Tuesday, March 8, 2016

Bagaimana Bahagia Menurutmu?

Perjalanan membawaku pada suatu kisah.
Kisah diantara bentangan aspal yang menjadi saksi bagaimana kebahagian itu tercipta.
Seorang yang menikmati bagaimana cara hidup itu sebenarnya.
Pertama aku mengerti saat melihat bapak-bapak pengayuh odong-odong di lampu merah depan walikota.
Berhenti dengan musik dangdut yang diputarnya di lampu lalu menggerakkan badannya sedikit dan bibirnya terlihat mengikuti lagu dangdut yang diputarnya.
Senyuman kecil terbentuk melihat pemandangan yang begitu menyejukkan hati tersebut.
Itukah bahagia dari sudut pandang seorang bapak pengayuh odong-odong ?

Senyuman para tetangga setiap pagi ketika aku berangkat kerja.
Melihat para anak-anak diantar sekolah oleh orangtuanya.
Melihat SD yang dipenuhi dengan tawa anak-anak.
Itukah bahagia ?

Menonton video pendek tentang anak-anak kekurangn gizi di Afrika.
Melihat bagaimana mereka bermain dan tertawa dengan keadaan yang serba kekurangan.
Melihat bagaimana tangan-tangan mereka yang sudah hampir busuk karena terkena penyakit kulit menggengggam lolipop yang dihinggapi lalat , namun mereka masih bisa tertawa.
Itukah bahagia menurut mereka?
Dalam keadaan seperti itupun mereka masih bisa tertawa.
Bagaimana denganmu ?
Kau mungkin saja menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting.
Lalu bersedih saat tidak ad uang.
Dimanakah rasa bersyukurmu?

Melihat bapak tua penjual kue bambu di pinggir jalan setiap sore menjelang magrib.
Duduk dengan beralaskan koran, duduk di depan tembok rumah orang kaya, menunggu pelanggan yang datang.
Ketika kue bambunya diborong, aku melihat senyum kebahagian dan penuh rasa bersyukur ada dalam matanya.
Itukah bahagia menurutnya?

Seorang bibi bibi tua berbadan kurus yang selalu siap membawa belanjaan mamaku yang sangat berat.
Dia begitu kuat. Dia lebih kuat dengan aku dan mama yang masi muda.
Dia tersenyum bersyukur saat uang lima ribu rupiah diterimanya sebagai upah.
Hari-hari besoknya dia selalu bertanya saat aku dan mama ke pasar, ada yang perlu dibawakan?
Dilain waktu aku melihatnya membawakan orang lain barang belanjaan,
Uang dua ribu rupiah yang diterimanya tidak membuatnya kecewa.
Dia tetap tersenyum bersyukur dan dengan semangat yang masih kuat dia kembali ke dalam pasar.
Begitukah bahagia menurutnya?

Wanita dan pria yang sedang berboncengan berdua tertawa bersama.
Seorang lelaki paruh baya bersama seorang anak TK tertawa bersama.
Seorang ibu-ibu bersama anak balitanya, membawa balitanya ke PIN untuk diimunisasi polio tertawa melihat tingkah anaknya.
Seorang perawat yang puas ketika pasiennya dibolehkan pulang karena sudah sembuh.
Seorang penjual sapu ijuk tua renta yang tersenyum bahagia saat sapu ijuknya masih.
Begitukah bahagia menurut mereka?

Bagaimana bahagia menurutmu?
Menurutku,
BAHAGIA itu BERSYUKUR :)

Wednesday, March 2, 2016

Rabu, daun, hujan dan angin

Cuaca di Mataram hari ini tidak secerah biasanya.
Langit yang mengisyaratkan bahwa ia akan menurunkan ribuan rintik air dari tubuhnya dengan menutup matahari dengan awan gelapnya.
Angin yang sedang bermain dengan dedaunan seakan mengajak langit berunding 
" Jangan kau turunkan rintikmu! Ini pagi yang seharusnya ditemani matahari, bukan rintikan airmu!"
Aku setuju dengan angin. Seharusnya hari ini matahari menemani langkah para pencari lembaran kertas bernilai.
RABU PAGI.
Tidakkah kau mengasihani para pemilik kenangan di pagi ini ?
Kau begitu tega membangkitkan kenangan yang sudah terhempas oleh ombak dan terbawa arus ..
jauh...jauh..begitu jauh...
Angin! Kau sama saja.
Kau yang membawa kenangan itu kembali.
Ketenangan yang kau buat dari hembusanmu, melihat bagaimana kau mengajak daun menari-nari dari balik pintu kaca di depan mejaku, suasana seperti akan magrib, lalu lalang para pencari lembaran kertas, tidakkah itu cukup menenangkan?
Namun, ketenangan ini menghadirkan satu "orang" yang seharusnya tidak pantas kembali lagi.
Satu "Orang" yang kenangannya pun tidak boleh memasuki pintu kaca.
Namun apa daya, hembusanmu terlalu kencang!
Kenangan menyerobot masuk melalui celah-celah pintu kaca diiringi dengan suara rintikanmu yang terdengar indah saat itu.
Saat dimana seorang anak perempuan sedang larut dalam keindahan kisah yang dibuat oleh-oleh anak laki-laki yang ia cintai.
Dengan menggunakan seragam hijau khas sekolahnya, ia duduk di bangku paling depan.
Bercerita tentang hidupnya pada ketiga sahabatnya yang selama 2,5 tahun bersamanya. Lalu dia datang, dengan baju seragam hijau, sepatu hitamnya dan tas kotak-kotak hitam putihnya. Dengan tampang tak perduli lalu meletakkan kertas putih di atas meja si anak perempuan.
Tahukah kau langit ?
Tahukah kau hujan ?
Kebahagian apa yang dirasakan anak perempuan tersebut melihat tingkahnya?
Semangat apa yang timbul setelah melihat senyumnya ?
I LOVE YOU
Itu tulisan dalam kertas tersebut.

Masih tegakah kau membuat kenangan ini tak pernah hilang ?
Tidakkah kau melihat bagaimana anak perempuan ini berusaha melupakan kenangan in ?
Kau sudah melihatnya, namun mengapa kau masih saja membuatnya mengingat semuanya ?

***

TERSADAR

Kau tidak salah langit.
Kau tidak salah angin.
Kau tidak salah hujan.
Hatinyalah yang salah.
Hatinya yang ternyata adalah penyimpan kenangan yang begitu sempurna.
Hatinya yang kini membeku tidak bisa jatuh cinta lagi.
Hatinya yang kini berusaha mencintai lagi.
Hatinya yang sering bimbang terbawa arus hujan dan angin yang kini bermain bersama.
Hai hujan..
tidakkah kau ingin mengajak daun juga ikut bermain bersamamu ?
Lihat!
Kau telah merebut angin dari daun.
Tadinya daun dengan riangnya bermain bersama angin, namun setelah kau datang, angin beralih padamu, menemanimu bermain hingga lupa dengan daun.
Siapa yang patut disalahkan ?
Tidak ada yang salah sepertinya.
Suatu saat angin akan kembali bermain bersama daun karena kisah angin tidak bisa terlepas dari daun dan hujan.