datang ke rumahnya menggunakan baju kaos lengan
panjang pink, celana jeans panjang
dan sepatu docmart biru. Gadis itu
berbicara serius dengan ibunya, bahkan Ia melihat gadis itu menangis di depan
ibunya. Pukul 13.00, gadis itu pulang dari rumahnya. Jody memperhatikan gadis
itu keluar dari gerbang rumahnya. Ketika Jody kembali masuk ke dalam rumah, Ia
bertanya pada Ibunya tentang masalah yang terjadi antara ibunya dan gadis itu.
Ibunya menceritakan semua yang sudah dilakukannya kepada keluarga gadis itu.
Ibunya tampak menyesal. Jody marah dengan kelakuan ibunya itu, namun Ia tidak
bisa membenci ibunya. Jody sempat ingin pergi menemui gadis itu, tetapi Ia
tidak cukup memiliki keberanian. Dan gadis itu ternyata adalah Delfi, gadis
yang dilarangnya naik ayunan di TK tempatnya praktek. Suatu kebetulan yang
mengejutkan.
“ Mbak Sena, tau rumah Delfi gak?
Bisa anterin aku?”
“ Delfi gak ada di rumah jam segini,
dia biasanya nongkrong di kafe kopi dekat pantai!”
Jody
segera mengambil helm dan menyalakan sepeda motornya. Dia memikirkan betapa ia
merasa bersalah pada Delfi karena ulah ibunya. Panik dan rasa bersalah sedang
menghinggapi otaknya saat itu. Sesampainya di Kafe kopi yang disebutkan Sena
tadi, ia melihat Delfi sedang duduk sambil memejamkan mata dengan dua kabel headset tergantung di telinganya. Ia
menghampiri Delfi tanpa suara.
“ Del..fii?” Kata Jody membuka
suara.
Delfi
membuka matanya.
“ Jody??”
“ Iya, Jody. Bisakah saat ini kita
berdamai dengan waktu, Del? Bisakah pertemuan kita ini kita anggap waktu yang
benar?’
Raut
muka Delfi berubah.
“ Aku minta maaf atas nama mamaku,
aku malu, Del! Maafin aku. Aku gak tau kalo itu kamu. Dulu saat kamu ke rumahku
bertemu dengan ibuku, aku ingin bertemu denganmu untuk meminta maaf atas ibuku,
tetapi aku terlalu pengecut! Maafin aku, Del!” Kata Jody dengan raut muka
bersalah.
Delfi
tersenyum dan mengeluarkan sepotong coklat lalu memberinya kepada Jody.
“ Nih makan dulu biar tenangan!”
“ Del, aku serius mau minta maaf!”
“ Iya aku juga serius kok! Jo,
udahlah! Udah lama juga, udah terjadi juga, apa yang harus disesali? Sekarang
aku pengen hidup bahagia, Jo! Tanpa kebencian, tanpa pengandaian yang membuat
aku menyalahkan diriku. Aku baru sadar, Allah kasi aku cobaan begini beratnya
karena aku kuat. Waktu gak pernah bersalah, aku hanya mengambing hitamkan waktu
untuk melampiaskan kesedihanku. Allah udah kasik aku waktu yang begitu indah
untuk aku jalani, dengan papa, adik, ibu yang sudah kembali ke rumah sejak tadi
pagi. Kesedihan dan cobaan yang aku jalani, itu cuma masalah waktu untuk
mengikhlaskannya! Jadi, yuk mulai saat ini kita berdamai dengan waktu! Kamu
gausa minta maaf lagi!”
Jody
bangun dari kursinya, lalu memeluk Delfi. Delfi terkejut melihat reaksi
tiba-tiba dari Jody. Namun Ia membiarkan anak itu memeluknya.
“ Udah ah udah, lucu kan kalo orang
ngeliat aku dipeluk brondong!” Canda Delfi
“ Brondong?? Siapa? Aku?”
“ Yaialah adikku sayang! Aku seorang
wanita kantoran berusia dua puluh dua tahun, dan kamu masih Sembilan belas
tahun! Hahahaha…” Jawab Delfi seraya terbangun merapikan isi tasnya dan akan
beranjak pergi.
“ Apa?? “ .
***
0 comments:
Post a Comment