Monday, November 28, 2016

DEAR SOFT BAKED CHOCOLATE CHIP COOKIES

Aku kembali larut dalam kesendirian menikmati sore di Alfamart. Berbekal sekotak susu Ultra rasa cokelat dan sebungkus Good Time Chocolate chip yang begitu manis. Seperti biasanya, pintu kaca Alfamart membuka menutup karena ramai pengunjung sore itu. Salah satu pramuniaga yang ku kenal bernama mbak Ida menyapaku,
“ Mbak Ria tumben kesini lagi?”.“ Hehe, iya mbak!” Jawabku nyegir.Dia kembali menyusun Chitato yang ada di dalam kardus. Aku pun kembali larut dalam tulisan yang sedang ingin kuceritakan saat ini. Kembali menatap layar ponsel dan mengajak jari-jari menari diatas keyboard yang selalu menemani disaat ingin sendiri. Sesekali kulayangkan pandanganku ke balik kaca besar yang menjadi sekat di toko ini.Melihat aktivitas kota di hari Minggu yang tampak sepi ditemani aroma hujan yang masih begitu membekas menyentuh hidung para pemakai jalanan. Ada yang kebut-kebutan, ada yang pelan menikmati perjalanan, dan ada pula yang kebut-kebutan dan tidak tahu aturan. Jenuh mulai menghinggapiku. Aku melepas pandanganku dari layar ponsel. Memperhatikan ketegangan yang mbak Ida alami saat diprotes oleh seorang tante yang pulsanya tidak masuk. Seorang tante yang bibirnya begitu merah karena lipstiknya yang begitu tebal dan alis hitam seperti Shincan. Terlihat sangar dan menakutkan. Aku bisa merasakan bagaimana ketegangan yang mbak Ida hadapi saat berhadapan dengan ibu-ibu yang ucapannya sudah tidak terkontrol karena hal sepele. Begitulah resiko dalam melayani orang-orang yang memiliki sifat yang terkadang membuat kita harus memaku dengan kuat kesabaran diatas kepala.Kusedot perlahan susu Ultra yang sudah lama melihatku sibuk dengan memperhatikan dan bergosip dalam hati karena tante itu. Lalu kuambil sebiji chocolate chip cookies yang berjejer rapi di dalam bungkusnya. Tanpa sengaja aku memperhatikan biskuit cokelat yang kuambil. Mengingat bagaimana Ibu Ruth secara tidak sengaja menciptakannya. Begitu pula denganku yang secara tidak sengaja memberinya nama itu. Lewatkan dulu beberapa saat cerita tentangnya. Kembali dengan sejarah bagaimana chocolate chip cookies tercipta. Ibu Ruth adalah seorang ahli gizi lulusan Framingham State Normal School Department of Household Art. Nama lengkapnya Ruth Graves Wakefield, seorang pemilik penginapan di Amerika bernama Toll House. Saat itu ibu Ruth akan membuat hidangan untuk para pengunjung penginapannya, namun karena coklat bubuknya habis, Ibu Ruth mempunyai akal untuk memotong coklat batangan kecil-kecil lalu dicampur dengan adonan tepungnya. Bukannya meleleh menyatu dengan adonan, tapi hanya meleleh ditempatnya dan menimbulkan motif polkadot pada kue tersebut. Sejak itulah tercipta chocolate chip cookies yang aku nikmati saat ini.Seperti ketidaksengajaanku memberikannya nama itu. Cocholate chip cookies seperti lagu Adhitya Sofian yang berjudul ”Dear Soft-baked chocolate chip cookies”. Langit sudah berubah warna, itu berarti aku harus kembali ke rumah. Kurapikan barang-barangku yang tergeletak diatas meja besi. Menghabiskan dua buah biskuit cokelat yang tersisa. Menghidupkan paket data yang selama satu jam tujuh belas menit kumatikan. Beberapa grup Line masuk menyerbu dengan suara yang begitu berisik, broadcast bbm, dan tentunya pesan whatsapp manis, dari chocolate chip cookies yang begitu manis untuk hari yang manis walaupun pulang dengan perut meringis. πŸ˜€