“Mengapa
kau enggan untuk keluar pada siang hari ?” Tanya Mascarpone pada gadis yang
sedang duduk di depannya.
“Aku
tidak suka melihat cara orang memandangku!” Jawab gadis berambut hitam sebahu
dengan celemek yang selalu menggantung di lehernya.
“Kau
cantik, Rosetta! Mengapa kau harus tidak suka pada mata-mata yang belum tentu
lebih baik darimu? Ayolah Rosetta, sesekali keluarlah, nikmati matahari dan
bunga-bunga yang ada di taman pelangi itu!”
“
TIDAK! Aku tidak ingin datang kesana lagi!!” Bentak Rosetta pada Mascarpone
seraya bangun dari tempat duduknya.
Rosetta
meninggalkan teman-temannya di atas meja. Mascarpone, Sugar, Flour, Egg, dan
semua teman yang membantunya menciptakan dessert setiap harinya. Rosetta,
wanita berusia dua puluh lima tahun dengan rambut berwarna hitam sebahu yang
selalu diikatnya. Wanita yang selalu menggantungkan celemek di lehernya. Sudah
lima tahun terakhir ini Rosetta tinggal di bangunan reot di samping Pabrik
tepung. Itu adalah sepetak bangunan peninggalan orangtuanya. Rosetta menganggap
bangunannya itu adalah sebuah dapur bernilai satu milyar,. Dapur itu terlihat
kumuh. Dapur dengan tembok bata dan pintu kayu rapuh yang sudah dimakan rayap.
Orang-orang yang melintas mungkin enggan untuk mendekat. Mereka menganggap
bangunan itu tak berpenghuni, karena sekalipun pemiliknya tidak pernah keluar
pada siang hari. Namun aroma-aroma kue dan masakan sering tercium oleh
hidung-hidung para pemakai jalan.
Suara
mixer berbunyi, Sugar, Flour, Egg, Mascarpone, Milk, Unsalted butter berkolaborasi
menjadi satu. Masuk ke dalam kotak kaca yang bersuhu dibawah 0°. Tiga jam
kemudian mereka keluar lalu menciptakan kolaborasi indah dipuncak ketika
Strawberry tiba-tiba mendatangi mereka. Terciptalah dessert yang pertama kali
dibuat oleh bangsa Yunani Kuno yang dulunya disajikan untuk para atlet ajang
olimpiade yang pertama digelar. Cheese cake, nama dessert yang akan dibawa
Rosetta malam itu. Bukan untuk disajikan kepada para atlet, namun untuk dibawa
ke toko kue di sebrang jalan dekat dengan dapur kumuhnya.
“Rosetta,
jangan lupa syalmu!” Kata Flour mengingatkan.
“
Topimu juga!” Sambung Egg.
“
Baik, terima kasih teman-teman manisku !” Jawab Rosetta.
“
Tersenyumlah! Tidakkah kau ingin meninggalkan senyuman manismu pada kami
sebelum kau berangkat ke toko bibi Vidia?”
Terlihat
wajah mungil dengan hidung mancung dan mata bening membentuk garis senyum dari
bibir mungilnya.
“Hati-hati
Rosetta!” Kompak Flour, Egg, dan Sugar.
Rosetta
mengangguk lalu keluar dari dapur satu milyarnya. Langkahnya rapuh, berjalan
menunduk seperti takut pada dunia. Hawa dingin
yang meresap masuk ke dalam tubuh Rosetta.Ditelusurinya jalanan yang dipenuhi
kubangan air. Dengan wajah yang dipenuhi
debu tepung dan senyum yang tercipta dari bibir merah mudanya Ia mengatakan
"Tidak apa-apa"
Dihitungnya langkah demi langkah, setitik air jatuh di tangan
mungilnya.
"Seperti inikah takdir, Ia akan jatuh tepat di
genggamanmu?"
Ditelusurinya hati yang tadi terancang rapi lalu tiba-tiba
menjadi tak menentu ujungnya seperti labirin yang membuat manusia sulit
menemukan jalan keluar. Jalanan kota saat itu begitu sepi. Ada sepotong kisah yang dikhawatirkannya layaknya sisa
potongan roti yang hilang sedangkan Ia akan membaginya pada teman-teman yang
tinggal bersamanya. Ada resah yang tertinggal dalam ujung otaknya. Resah yang membuat matahari pagi terasa lebih panas
daripada goresan besi panas yang menguliti telapak tangannya. Adakah celah untuk kenyamanan hadir diantara keresahan
itu? Sepertinya terlalu kecil seperti lubang semut yang tak tampak ketika kau
tidak menatapnya lebih dekat. Suara angin malam seperti kawanan anak
kecil yang bermain riang terdengar seperti menertawakan wanita dengan jaket
tebal, bertopi cupluk dengan syal dilehernya itu. Toko tempatnya mengantarkan
Cheesecake sudah terlihat dari sebrang jalan. Perlahan kakinya melewati garis
hitam-putih dijalan sambil menghitungnya.
“Satu,
dua, tiga, emp….” Langkahnya terhenti.
Dua
pasang kaki besar dengan sepatu pantofel coklat tepat didepan matanya.
Diangkatnya pandangannya untuk melihat pemilik kaki tersebut. Matanya
terbelalak, berkaca lalu badannya bergerak menghindar mengacuhkan pemilik kaki tersebut,
lalu melanjutkan perjalanan dengan langkah cepat menuju toko bibi Vidia.
“Selamat
malam Bibi Vidia!” Sapa Rosetta dengan suara bergetar seperti akan menangis.
“Mengapa
suaramu seperti itu gadis kecilku? Kau kedinginan?” Tanya Bibi Vidia dengan
lembutnya.
Rosetta
meletakkan Cheesecake itu kedalam cakestation lalu berjalan kearah bibi Vidia
dan langsung memeluk erat bibi Vidia. Bibi Vidia adalah sahabat ibu Rosetta
sejak kecil. Sejak ibu Rosetta meninggal, bibi Vidia adalah satu-satunya yang
dianggap Keluarga oleh Rosetta. Badan besar bibi Vidia mampu membuat tubuh
mungil Rosetta nyaman.
“Kau
kenapa? Ceritalah, bibi akan mendengarkanmu!”
“Aku
bertemu orang itu lagi! Aku takut!”
“Apa
yang ia katakan?”
Rosetta
menggeleng.
“Jangan
takut, dia tidak akan menyakitimu! Pulanglah, mandi dengan air hangat, lalu
tidurlah! Lihat wajahmu, penuh dengan sisa debu tepung yang menempel! Bagaimana
kau akan bertemu dengan laki-laki nantinya jika kau terus seperti ini?” Kata
Bibi Vidia seraya menghapus air mata Rosetta.
Rosetta
tersenyum kecil.
“Laki-laki
tidak akan berani mendekati wanita dengan debu tepung di wajahnya! Dan
sepertinya aku tidak butuh mereka. Mereka hanya suka pada wanita dengan bedak
tebal dan lipstik warna-warni di bibirnya.”
“Tidak
semua seperti itu, suatu saat kau akan bertemu dengan seseorang yang akan
mengusap debu tepung itu dari wajahmu!”
“Tidak,
Bibi! Tidak ada yang seperti itu! Ayah saja belum pernah mengusap debu tepung
ini dari wajahku. Bibi aku pamit!”
Rosetta
meninggalkan bibi Vidia dan langsung pulang kerumah. Saat Ia pergi, seorang
laki-laki memasuki toko kue bibi Vidia.
“Selamat
malam, Vidia!” Sapa laki-laki bermantel hitam dengan menggunakan sepatu
pantofel coklat.
Bibi
Vidia seperti sudah terbiasa dengan kedatangan laki-laki itu setiap malam.
“Tidakkah
kau begitu kejam pada anakmu?” Ucap Bibi Vidia dengan nada marah.
“Aku
menunggunya, aku selalu memperhatikannya setiap malam ketika dia mengantarkan
kue ke tokomu, tapi dia selalu menghindar dariku!”
“Bagaimana
dia tidak menghindar darimu, Kau selalu terdiam ketika bertemu dengannya! Itu
membuatnya takut! Tidakkah kau merasa sedih ketika anakmu sendiri takut
padamu?”
“Apa
yang harus aku lakukan? Haruskah aku membawanya ke psikiater?”
“Beraninya
kau menganggap anakmu gila!! Lebih baik kau pulang saja kerumah istanamu
bersama dengan wanita itu!!!! Dia anakku, bukan anakmu! ” Kata Bibi Vidia
dengan marahnya.
“Kau
tidak pernah mendengar apa yang dikatakan orang-orang tentang Rosetta!
Orang-orang menganggapnya gadis gila yang sering berbicara sendiri dan tertawa
sendiri di dalam bangunan reot itu! AKU! Aku sering melihatnya dari jendela
depan yang tertutup oleh tumpukan debu! Dia berbicara dengan bahan-bahan kue,
bermain tanpa teman, tertawa tanpa teman, menurutmu apa lagi yang harus aku
lakukan untuk menyelamatkan anakku kalau bukan membawanya ke psikiater?!!”
Kata-kata
laki-laki itu membuat Bibi Vidia sangat marah. Bibi Vidia tetap mengusir
laki-laki itu dari tokonya. Laki-laki itu pun pergi jauh, menghilang ditelan
oleh gelapnya malam.
Terik
matahari pagi menerobos masuk ke celah-celah ventilasi dapur Rosetta. Rosetta
berdiri di bawah ventilasi untuk menikmati terik mentari yang menyentuh kulit
wajahnya. Hari itu, pertama kalinya Rosetta akan keluar pada siang hari setelah
lima tahun terakhir. Dia akan ke rumah sakit mengunjungi bibi Vidia yang
dirawat karena terjatuh di kamar mandi. Dengan menggunakan dress round neck
lengan pendek berwarna putih dengan flower border tassel patchwork longgar dan
sepatu sneakers putih, ia berjalan menyusuri jalanan kota yang begitu panas
hari itu dengan membawa sekotak blackforest coklat kesukaan bibi Vidia. Rumah
sakit itu tampak ramai. Rosetta memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah
sakit itu. Ia bertanya pada satpam dimana ruangan tempat bibi Vidia dirawat.
“
Selamat siang bibi Vidia!” Sapa Rosetta saat memasuki kamar tempat bibi Vidia
di rawat.
“
Aneh sekali rasanya! Biasanya kau hanya mengucapkan selamat malam padaku, ini
pertama kalinya aku mendengar kau mengucapkan selamat siang. Sini mendekatlah,
aku ingin memelukmu!”
Rosetta
mendekati tempat tidur bibi Vidia lalu menghamburkan pelukan hangat untuk bibi
Vidia.
“Apa
yang membuat gadis kecilku berani keluar di siang hari seperti ini? Apa kau
ditemani oleh lelaki tampan yang mau mengusap debu tepung di wajahmu? Wah,
bajumu indah sekali!”
“Tidak,
Bi! Aku ditemani oleh teman-temanku.”
Bibi
Vidia mengangguk sekaligus kebingungan mendengar pertanyaan Rosetta.
“Masuklah,
bibi Vidia ingin berkenalan dengan kalian. Kenalkan, ini bibiku, Vidia. Bibi,
ini Flour, Egg, Mascarpone dan Sugar. Aku tinggal bersama mereka di dapur satu
milyarku.”
Bibi
Vidia mengangguk dan segera memeluk Rosetta erat. Rosetta kebingungan melihat
bibi Vidia seperti itu. Ini pertama kalinya bibi Vidia melihat keanehan yang
terjadi pada Rosetta.
“Kenapa
kau menangis, bibi?”
“Tidak,
aku hanya bahagia masih bisa melihatmu tumbuh menjadi seorang wanita cantik
seperti saat ini. Bisakah kau membelikan bibi jus apel di loby? Bibi ingin
sekali meminum jus itu!”
“Baiklah,
aku pergi dulu ya! Bibi akan dijaga oleh teman-temanku!”
Rosetta
berjalan menuruni puluhan anak tangga. Aroma rumah sakit yang khas seperti
aroma tempat dimana ibunya meninggalkannya pergi. Ketidaknyaman menghinggapi
perasaannya yang dipenuhi luka disetiap sudutnya. Ia masih seperti gadis kecil
yang tidak tahu apa-apa tentang dunia. Yang Rosetta tahu hanyalah bibi Vidia,
selebihnya dia tidak memiliki teman. Teman-temannya tidak pernah menghubunginya
lagi sejak lima tahun yang lalu. Rosetta seorang introvert. Dia tidak memiliki
teman akrab atau sahabat. Ibunya meninggal sejak usianya dua puluh tahun, lalu
ayahnya pergi dan meninggalkannya tepat sehari setelah pemakaman ibunya. Ia
ditinggalkan di bangunan reot dan kumuh disamping Pabrik tepung. Bangunan itu
pernah akan dibeli oleh Pabrik tepung tersebut, namun Rosetta menolaknya. Ia
akan menjual dapurnya itu jika ada yang berani membayar satu milyar. Namun
idenya itu membuatnya dianggap gila oleh orang-orang disekitarnya. Karena itu
Ia tidak pernah keluar di siang hari, ia tidak suka melihat tatapan orang-orang
saat melihatnya. Ia tak suka dianggap gila oleh orang-orang.
Di
kamar, bibi Vidia merogoh handphone dari kantongnya lalu menguhubungi
seseorang.
“Halo,
Judy! Kemarilah, dia ada disini bersamaku! Aku akan memberikanmu kesempatan
satu kali saja!”
Bibi
Vidia meletakkan handphone tersebut di meja dekat tempat tidurnya lalu
membaringkan diri. Rosetta yang masih di lobby masih terpaku berdiri di depan
seorang laki-laki bersepatu pantofel coklat. Rosetta terjatuh tak sadarkan
diri.
****
Taman
pelangi yang terletak di samping rumah sakit tempat ibu Rosetta di rawat adalah
taman favorit Rosetta. Setiap pagi ia selalu menikmati terik matahari yang selalu
tidak sopan menyentuh wajah mungilnya, menggelitik perutnya hingga tawa menjadi
cerita di dalam taman pelangi itu. Ayahnya selalu menemaninya menikmati pagi di
kursi taman yang terbuat dari kayu itu. Tawa menjadi kisah pertama yang Rosetta
tulis di kursi taman tersebut. Lalu tangis menjadi kisah kedua yang ditulisnya
saat ibunya meninggal, dan luka menjadi kisah terakhir yang ditulisnya saat
melihat ayahnya pergi meninggalkannya.
“Rosetta,
Rosetta, Rosettaa!” Panggil seorang wanita menggunakan dress fair Valentino
berlipit motif patchwork dan berjas putih.
Rosetta
terbangun. Ia masih belum sadarkan diri sepenuhnya. Ruangan putih dengan tempat
tidur pasien yang disampingnya terdapat meja kecil tempat lampu tidur berdiri
masih membuatnya bingung. Terik matahari yang muncul ketika wanita itu membuka
jendela kamarnya membuatnya merasakan perasaan sakit yang Ia sendiri tak tahu
apa alasannya. Rasa sakit karena sebuah perpisahan yang menyenangkan yang pada
akhirnya tidak berarti apa-apa. Jika ia tahu, ia akan menangisi semuanya
kemudian mengeluarkan semuanya.
“Selamat
pagi Rosetta!” Sapa wanita itu.
“Selamat
pagi, Dokter Jane!” Jawab Rosetta.
“Sudah
siap untuk obrolan hari ini?”
Rosetta
mengangguk. Ia turun dari tempat tidurnya. Wanita berwajah mungil dengan mata
sembab menjadi kisah di hidup wanita berusia dua puluh lima tahun ini.
Langkahnya rapuh, angin mungkin saja akan membuatnya terjatuh dengan
hembusannya. Dingin mungkin saja akan membuat tubuhnya terluka jika tidak
terlindungi oleh mantel hangatnya. Hujan akan menyakitinya jika payung sudah
tidak bisa lagi menjadi pelindung. Tubuh mungilnya terlihat cantik menggunakan
dress round neck lengan pendek berwarna putih dengan flower border tassel
patchwork longgar walaupun tanpa menggunakan alas kaki. Rambut hitamnya
tergerai menutupi punggung rapuhnya. Ia duduk di depan dokter Jane.
“
Oke Rosetta, apa kabar hari ini?” Tanya dokter Jane memulai pembicaraan.
“Baik!”
“
Belakangan ini, seberapa sering kamu bermimpi?”
Rosetta
menunduk sambil tersenyum pendek.
“atau
ada tempat yang membuatmu tidak nyaman?” sambung dokter Jane.
“Suatu
hari tiba-tiba aku merasa aneh. Tubuhku terasa aneh. Seperti itu bukan aku. Dokter
Jane, tidakkah kau merasa cuaca hari ini sangat aneh?”
“Apa
maksudmu? Mengapa cuaca hari ini sangat aneh?”
“Entahlah,
cuaca ini membuatku merasakan ada seseorang yang akan datang dan melihatku.”
“Siapa?
Apakah kamu berfikir itu akan terjadi?”
Rosetta
terdiam. Mengingat saat dimana suara langkah kaki mendekati kamarnya. Seorang
laki-laki bermantel hitam dan bersepatu pantofel coklat berdiri di depan pintu
kamarnya. Ia sedang tertidur dengan posisi telungkup dengan kepala menghadap
pintu. Ketika Ia melihat laki-laki itu berdiri, Ia segera membalikkan posisi
kepalanya agar Ia tidak melihat laki-laki itu datang.
“Rosetta,
ayahmu sudah meninggal, benarkah?” Sambung dokter Jane membuyarkan lamunan
Rosetta.
Rosetta
menunduk tampak berfikir. Pertanyaan dokter Jane tidak dijawab langsung
olehnya. Lagi-lagi ia mengingat saat ia berjalan di taman pelangi, laki-laki
bermantel hitam itu mengikutinya dari belakang. Rasa takut kemudian
menghampirinya. Dengan kaki telanjang tak bersepatu ia berlari kembali ke
kamarnya. Nafasnya terengah-engah saat tiba di pintu kamarnya kemudian mendadak
nafasnya berhenti saat sebuah tangan besar menyentuh pundaknya. Rosetta tampak
terkejut.
“Kenapa
Rosetta? Apa yang sedang kau fikirkan? Kau belum menjawab pertanyaanku, ayahmu
sudah meninggal bukan?”
“Dia
datang kembali, semua orang berfikir dia adalah ayahku, tapi orang itu bukan
ayahku!”
Mata
Rosetta menatap dokter Jane yang sedang terlihat mengisi beberapa catatan.
Rosetta kembali larut dalam lamunannya. Lamunan yang membuatnya menjadi
menangis histeris yang membuat dokter Jane terkejut.
***
0 comments:
Post a Comment