Tuesday, September 13, 2016

ROSETTA

“Mengapa kau enggan untuk keluar pada siang hari ?” Tanya Mascarpone pada gadis yang sedang duduk di depannya.
“Aku tidak suka melihat cara orang memandangku!” Jawab gadis berambut hitam sebahu dengan celemek yang selalu menggantung di lehernya.
“Kau cantik, Rosetta! Mengapa kau harus tidak suka pada mata-mata yang belum tentu lebih baik darimu? Ayolah Rosetta, sesekali keluarlah, nikmati matahari dan bunga-bunga yang ada di taman pelangi itu!”
“ TIDAK! Aku tidak ingin datang kesana lagi!!” Bentak Rosetta pada Mascarpone seraya bangun dari tempat duduknya.
Rosetta meninggalkan teman-temannya di atas meja. Mascarpone, Sugar, Flour, Egg, dan semua teman yang membantunya menciptakan dessert setiap harinya. Rosetta, wanita berusia dua puluh lima tahun dengan rambut berwarna hitam sebahu yang selalu diikatnya. Wanita yang selalu menggantungkan celemek di lehernya. Sudah lima tahun terakhir ini Rosetta tinggal di bangunan reot di samping Pabrik tepung. Itu adalah sepetak bangunan peninggalan orangtuanya. Rosetta menganggap bangunannya itu adalah sebuah dapur bernilai satu milyar,. Dapur itu terlihat kumuh. Dapur dengan tembok bata dan pintu kayu rapuh yang sudah dimakan rayap. Orang-orang yang melintas mungkin enggan untuk mendekat. Mereka menganggap bangunan itu tak berpenghuni, karena sekalipun pemiliknya tidak pernah keluar pada siang hari. Namun aroma-aroma kue dan masakan sering tercium oleh hidung-hidung para pemakai jalan.
Suara mixer berbunyi, Sugar, Flour, Egg, Mascarpone, Milk, Unsalted butter berkolaborasi menjadi satu. Masuk ke dalam kotak kaca yang bersuhu dibawah 0°. Tiga jam kemudian mereka keluar lalu menciptakan kolaborasi indah dipuncak ketika Strawberry tiba-tiba mendatangi mereka. Terciptalah dessert yang pertama kali dibuat oleh bangsa Yunani Kuno yang dulunya disajikan untuk para atlet ajang olimpiade yang pertama digelar. Cheese cake, nama dessert yang akan dibawa Rosetta malam itu. Bukan untuk disajikan kepada para atlet, namun untuk dibawa ke toko kue di sebrang jalan dekat dengan dapur kumuhnya.
“Rosetta, jangan lupa syalmu!” Kata Flour mengingatkan.
“ Topimu juga!” Sambung Egg.
“ Baik, terima kasih teman-teman manisku !” Jawab Rosetta.
“ Tersenyumlah! Tidakkah kau ingin meninggalkan senyuman manismu pada kami sebelum kau berangkat ke toko bibi Vidia?”
Terlihat wajah mungil dengan hidung mancung dan mata bening membentuk garis senyum dari bibir mungilnya.
“Hati-hati Rosetta!” Kompak Flour, Egg, dan Sugar.
Rosetta mengangguk lalu keluar dari dapur satu milyarnya. Langkahnya rapuh, berjalan menunduk seperti takut pada dunia. Hawa dingin yang meresap masuk ke dalam tubuh Rosetta.Ditelusurinya jalanan yang dipenuhi kubangan air. Dengan wajah yang dipenuhi debu tepung dan senyum yang tercipta dari bibir merah mudanya Ia mengatakan
"Tidak apa-apa"
Dihitungnya langkah demi langkah, setitik air jatuh di tangan mungilnya.
"Seperti inikah takdir, Ia akan jatuh tepat di genggamanmu?"
Ditelusurinya hati yang tadi terancang rapi lalu tiba-tiba menjadi tak menentu ujungnya seperti labirin yang membuat manusia sulit menemukan jalan keluar. Jalanan kota saat itu begitu sepi. Ada sepotong kisah yang dikhawatirkannya layaknya sisa potongan roti yang hilang sedangkan Ia akan membaginya pada teman-teman yang tinggal bersamanya. Ada resah yang tertinggal dalam ujung otaknya. Resah yang membuat matahari pagi terasa lebih panas daripada goresan besi panas yang menguliti telapak tangannya. Adakah celah untuk kenyamanan hadir diantara keresahan itu? Sepertinya terlalu kecil seperti lubang semut yang tak tampak ketika kau tidak menatapnya lebih dekat. Suara angin malam seperti kawanan anak kecil yang bermain riang terdengar seperti menertawakan wanita dengan jaket tebal, bertopi cupluk dengan syal dilehernya itu. Toko tempatnya mengantarkan Cheesecake sudah terlihat dari sebrang jalan. Perlahan kakinya melewati garis hitam-putih dijalan sambil menghitungnya.
“Satu, dua, tiga, emp….” Langkahnya terhenti.
Dua pasang kaki besar dengan sepatu pantofel coklat tepat didepan matanya. Diangkatnya pandangannya untuk melihat pemilik kaki tersebut. Matanya terbelalak, berkaca lalu badannya bergerak menghindar mengacuhkan pemilik kaki tersebut, lalu melanjutkan perjalanan dengan langkah cepat menuju toko bibi Vidia.
“Selamat malam Bibi Vidia!” Sapa Rosetta dengan suara bergetar seperti akan menangis.
“Mengapa suaramu seperti itu gadis kecilku? Kau kedinginan?” Tanya Bibi Vidia dengan lembutnya.
Rosetta meletakkan Cheesecake itu kedalam cakestation lalu berjalan kearah bibi Vidia dan langsung memeluk erat bibi Vidia. Bibi Vidia adalah sahabat ibu Rosetta sejak kecil. Sejak ibu Rosetta meninggal, bibi Vidia adalah satu-satunya yang dianggap Keluarga oleh Rosetta. Badan besar bibi Vidia mampu membuat tubuh mungil Rosetta nyaman.
“Kau kenapa? Ceritalah, bibi akan mendengarkanmu!”
“Aku bertemu orang itu lagi! Aku takut!”
“Apa yang ia katakan?”
Rosetta menggeleng.
“Jangan takut, dia tidak akan menyakitimu! Pulanglah, mandi dengan air hangat, lalu tidurlah! Lihat wajahmu, penuh dengan sisa debu tepung yang menempel! Bagaimana kau akan bertemu dengan laki-laki nantinya jika kau terus seperti ini?” Kata Bibi Vidia seraya menghapus air mata Rosetta.
Rosetta tersenyum kecil.
“Laki-laki tidak akan berani mendekati wanita dengan debu tepung di wajahnya! Dan sepertinya aku tidak butuh mereka. Mereka hanya suka pada wanita dengan bedak tebal dan lipstik warna-warni di bibirnya.”
“Tidak semua seperti itu, suatu saat kau akan bertemu dengan seseorang yang akan mengusap debu tepung itu dari wajahmu!”
“Tidak, Bibi! Tidak ada yang seperti itu! Ayah saja belum pernah mengusap debu tepung ini dari wajahku. Bibi aku pamit!”
Rosetta meninggalkan bibi Vidia dan langsung pulang kerumah. Saat Ia pergi, seorang laki-laki memasuki toko kue bibi Vidia.
“Selamat malam, Vidia!” Sapa laki-laki bermantel hitam dengan menggunakan sepatu pantofel coklat.
Bibi Vidia seperti sudah terbiasa dengan kedatangan laki-laki itu setiap malam.
“Tidakkah kau begitu kejam pada anakmu?” Ucap Bibi Vidia dengan nada marah.
“Aku menunggunya, aku selalu memperhatikannya setiap malam ketika dia mengantarkan kue ke tokomu, tapi dia selalu menghindar dariku!”
“Bagaimana dia tidak menghindar darimu, Kau selalu terdiam ketika bertemu dengannya! Itu membuatnya takut! Tidakkah kau merasa sedih ketika anakmu sendiri takut padamu?”
“Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku membawanya ke psikiater?”
“Beraninya kau menganggap anakmu gila!! Lebih baik kau pulang saja kerumah istanamu bersama dengan wanita itu!!!! Dia anakku, bukan anakmu! ” Kata Bibi Vidia dengan marahnya.
“Kau tidak pernah mendengar apa yang dikatakan orang-orang tentang Rosetta! Orang-orang menganggapnya gadis gila yang sering berbicara sendiri dan tertawa sendiri di dalam bangunan reot itu! AKU! Aku sering melihatnya dari jendela depan yang tertutup oleh tumpukan debu! Dia berbicara dengan bahan-bahan kue, bermain tanpa teman, tertawa tanpa teman, menurutmu apa lagi yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan anakku kalau bukan membawanya ke psikiater?!!”
Kata-kata laki-laki itu membuat Bibi Vidia sangat marah. Bibi Vidia tetap mengusir laki-laki itu dari tokonya. Laki-laki itu pun pergi jauh, menghilang ditelan oleh gelapnya malam.
Terik matahari pagi menerobos masuk ke celah-celah ventilasi dapur Rosetta. Rosetta berdiri di bawah ventilasi untuk menikmati terik mentari yang menyentuh kulit wajahnya. Hari itu, pertama kalinya Rosetta akan keluar pada siang hari setelah lima tahun terakhir. Dia akan ke rumah sakit mengunjungi bibi Vidia yang dirawat karena terjatuh di kamar mandi. Dengan menggunakan dress round neck lengan pendek berwarna putih dengan flower border tassel patchwork longgar dan sepatu sneakers putih, ia berjalan menyusuri jalanan kota yang begitu panas hari itu dengan membawa sekotak blackforest coklat kesukaan bibi Vidia. Rumah sakit itu tampak ramai. Rosetta memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah sakit itu. Ia bertanya pada satpam dimana ruangan tempat bibi Vidia dirawat.
“ Selamat siang bibi Vidia!” Sapa Rosetta saat memasuki kamar tempat bibi Vidia di rawat.
“ Aneh sekali rasanya! Biasanya kau hanya mengucapkan selamat malam padaku, ini pertama kalinya aku mendengar kau mengucapkan selamat siang. Sini mendekatlah, aku ingin memelukmu!”
Rosetta mendekati tempat tidur bibi Vidia lalu menghamburkan pelukan hangat untuk bibi Vidia.
“Apa yang membuat gadis kecilku berani keluar di siang hari seperti ini? Apa kau ditemani oleh lelaki tampan yang mau mengusap debu tepung di wajahmu? Wah, bajumu indah sekali!”
“Tidak, Bi! Aku ditemani oleh teman-temanku.”
Bibi Vidia mengangguk sekaligus kebingungan mendengar pertanyaan Rosetta.
“Masuklah, bibi Vidia ingin berkenalan dengan kalian. Kenalkan, ini bibiku, Vidia. Bibi, ini Flour, Egg, Mascarpone dan Sugar. Aku tinggal bersama mereka di dapur satu milyarku.”
Bibi Vidia mengangguk dan segera memeluk Rosetta erat. Rosetta kebingungan melihat bibi Vidia seperti itu. Ini pertama kalinya bibi Vidia melihat keanehan yang terjadi pada Rosetta.
“Kenapa kau menangis, bibi?”
“Tidak, aku hanya bahagia masih bisa melihatmu tumbuh menjadi seorang wanita cantik seperti saat ini. Bisakah kau membelikan bibi jus apel di loby? Bibi ingin sekali meminum jus itu!”
“Baiklah, aku pergi dulu ya! Bibi akan dijaga oleh teman-temanku!”
Rosetta berjalan menuruni puluhan anak tangga. Aroma rumah sakit yang khas seperti aroma tempat dimana ibunya meninggalkannya pergi. Ketidaknyaman menghinggapi perasaannya yang dipenuhi luka disetiap sudutnya. Ia masih seperti gadis kecil yang tidak tahu apa-apa tentang dunia. Yang Rosetta tahu hanyalah bibi Vidia, selebihnya dia tidak memiliki teman. Teman-temannya tidak pernah menghubunginya lagi sejak lima tahun yang lalu. Rosetta seorang introvert. Dia tidak memiliki teman akrab atau sahabat. Ibunya meninggal sejak usianya dua puluh tahun, lalu ayahnya pergi dan meninggalkannya tepat sehari setelah pemakaman ibunya. Ia ditinggalkan di bangunan reot dan kumuh disamping Pabrik tepung. Bangunan itu pernah akan dibeli oleh Pabrik tepung tersebut, namun Rosetta menolaknya. Ia akan menjual dapurnya itu jika ada yang berani membayar satu milyar. Namun idenya itu membuatnya dianggap gila oleh orang-orang disekitarnya. Karena itu Ia tidak pernah keluar di siang hari, ia tidak suka melihat tatapan orang-orang saat melihatnya. Ia tak suka dianggap gila oleh orang-orang.
Di kamar, bibi Vidia merogoh handphone dari kantongnya lalu menguhubungi seseorang.
“Halo, Judy! Kemarilah, dia ada disini bersamaku! Aku akan memberikanmu kesempatan satu kali saja!”
Bibi Vidia meletakkan handphone tersebut di meja dekat tempat tidurnya lalu membaringkan diri. Rosetta yang masih di lobby masih terpaku berdiri di depan seorang laki-laki bersepatu pantofel coklat. Rosetta terjatuh tak sadarkan diri.
****
Taman pelangi yang terletak di samping rumah sakit tempat ibu Rosetta di rawat adalah taman favorit Rosetta. Setiap pagi ia selalu menikmati terik matahari yang selalu tidak sopan menyentuh wajah mungilnya, menggelitik perutnya hingga tawa menjadi cerita di dalam taman pelangi itu. Ayahnya selalu menemaninya menikmati pagi di kursi taman yang terbuat dari kayu itu. Tawa menjadi kisah pertama yang Rosetta tulis di kursi taman tersebut. Lalu tangis menjadi kisah kedua yang ditulisnya saat ibunya meninggal, dan luka menjadi kisah terakhir yang ditulisnya saat melihat ayahnya pergi meninggalkannya.
“Rosetta, Rosetta, Rosettaa!” Panggil seorang wanita menggunakan dress fair Valentino berlipit motif patchwork dan berjas putih.
Rosetta terbangun. Ia masih belum sadarkan diri sepenuhnya. Ruangan putih dengan tempat tidur pasien yang disampingnya terdapat meja kecil tempat lampu tidur berdiri masih membuatnya bingung. Terik matahari yang muncul ketika wanita itu membuka jendela kamarnya membuatnya merasakan perasaan sakit yang Ia sendiri tak tahu apa alasannya. Rasa sakit karena sebuah perpisahan yang menyenangkan yang pada akhirnya tidak berarti apa-apa. Jika ia tahu, ia akan menangisi semuanya kemudian mengeluarkan semuanya.
“Selamat pagi Rosetta!” Sapa wanita itu.
“Selamat pagi, Dokter Jane!” Jawab Rosetta.
“Sudah siap untuk obrolan hari ini?”
Rosetta mengangguk. Ia turun dari tempat tidurnya. Wanita berwajah mungil dengan mata sembab menjadi kisah di hidup wanita berusia dua puluh lima tahun ini. Langkahnya rapuh, angin mungkin saja akan membuatnya terjatuh dengan hembusannya. Dingin mungkin saja akan membuat tubuhnya terluka jika tidak terlindungi oleh mantel hangatnya. Hujan akan menyakitinya jika payung sudah tidak bisa lagi menjadi pelindung. Tubuh mungilnya terlihat cantik menggunakan dress round neck lengan pendek berwarna putih dengan flower border tassel patchwork longgar walaupun tanpa menggunakan alas kaki. Rambut hitamnya tergerai menutupi punggung rapuhnya. Ia duduk di depan dokter Jane.
“ Oke Rosetta, apa kabar hari ini?” Tanya dokter Jane memulai pembicaraan.
“Baik!”
“ Belakangan ini, seberapa sering kamu bermimpi?”
Rosetta menunduk sambil tersenyum pendek.
“atau ada tempat yang membuatmu tidak nyaman?” sambung dokter Jane.
“Suatu hari tiba-tiba aku merasa aneh. Tubuhku terasa aneh. Seperti itu bukan aku. Dokter Jane, tidakkah kau merasa cuaca hari ini sangat aneh?”
“Apa maksudmu? Mengapa cuaca hari ini sangat aneh?”
“Entahlah, cuaca ini membuatku merasakan ada seseorang yang akan datang dan melihatku.”
“Siapa? Apakah kamu berfikir itu akan terjadi?”
Rosetta terdiam. Mengingat saat dimana suara langkah kaki mendekati kamarnya. Seorang laki-laki bermantel hitam dan bersepatu pantofel coklat berdiri di depan pintu kamarnya. Ia sedang tertidur dengan posisi telungkup dengan kepala menghadap pintu. Ketika Ia melihat laki-laki itu berdiri, Ia segera membalikkan posisi kepalanya agar Ia tidak melihat laki-laki itu datang.
“Rosetta, ayahmu sudah meninggal, benarkah?” Sambung dokter Jane membuyarkan lamunan Rosetta.
Rosetta menunduk tampak berfikir. Pertanyaan dokter Jane tidak dijawab langsung olehnya. Lagi-lagi ia mengingat saat ia berjalan di taman pelangi, laki-laki bermantel hitam itu mengikutinya dari belakang. Rasa takut kemudian menghampirinya. Dengan kaki telanjang tak bersepatu ia berlari kembali ke kamarnya. Nafasnya terengah-engah saat tiba di pintu kamarnya kemudian mendadak nafasnya berhenti saat sebuah tangan besar menyentuh pundaknya. Rosetta tampak terkejut.
“Kenapa Rosetta? Apa yang sedang kau fikirkan? Kau belum menjawab pertanyaanku, ayahmu sudah meninggal bukan?”
“Dia datang kembali, semua orang berfikir dia adalah ayahku, tapi orang itu bukan ayahku!”
Mata Rosetta menatap dokter Jane yang sedang terlihat mengisi beberapa catatan. Rosetta kembali larut dalam lamunannya. Lamunan yang membuatnya menjadi menangis histeris yang membuat dokter Jane terkejut.

***



0 comments:

Post a Comment