Senja itu mengingatkan Embun
pada seseorang yang sudah lama meninggalkannya. Lelaki yang sangat ia sayangi.
Suasana di tempat les membuat Embun memutar ulang kembali memori enam tahun
lalu yang sudah lama disimpannya. Memori itu berputar layaknya film dokumenter
yang sedang tayang di bioskop sore itu. Berawal dari parkiran motor di depan
jendela ruang kelas, motor Supra Fit hitam yang dulu dipakainya selalu
terparkir disana, kaca spion yang menjadi tempat gantungan helm dan
kebiasaannya berjalan melompati pot bunga disamping kelas. Embun tersenyum
kecil.
Dia melihat gambaran
dirinya saat berada di dalam kelas, menyibakkan gorden jendela kelas ketika
suara motor Vega R merambat masuk ke dalam telinganya. Dilihatnya sosok
laki-laki bertubuh mungil dan kurus menggunakan helm KYT hitam dengan kaos pink
dan celana jeans panjang turun dari
motor tersebut. Dengan langkah yang tercipta dari kaki kurusnya, lelaki itu
berjalan masuk ke arah pintu masuk ruang kelas. Embun menutup gorden dan
berpura-pura mengobrol dengan teman dibelakangnya. Telinganya sudah seperti
mesin pendengar canggih yang sangat hafal dengan suara gerakan gagang pintu
yang dibuat oleh lelaki itu dengan jari-jari lentiknya ketika akan masuk ke
dalam kelas. Pintu terbuka dan wuuusss aroma parfum yang sangat di sukai oleh Embun
tercium oleh seisi kelas.
“ Parfummu
itu lo kayak aroma sabun colek!” Ejek Meri, salah satu teman kelas Embun.
Lelaki itu tersenyum sinis mendengar ejekan Meri tanda malas
merespon dan langsung duduk disamping Embun.
“ Tumben gak
telat, Jo?” Tanya Embun buka suara.
“ Iya dong,
tadi bangunnya cepet, gak pingsan tidurnya!” Jawab Jodi dengan ekspresi
wajah
yang sangat Embun sukai. Senyum sinis dengan sebelah alisnya terangkat.
“ Mulai deh
pamer alisnya bisa keangkat!”
“ Nggak kok
gak, kan udah dari bayi bisa begini, jadi ga perlu pamerlah!Hahahaha…!!!”
Tawa Jody sudah menjadi kebiasaan yang menjadi bagian hidup Embun
saat itu.
“ Tuh kan,
kalo Jodi udah dateng kita dicuekin!” Sindir Silva
Embun dan Jodi hanya tersenyum mendengar sindiran Silva.
Kata-kata wajib yang keluar dari mulut ketiga sahabatnya, Meri, Silva dan Mumut
ketika Embun bersama Jodi. Embun selalu menghabiskan harinya bersama mereka
bertiga dan tentunya bersama Jodi, pacarnya saat SMA. Kesibukan saat kelas XII
yang akan menghadapi ujian nasional membuat Embun dan keempat orang yang
disayangnya itu menghabiskan waktu di sekolah dan di tempat les.
Bel tanda
pulang les yang ditekan Pak Abi, security
di tempat les membuat khayalan masa SMA Embun yang terkepul seperti asap
rokok di atas kepalanya buyar tertiup angin tak meninggalkan bekas. Ia menengok
kiri dan kanan, ke arah pintu masuk, mempersiapkan tangannya untuk melambai
tanda ia sudah berada disana. Embun mengikuti tingkah ayahnya saat menjemputnya
pulang les. Ayahnya selalu menunggu di bawah pohon mangga di tempat Embun
menunggu saat ini. Ketika Embun keluar, ia sudah melihat tangan ayahnya yang
lembut itu melambai dengan melemparkan senyum hangat pada Embun. Embun pun
berlari untuk menghampiri ayahnya.
“ Tadi
belajar apa?” Tanya Ayah Embun.
“ Fisika!
Tadi yang ngajar ibu Afifah, bahas PR!”
“ Silva
pulang sama siapa?”
“ Ntar
dijemput pacarnya, Yah!”
Percakapan wajib saat ayah Embun menjemputnya di tempat les.
Mata Embun selalu
berkaca-kaca ketika mengingat lelaki yang sangat ia sayangi itu. Ayahnya sudah
meninggalkannya tiga tahun yang lalu karena kecelakaan sepeda motor. Sebulan
sebelum kejadian yang menimpa ayahnya, Embun putus dengan Jodi. Waktu yang
cukup berat untuk melupakan ayahnya dan Jodi. Embun yang sudah terbiasa bersama
mereka, bahkan aroma parfum kedua lelaki itu masih melekat di ingatan
penciumannya.
“ Bagaimana
bisa aku melupakanmu, ketika aroma parfummu saja masih terus kucari
sisanya
diatara hembusan angin yang setiap hari hanya bisa kurasakan, namun tak bisa
kusimpan?
Bagaimana bisa aku melupakanmu, ketika sisa jejak langkahmu saja masih
tampak
jelas diantara aspal-aspal panas yang selalu kulewati setiap hari? Bagaimana
bisa aku
melupakanmu, ketika kisahmu masih tertata rapi diantara lapisan warna pelangi
yang
pernah kau berikan di hidupku? Bagaimana bisa, Ayah? Bagaimana bisa, Jo?”
Dua kenyataan hidup yang membuat Embun sangat terpukul. Ada
setitik butiran air jatuh dari kedua mata Embun. Suara pak Abi membuat butiran
air tersebut tidak melanjutkan alirannya dari mata Embun.
“ Mbak Embun
udah lama nunggu?” Sapa pak Abi seraya bertanya.
“ Iya nih,
Pak! Tumben belum keluar!” Jawab Embun seraya mengusap-usap air yang
keluar
dari matanya.
“ Mungkin
ada tambahan mbak! Gimana kerjaan mbak, lancarkah?”
“
Alhamdulillah lancar, Pak!”
“ Wah aku
masih sering gak nyangka lo ternyata kalian seperti sekarang. Aku sering
ngomong
gini juga dengan mas Jodi. Dua anak yang kecil-kecil banget kalo kencan
dipikirnya
anak ilang, sekarang bareng-bareng lagi sampe dewasa. Manis banget mbak
kisahnya!”
“ Aah bisa
aja pak Abi, Jodi sih pake jadi playboy segala kemarin jadinya kan putus!
Mana
setelah putus Ayah meninggal, berat banget rasanya. Lumayan lama sih terpuruk.
Pak Abi
bisa bayangin sendiri, aku kalo gak dijemput ayah, ya pulang bareng Jodi.
Bareng
mereka udah jadi kebiasaan, jadinya susah ngerelainnya. Lama kelamaan aku
sadar, gak
ada masalah yang besar karena aku punya Allah yang lebih besar dari
masalahku. So, life must go on-lah,
yah buktinya sekarang Alhamdulillah aku bahagia
dan ayah
pasti bahagia ngeliat anaknya seperti sekarang!”
“ Benar
mbak, Allah gak akan kasik masalah diluar kemampuan kita. Badai pasti berlalu,
Mbak Embun.
Ngomong-ngomong mas Jodi kapan balek dari Malang?”
“Iya pak
Abi, apalagi ada pak Abi temen curhat paling setia dari jaman SMA
hehehehehe… hmmm~ mingg….eehhhh tu anak baru keliatan batang idungnya!”
Saat akan menjawab pertanyaan pak Abi, Embun melihat seorang
anak kecil dengan kemeja coklat, celana jeans
pendek, dan ransel bergambar cars menggantung
di punggungya keluar dari ruang kelas. Embun melambaikan tangannya dan
melemparkan senyum terhangatnya pada anak itu. Seperti yang selalu dilakukan
oleh ayahnya. Anak itu berlari kearahnya.
“ Ini dia
mas Jodi junior yang ditunggu-tunggu mamanya dari tadi!” Kata Pak Abi seraya
mengelus-elus
kepala Reza, anak laki-laki Embun dan Jodi yang baru duduk di kelas
dua SD.
“ Iya pak,
tadi pak gurunya gak denger bel makanya lama pulang!” Jawab Reza dengan
wajah
cemberut sambil mengangkat sebelah alis persis seperti ayahnya. “ Mama
jemputnya
dari jam berapa?” Sambungnya.
“ Dari jam
setengah tujuh sayang, mama pikir Reza yang capek nunggu mama jemput!
Eeh
ternyata… Oh ya Pak Abi, minggu depan mas Jodi udah pulang dari Malang kok!
Jawabnya
baru sekarang, tadi kepotong gara-gara ngeliat Reza!”
“ Iya gak
apa-apa mbak!”
“ Iya deh,
kita pulang dulu, Pak! Makasi lo udah mau ditemenin curhat lagi!”
“ Iya mbak,
aku masih setia denger curhatan mbak Embun kok, walaupun ini rambut
warnanya
udah jadi putih semua. Hehehehehehe… ntar kalo mas Jodi macem-macem
lapor
aku mbak, aku jewerin telinganya mas Jodi!Hahahahaha…”
“ Hahahaha… Siap,
Pak!! Aku pulang dulu ya!”
“ Oke mbak,
hati-hati!”
“ Reza
pulang dulu pak Abi!!” Pamit reza dengan suara serak-serak basahnya.
“ Hati-hati
mas Jodi junior, dadaahhh Rezaaa!!” Jawab Pak Abi seraya melambaikan
tangan ke
arah ibu dan anak tersebut.
***
(cerpen gagal)
Hai! Namaku Ellya Supria Ningsih. Biasa dipanggil Ria. Aku
anak pertama dari 3 bersaudara yang Alhamdulillah lahir dengan selamat pada
hari Minggu, 13 Desember 1992 jam 06.30 pagi. Saat ini aku masih tinggal bareng
orang tua di Selagalas, lengkapnya sih di Jalan Peternakan gg. Puskesmas
lingkungan Selagalas Bhineka, rumahku gak punya nomer. Hehe. Aku sekarang
seorang wanita kantoran di Asuransi Jiwa Mandiri Inhealth yang dari Senin-Jumat
hidupnya bareng komputer, keyboard, dan mouse aja. Cita-citanya dulu pengen
jadi guru, kuliahnya pengen di bahasa Indonesia karena hobinya nulis, tapi
faktanya kuliah jadi perawat di Poltekkes Mataram dan kerja di perusahaan
asuransi. Hidup gak bisa ditebak emang, manusia boleh berencana tapi Tuhan yang
menentukan. Kalian bisa ngobrol bareng aku di ellyasuprianingsih@gmail.com atau sms aku di 082341885002. Terima kasih J .
0 comments:
Post a Comment