Tuesday, January 26, 2016

EMBUN



Senja itu mengingatkan Embun pada seseorang yang sudah lama meninggalkannya. Lelaki yang sangat ia sayangi. Suasana di tempat les membuat Embun memutar ulang kembali memori enam tahun lalu yang sudah lama disimpannya. Memori itu berputar layaknya film dokumenter yang sedang tayang di bioskop sore itu. Berawal dari parkiran motor di depan jendela ruang kelas, motor Supra Fit hitam yang dulu dipakainya selalu terparkir disana, kaca spion yang menjadi tempat gantungan helm dan kebiasaannya berjalan melompati pot bunga disamping kelas. Embun tersenyum kecil.
Dia melihat gambaran dirinya saat berada di dalam kelas, menyibakkan gorden jendela kelas ketika suara motor Vega R merambat masuk ke dalam telinganya. Dilihatnya sosok laki-laki bertubuh mungil dan kurus menggunakan helm KYT hitam dengan kaos pink dan celana jeans panjang turun dari motor tersebut. Dengan langkah yang tercipta dari kaki kurusnya, lelaki itu berjalan masuk ke arah pintu masuk ruang kelas. Embun menutup gorden dan berpura-pura mengobrol dengan teman dibelakangnya. Telinganya sudah seperti mesin pendengar canggih yang sangat hafal dengan suara gerakan gagang pintu yang dibuat oleh lelaki itu dengan jari-jari lentiknya ketika akan masuk ke dalam kelas. Pintu terbuka dan wuuusss aroma parfum yang sangat di sukai oleh Embun tercium oleh seisi kelas.
            “ Parfummu itu lo kayak aroma sabun colek!” Ejek Meri, salah satu teman kelas Embun.
Lelaki itu tersenyum sinis mendengar ejekan Meri tanda malas merespon dan langsung duduk disamping Embun.
            “ Tumben gak telat, Jo?” Tanya Embun buka suara.
            “ Iya dong, tadi bangunnya cepet, gak pingsan tidurnya!” Jawab Jodi dengan ekspresi
               wajah yang sangat Embun sukai. Senyum sinis dengan sebelah alisnya terangkat.
            “ Mulai deh pamer alisnya bisa keangkat!”
            “ Nggak kok gak, kan udah dari bayi bisa begini, jadi ga perlu pamerlah!Hahahaha…!!!”
Tawa Jody sudah menjadi kebiasaan yang menjadi bagian hidup Embun saat itu.
            “ Tuh kan, kalo Jodi udah dateng kita dicuekin!” Sindir Silva
Embun dan Jodi hanya tersenyum mendengar sindiran Silva. Kata-kata wajib yang keluar dari mulut ketiga sahabatnya, Meri, Silva dan Mumut ketika Embun bersama Jodi. Embun selalu menghabiskan harinya bersama mereka bertiga dan tentunya bersama Jodi, pacarnya saat SMA. Kesibukan saat kelas XII yang akan menghadapi ujian nasional membuat Embun dan keempat orang yang disayangnya itu menghabiskan waktu di sekolah dan di tempat les.
            Bel tanda pulang les yang ditekan Pak Abi, security di tempat les membuat khayalan masa SMA Embun yang terkepul seperti asap rokok di atas kepalanya buyar tertiup angin tak meninggalkan bekas. Ia menengok kiri dan kanan, ke arah pintu masuk, mempersiapkan tangannya untuk melambai tanda ia sudah berada disana. Embun mengikuti tingkah ayahnya saat menjemputnya pulang les. Ayahnya selalu menunggu di bawah pohon mangga di tempat Embun menunggu saat ini. Ketika Embun keluar, ia sudah melihat tangan ayahnya yang lembut itu melambai dengan melemparkan senyum hangat pada Embun. Embun pun berlari untuk menghampiri ayahnya.
            “ Tadi belajar apa?” Tanya Ayah Embun.
            “ Fisika! Tadi yang ngajar ibu Afifah, bahas PR!”
            “ Silva pulang sama siapa?”
            “ Ntar dijemput pacarnya, Yah!”
Percakapan wajib saat ayah Embun menjemputnya di tempat les.
Mata Embun selalu berkaca-kaca ketika mengingat lelaki yang sangat ia sayangi itu. Ayahnya sudah meninggalkannya tiga tahun yang lalu karena kecelakaan sepeda motor. Sebulan sebelum kejadian yang menimpa ayahnya, Embun putus dengan Jodi. Waktu yang cukup berat untuk melupakan ayahnya dan Jodi. Embun yang sudah terbiasa bersama mereka, bahkan aroma parfum kedua lelaki itu masih melekat di ingatan penciumannya.
            “ Bagaimana bisa aku melupakanmu, ketika aroma parfummu saja masih terus kucari
              sisanya diatara hembusan angin yang setiap hari hanya bisa kurasakan, namun tak bisa
              kusimpan? Bagaimana bisa aku melupakanmu, ketika sisa jejak langkahmu saja masih
              tampak jelas diantara aspal-aspal panas yang selalu kulewati setiap hari? Bagaimana
              bisa aku melupakanmu, ketika kisahmu masih tertata rapi diantara lapisan warna pelangi
              yang pernah kau berikan di hidupku? Bagaimana bisa, Ayah? Bagaimana bisa, Jo?”
Dua kenyataan hidup yang membuat Embun sangat terpukul. Ada setitik butiran air jatuh dari kedua mata Embun. Suara pak Abi membuat butiran air tersebut tidak melanjutkan alirannya dari mata Embun.
            “ Mbak Embun udah lama nunggu?” Sapa pak Abi seraya bertanya.
            “ Iya nih, Pak! Tumben belum keluar!” Jawab Embun seraya mengusap-usap air yang
               keluar dari matanya.
            “ Mungkin ada tambahan mbak! Gimana kerjaan mbak, lancarkah?”
            “ Alhamdulillah lancar, Pak!”
            “ Wah aku masih sering gak nyangka lo ternyata kalian seperti sekarang. Aku sering
               ngomong gini juga dengan mas Jodi. Dua anak yang kecil-kecil banget kalo kencan
               dipikirnya anak ilang, sekarang bareng-bareng lagi sampe dewasa. Manis banget mbak
               kisahnya!”
            “ Aah bisa aja pak Abi, Jodi sih pake jadi playboy segala kemarin jadinya kan putus!
              Mana setelah putus Ayah meninggal, berat banget rasanya. Lumayan lama sih terpuruk.
              Pak Abi bisa bayangin sendiri, aku kalo gak dijemput ayah, ya pulang bareng Jodi.
              Bareng mereka udah jadi kebiasaan, jadinya susah ngerelainnya. Lama kelamaan aku
              sadar, gak ada masalah yang besar karena aku punya Allah yang lebih besar dari
              masalahku. So, life must go on-lah, yah buktinya sekarang Alhamdulillah aku bahagia
              dan ayah pasti bahagia ngeliat anaknya seperti sekarang!”
            “ Benar mbak, Allah gak akan kasik masalah diluar kemampuan kita. Badai pasti berlalu,
              Mbak Embun. Ngomong-ngomong mas Jodi kapan balek dari Malang?”
            “Iya pak Abi, apalagi ada pak Abi temen curhat paling setia dari jaman SMA
              hehehehehe… hmmm~ mingg….eehhhh tu anak baru keliatan batang idungnya!”
Saat akan menjawab pertanyaan pak Abi, Embun melihat seorang anak kecil dengan kemeja coklat, celana jeans pendek, dan ransel bergambar cars menggantung di punggungya keluar dari ruang kelas. Embun melambaikan tangannya dan melemparkan senyum terhangatnya pada anak itu. Seperti yang selalu dilakukan oleh ayahnya. Anak itu berlari kearahnya.
            “ Ini dia mas Jodi junior yang ditunggu-tunggu mamanya dari tadi!” Kata Pak Abi seraya
               mengelus-elus kepala Reza, anak laki-laki Embun dan Jodi yang baru duduk di kelas
               dua SD.
            “ Iya pak, tadi pak gurunya gak denger bel makanya lama pulang!” Jawab Reza dengan
               wajah cemberut sambil mengangkat sebelah alis persis seperti ayahnya. “ Mama  
               jemputnya dari jam berapa?” Sambungnya.
            “ Dari jam setengah tujuh sayang, mama pikir Reza yang capek nunggu mama jemput!  
               Eeh ternyata… Oh ya Pak Abi, minggu depan mas Jodi udah pulang dari Malang kok!
               Jawabnya baru sekarang, tadi kepotong gara-gara ngeliat Reza!”
            “ Iya gak apa-apa mbak!”
            “ Iya deh, kita pulang dulu, Pak! Makasi lo udah mau ditemenin curhat lagi!”
            “ Iya mbak, aku masih setia denger curhatan mbak Embun kok, walaupun ini rambut
               warnanya udah jadi putih semua. Hehehehehehe… ntar kalo mas Jodi macem-macem
               lapor aku mbak, aku jewerin telinganya mas Jodi!Hahahahaha…”
            “ Hahahaha… Siap, Pak!! Aku pulang dulu ya!”
            “ Oke mbak, hati-hati!”
            “ Reza pulang dulu pak Abi!!” Pamit reza dengan suara serak-serak basahnya.
            “ Hati-hati mas Jodi junior, dadaahhh Rezaaa!!” Jawab Pak Abi seraya melambaikan
              tangan ke arah ibu dan anak tersebut.


***

 (cerpen gagal) 

Hai! Namaku Ellya Supria Ningsih. Biasa dipanggil Ria. Aku anak pertama dari 3 bersaudara yang Alhamdulillah lahir dengan selamat pada hari Minggu, 13 Desember 1992 jam 06.30 pagi. Saat ini aku masih tinggal bareng orang tua di Selagalas, lengkapnya sih di Jalan Peternakan gg. Puskesmas lingkungan Selagalas Bhineka, rumahku gak punya nomer. Hehe. Aku sekarang seorang wanita kantoran di Asuransi Jiwa Mandiri Inhealth yang dari Senin-Jumat hidupnya bareng komputer, keyboard, dan mouse aja. Cita-citanya dulu pengen jadi guru, kuliahnya pengen di bahasa Indonesia karena hobinya nulis, tapi faktanya kuliah jadi perawat di Poltekkes Mataram dan kerja di perusahaan asuransi. Hidup gak bisa ditebak emang, manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan. Kalian bisa ngobrol bareng aku di ellyasuprianingsih@gmail.com atau sms aku di 082341885002. Terima kasih J

0 comments:

Post a Comment