Tawa anak-anak itu membuatnya
menjadi merasa lebih baik. Keceriaan mereka, kenakalan mereka, tangisan mereka,
itu adalah hal terindah yang dirasakan wanita dua puluh satu tahun ini. Dia
adalah seorang mahasiswa perawat semester akhir yang sedang praktek kerja di
salah satu rumah sakit pemerintah. Cita-citanya
tidak terlalu tinggi, cukup menjadi seorang guru TK dan mempunyai cafe
kecil. Sejak Ia duduk di bangku taman kanak-kanak, setiap ibu guru bertanya Ia
selalu menjawab akan menjadi guru TK seperti ibu gurunya. Namun kini takdir
berkata lain, keinginan orang tua membuatnya menjadi seorang perawat.
“ Fan, makasi ya udah diajakin ke tempat ini!” Ucap Elma, nama wanita itu.
“ Fan, makasi ya udah diajakin ke tempat ini!” Ucap Elma, nama wanita itu.
“ Iya sama-sama, disyukuri aja
sekarang apa yang didapet, gak boleh ngeluh ah! Udah gde gitu cengeng amat!”
Ifan
adalah seorang teman yang diam-diam Elma sukai. Ifan bisa menjadi seorang kakak
karena usia Ifan memang tiga tahun lebih tua daripada Elma. Ifan juga bisa
menjadi teman sebaya karena wajah Ifan yang terlihat masih muda dan tampan.
Mereka berdua saling mengenal melalu sosial media “Bee Talk”. Berawal dari saling mengirim voice note, mereka akhirnya bertukar nomer handphone. Sejak itulah mereka menjadi akrab dan saat ini mereka
berada di salah satu taman kanak-kanak di kota Mataram. Bukan untuk menjemput
adik, bukan untuk penelitian, namun untuk melihat Elma tersenyum. Ifan akan
melakukan apapun untuk membuat gadis ini tidak bersedih.
“ Aku pengennya liat mereka seperti
ini, Fan. Bukan melihat mereka kesakitan, menangis karena sakit parah dan takut
tiap aku masuk ke kamar mereka!”
“ Iya iya aku ngerti, tapi gabole
gitu dong! Kamu gak bangga rawat mereka sampai mereka sembuh?”
“ Bangga sih, tapi tetep aja aku
suka sedih kalau ngeliat mereka terbaring lemah di rumah sakit, Fan! Bayangin
aja fan, disini seandainya aku menjadi ibu guru mereka, mereka akan berlari ke
arahku dan memelukku sambil memanggil “selamat
pagi ibu guru Elma”, tapi di rumah sakit aku seperti menjadi monster
mengerikan yang sangat mereka takuti, Fan!”
“ Anak ini gak bersyukur banget deh
jadi orang! Aku gak suka ih kamu ngeluh-ngeluh terus! Aku kan udah ajak kamu ke
sini tiga kali seminggu, udah kayak minum obat aja kan? Hahahaha !”
Tawa
Ifan dan gaya khasnya saat tertawa membuat hati Elma merasa lebih baik. Elma
sangat menyukai Ifan, tetapi Ifan seperti menarik ulur hatinya dan tidak ada
kepastian. Tetapi Elma tetap bertahan hanya menyukainya, tanpa harus jujur.
Karena dengan hanya berteman dengan Ifan, Elma bisa selalu dekat dengannya.
Malam ini Elma terlihat sangat sibuk dengan
laporan prakteknya yang Ia kerjakan di ruang istirahat perawat. Tiba-tiba salah
seorang ibu berteriak memanggil perawat.
“ SUSTER, DOKTER ANAK SAYA
KENAPA???” Teriak ibu itu.
Elma
segera berlari ke ruangan dahlia 8 untuk melihat anak ibu tersebut. Anak itu
terlihat susah bernafas. Anak itu masuk rumah sakit dengan diagnosa asma bronkiale. Elma segera memanggil
dokter yang bertanggung jawab atas anak itu. Tindakan demi tindakan telah
dilakukan oleh dokter dan para perawat lainnya. Namun takdir berkata lain,
Allah sangat menginginkan anak itu untuk kembali pada-Nya. Ini yang Elma sangat
tidak suka berada di rumah sakit. Setiap hari Ia selalu merasa kehilangan.
Entah itu anak-anak ataupun orang dewasa. Elma tak kuasa melihat tangisan ibu
dari anak tersebut, dengan lembut Ia membantu ibu itu untuk tenang dan mampu
mengikhlaskan anaknya yang telah kembali ke pangkuan Allah.
Pukul 06.00 pagi, terlihat Ifan
sudah berdiri di depan ruangan perawat membawakan sebotol susu indomilk
strawberry dan kotak makan berisi blackforest untuk Elma. Elma yang tadinya
terlihat lelah karena tidak tidur saat piket malam menjadi lebih semangat
karena kehadiran Ifan. Mereka beristirahat bersama di kursi tunggu keluarga di
samping kamar mayat. Ketika orang berpikir kamar mayat menyeramkan, namun bagi
Elma itu adalah tempat paling tenang. Bukan karena mencari tempat sepi untuk
berduaan dengan Ifan, tetapi entah mereka berdua asyik-asyik saja mengobrol
ditempat menyeramkan seperti itu ditemani pak Roki, satpam kamar mayat.
“ Pasti itu perut kembung ya
begadang semaleman?” Tanya Ifan dengan wajah ngantuknya.
“ Pasti itu mata lelah ya begadang
terus setiap hari?” Jawab Elma balik bertanya.
Ifan
adalah manusia kelelawar. Seandainya matanya bisa berbicara, matanya akan
mengeluh terus-terusan karena tidak pernah dipakai untuk tidur.
“ Ini anak tiap ditanyain suka nanya
balik! Udah abisin gih terus balik ke ruangan, aku mau balek ke kos tidur!”
Elma
melahap abis sepotong blackforest dan susu yang dibawakan Ifan. Itu makanan
khas yang dibawakan Ifan ketika menerima bbm Elma.
Fan, ad yg meninggl L anak kecil L
Tanpa
membalas satu kata pun, besok subuhnya Ifan sudah ada di rumah sakit membawakan
sebotol susu dan sepotong blackforest. Itu bukan makanan kesukaan Elma, tetapi
Elma pernah berkata seperti ini pada Ifan saat mereka bermain di TK yang biasa
mereka kunjungi.
“ Entah hati jadi enakan makan blackforest sama susu stoberi ini!”
Sejak
itulah setiap Elma sedih karena ada anak yang meninggal, Ifan selalu membawakan
susu indomilk rasa strawberry dan sepotong blackforest.
Hubungan Elma dan Ifan memang bukan
sepasang kekasih, tetapi cara mereka bersama lebih dari sepasang kekasih.
Dibalik pertahanan Elma dengan selalu menganggap Ifan sahabat baiknya, Elma
juga seorang wanita yang sangat butuh status. Setiap orang bertanya, Ifan dan
kamu pacaran? Jawabanyya selalu, tidak.
“ Ga, apa iya wajar kalo cewek
ngomong suka duluan?”
“ Gak wajar sih, tapi terkadang
wajar-wajar aja sapatau si Ifan sebenernya juga suka sama kamu tapi malu
bilangnya! “ Jawab Mega, sahabat perempuan Elma.
“ Gitu ya, tapi dari caranya siapa
yang gak anggep dia gak suka aku coba? Apa iya dia begitu sama semua cewek?”
“ Ya pasti gaklah, Positif aja! Kan
Ifan vitamin pelangi merah kuning ijo dilangitnya Ifan. Udah ah udah, Ifan datang
tuh!” Jawab Mega seperti bernyanyi lalu
terkejut dengan kedatangan Ifan.
Dari
arah liff mall lantai 3 terlihat Ifan dengan menggunakan kaos hitam vans dan
celana panjang jeans dengan sepatu boot coklat yang sangat disukai oleh Elma.
“ Eh ada ibu megawati!”
“ Mulai deh mulai pisang ijo ini!”
Mereka
bertiga sering berkumpul bersama jika tidak ada kesibukan. Ifan yang sering
memanggil Mega dengan sebutan ibu megawati dan Mega yang memanggilnya pisang
ijo. Pisang ijo adalah panggilan yang dibuat Elma untuk Ifan, karena saat
mereka baru pertama berkenalan, mereka memperdebatkan nama pisang kecil yang
kata Elma sangat Ia sukai.
“ Udah lama?” Tanya Ifan basa-basi
“ Udah dari kemarin, Fan!” Jawab
Elma ketus
“ hohooo, liat si buntet emosi !”
Mereka
bertiga berbincang-bincang mengenai masalah kampus mereka masing-masing sampai
Mega dijemput oleh Rosi, kekasihnya.
“ Fan, cau yuk cau!” Ajak Elma
“ Kamu mau kemana?”
“ Event tiga ribu tiga puluh yuk!
Liat lampu-lampu !”
“ Yuk, tapi inget lo, kata mama
musti pulang jam 10!”
“ Siap-siap!”
Mereka
berdua pergi ke acara 3030 yang diadakan oleh kartu seluler 3 yang setiap
harinya ramai dikunjungi oleh para anak-anak muda. Ketika mereka sampai disana,
tiket sudah habis dan sudah gate close.
Akhirnya mereka memutuskan hanya berkeliling mengukur jalanan kota Mataram
dikala malam hari.
“ Fan, boleh jujur?”
“ Berarti selama ini boong dong!”
“ Serius, Fan! Fan boleh gak sih aku
suka duluan sama kamu?”
Ifan
terdiam.
“ Gak boleh!” Jawabnya singkat
“ Yaudah deh! Pliss jangan
diseriusin ya ngomong ngawur barusan! Aku janji deh gak ngeluh-ngeluh lagi sama
kamu, gak gangguin kamu tiap pagi dengan bebe-em gak penting, janji janji, tapi
jangan sampe kamu jauhin aku ya, Fan?”
“ Kamu gausa berubah, aku suka kamu
yang sekarang!”
Jawaban
Ifan seperti menggantung itu membuat hati Elma merasa lebih baik. Mereka pun
berhenti di salah satu warung kopi di pinggir jalan dekat dengan pantai.
“ Fan, boleh gak sih kita mimpi
tinggi-tinggi?”
“ Oh jelas bolehlah!Kenapa?
“ Boleh gak sih aku mimpi terus bisa
jadi guru TK? Walopun karena mimpi itu aku sering ngeluh?”
“ Kamu boleh mimpi menjadi apapun
yang kamu inginkan, kamu bisa mimpi jadi presiden, kamu bisa mimpi punya
pesawat terbang, bahkan kamu bisa bermimpi jadi seorang peri kecil nan cantik
yang selalu kamu bilang sama aku. Kamu bisa juga mimpi punya cafe dengan desain yang sudah kita
rancang bersama. Kamu bisa mengatakan semua mimpi itu sama aku, El! Jangan
pernah batasi mimpi kamu dan jangan sampai mimpi itu menjadikanmu orang yang
sering ngeluh karena penuh pengandaian.”
“ Bisa gak kamu gak seperti ini
terus? Ntar aku move on-nya lama!”
Ifan
tertawa mendengar jawaban wanita mungil yang duduk di sampingnya itu. Wanita
yang sebenarnya sangat Ifan sayangi namun karena keadaan, Ifan tidak bisa
menjadi kekasihnya.
“ Elma sayang, gak apa-apa deh kamu
gak bisa move on dari aku. Aku gak ngebolehin!”
“ Kok jahat banget ?”
“ Elma..” Ucap Ifan tiba-tiba dengan
wajah serius.
Elma
terkejut melihat perubahan itu.
“ Aku sayang sama kamu. Tapi saat
ini aku mau benar-benar fokus kuliah, fokus sama tugas-tugas aku yang banyak
ini. Aku gak mau gara-gara pacaran semuanya terbengkalai. Aku juga punya mimpi,
sama seperti kamu. Kamu tau sendiri kan, seharusnya saat ini aku sudah menjadi
laki-laki mandiri yang mempunyai penghasilan setiap bulannya, tetapi karena aku
lalai saat itu yahhh beginilah hasilnya!”
Elma
tidak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan Ifan.
“ Begini saja apa tidak cukup, El?
Aku bahagia sejak kenal kamu. Aku gak pengen nyakitin kamu. Kamu punya mimpi,
aku punya mimpi, yuk kita gapai bareng-bareng! Cafe impianmu, ntar aku yang
desain. Guru TK, aku akan selalu bersedia menemanimu pergi melihat anak-anak
bermain di sekolahnya. Sekarang kamu calon perawat, ikhlas ya ngerawatnya biar
dapet pahala. Banyak lo yang iri sama kamu gara-gara kamu bisa ngerawat orang.
Mulai sekarang gak boleh ngeluh ya!” Sambung Ifan panjang lebar.
Elma
hanya mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca.
Dibalik Ifan yang cuek, dia adalah seorang
laki-laki bertanggung jawab yang saat ini sedang memikirkan masa depan. Dulu
dia pernah kuliah di Malang, tetapi berhenti gara-gara orang tuanya menyarankan
untuk mengikuti tes IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri). Ifan mengikuti
saran orang tuanya, tetapi tidak lulus. Lalu Ia pindah ke Jakarta untuk kuliah,
orang tuanya menyuruhnya untuk ikut tes lagi, namun tidak lulus. Dan akhirnya
Ia pindah ke Mataram untuk kuliah disana. Ifan seperti jenuh dengan hidupnya
saat itu, sehingga tingkah tidak peduli dengan kuliah Ia lakukan. Namun saat
ini Ifan sudah mulai berpikir untuk menyelesaikan kuliahnya tepat waktu.
“Eh
buntet, kenapa diem? Biasanya cerewet sok imut kalo diajak ngobrol! Pulang yuk
ntar dimarahin mama kamu lagi!”
“
Fan, makasi ya! Aku janji aku gak akan ngeluh lagi! Kamu janji kamu gak boleh
males lagi ya! Selesein itu kuliah cepet-cepet! Walaupun aku gabisa jadi guru
TK, aku bisa ngerawat mereka yang sedang sakit. Walaupun kemampuan buat kue gak
bisa dipakai setiap hari, suatu saat aku bisa punya cafe yang di desain sama
kamu! Fighting fighting!!! “
Ifan tersenyum dan menyalakan sepeda
motornya. Mereka berdua pulang tepat jam 10 malam sampai di rumah Elma. Bicara
tentang mimpi. Tentunya kita harus jatuh berkali-kali terlebih dahulu saat
menaiki tangga yang akan membawa kita menuju mimpi tersebut. Itu adalah proses.
Ada banyak anak tangga yang tidak sempurna, mungkin saja ada yang sangat licin,
kotor, berlubang, ketika kita akan berniat untuk turun, hitunglah anak tangga
yang sudah kita lalui. Akankah kita melewati anak tangga yang sama lagi?
Tentunya tidak. Tidak ada salahnya kita bermimpi, bermimpilah
setinggi-tingginya. Khawatirlah jika kamu tidak mempunyai mimpi. Jika kamu
tidak sanggup menyimpan mimpi itu sendirian, berbagilah mimpi itu dengan
seseorang yang kamu percaya. Bisa saja bersamanya kamu bisa menggapai mimpi
itu.
“ Hati-hati dijalan, Fan! Selamat
ngerjain tugas pisang ijo! FIGHTING! Bebe-em sampe kos ya!”
“ Oke buntet! Assalamualaikum! “.
0 comments:
Post a Comment