Cuaca di Mataram hari ini tidak secerah biasanya.
Langit yang mengisyaratkan bahwa ia akan menurunkan ribuan rintik air dari tubuhnya dengan menutup matahari dengan awan gelapnya.
Angin yang sedang bermain dengan dedaunan seakan mengajak langit berunding
" Jangan kau turunkan rintikmu! Ini pagi yang seharusnya ditemani matahari, bukan rintikan airmu!"
Aku setuju dengan angin. Seharusnya hari ini matahari menemani langkah para pencari lembaran kertas bernilai.
RABU PAGI.
Tidakkah kau mengasihani para pemilik kenangan di pagi ini ?
Kau begitu tega membangkitkan kenangan yang sudah terhempas oleh ombak dan terbawa arus ..
jauh...jauh..begitu jauh...
Angin! Kau sama saja.
Kau yang membawa kenangan itu kembali.
Ketenangan yang kau buat dari hembusanmu, melihat bagaimana kau mengajak daun menari-nari dari balik pintu kaca di depan mejaku, suasana seperti akan magrib, lalu lalang para pencari lembaran kertas, tidakkah itu cukup menenangkan?
Namun, ketenangan ini menghadirkan satu "orang" yang seharusnya tidak pantas kembali lagi.
Satu "Orang" yang kenangannya pun tidak boleh memasuki pintu kaca.
Namun apa daya, hembusanmu terlalu kencang!
Kenangan menyerobot masuk melalui celah-celah pintu kaca diiringi dengan suara rintikanmu yang terdengar indah saat itu.
Saat dimana seorang anak perempuan sedang larut dalam keindahan kisah yang dibuat oleh-oleh anak laki-laki yang ia cintai.
Dengan menggunakan seragam hijau khas sekolahnya, ia duduk di bangku paling depan.
Bercerita tentang hidupnya pada ketiga sahabatnya yang selama 2,5 tahun bersamanya. Lalu dia datang, dengan baju seragam hijau, sepatu hitamnya dan tas kotak-kotak hitam putihnya. Dengan tampang tak perduli lalu meletakkan kertas putih di atas meja si anak perempuan.
Tahukah kau langit ?
Tahukah kau hujan ?
Kebahagian apa yang dirasakan anak perempuan tersebut melihat tingkahnya?
Semangat apa yang timbul setelah melihat senyumnya ?
I LOVE YOU
Itu tulisan dalam kertas tersebut.
Masih tegakah kau membuat kenangan ini tak pernah hilang ?
Tidakkah kau melihat bagaimana anak perempuan ini berusaha melupakan kenangan in ?
Kau sudah melihatnya, namun mengapa kau masih saja membuatnya mengingat semuanya ?
***
TERSADAR
Kau tidak salah langit.
Kau tidak salah angin.
Kau tidak salah hujan.
Hatinyalah yang salah.
Hatinya yang ternyata adalah penyimpan kenangan yang begitu sempurna.
Hatinya yang kini membeku tidak bisa jatuh cinta lagi.
Hatinya yang kini berusaha mencintai lagi.
Hatinya yang sering bimbang terbawa arus hujan dan angin yang kini bermain bersama.
Hai hujan..
tidakkah kau ingin mengajak daun juga ikut bermain bersamamu ?
Lihat!
Kau telah merebut angin dari daun.
Tadinya daun dengan riangnya bermain bersama angin, namun setelah kau datang, angin beralih padamu, menemanimu bermain hingga lupa dengan daun.
Siapa yang patut disalahkan ?
Tidak ada yang salah sepertinya.
Suatu saat angin akan kembali bermain bersama daun karena kisah angin tidak bisa terlepas dari daun dan hujan.
0 comments:
Post a Comment