Tuesday, September 13, 2016

ANJING KAMPUNG

Malam itu aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
Menikmati aroma alkohol dan obat-obatan.
Mendengar suara tangis bayi dari ruang NICU.
Mendengar suara ventilator dari ruang ICU.
Mendengar suara nafas para pemilik paru-paru yang sedang terbaring lemah di tempat itu.
Mengapa terasa pengap?
Aku keluar dari tempat itu.
Menikmati angin malam yang begitu dingin.
Angin malam yang menyakiti hatiku begitu dalam.
Aku lelah.
Aku duduk di kursi taman rumah sakit.
Taman dimana aku bisa mendengar nafas pohon yang sekarang sedang memperhatikanku.
Hai bunga pukul Sembilan yang malam ini sedang tertidur pulas,
Bolehkah aku mengganggumu dengan tangisan yang akan membuat riuh rumahmu ini?
Aku mengangkat pandanganku, melihat seorang perempuan yang persis sama sepertiku.
Ada apa dengan perempuan yang duduk di bawah lampu jalanan itu ?
Rambutnya terikat rapi dengan tali berbulu berwarna merah jambu.
Sepertinya sweater  putihnya tak sanggup melindungi tubuhnya dari hawa malam ini.
Tangannya memegang patahan ranting, menari-menari menciptakan lukisan abstrak di atas tanah.
Rintikan air terjatuh dari kedua sudut matanya.
Apa yang membuatnya menangis?
Aku beranjak duduk di depannya.
“Apa yang membuatmu menangis?” Tanyaku pada perempuan yang terlihat seperti kembaranku.
Dia mengangkat wajahnya, melihatku dengan tatapan yang begitu dalam.
“Siapa lagi yang harus kau percayai saat ini ketika seseorang yang paling kau percaya mengkhianatimu?”
Aku terdiam.
Seperti pertanyaan yang langsung menusuk ujung jantungku.
“Masihkah kau bisa mempercayai seseorang setelah apa yang terjadi padamu saat ini?”
Pertanyaan itu menggema di telingaku.
Dingin. Dingin sekali.
Aku berdiri.
Dia pun berdiri.
Mengikuti kemana aku pergi.
Tiba-tiba Ia berhenti di depan sebuah kamar Irna 1B.
Dia memanggilku.
“Lihat, apa yang kau lakukan jika melihat orang yang kau sayang tersakiti oleh orang yang kau percaya untuk menjagamu? Masih merasa amankah kau hidup di dunia jika tidak ada yang kau percaya untuk menjagamu?”
Dia menunjuk seorang wanita yang terlihat seperti ibuku menangis di bawah jendela kamar tempat ayahku dirawat.
“Apa yang akan kau lakukan jika ada suara anjing yang menganggu kenyamanan tidurmu saat malam hari?”
Aku terdiam.
“Bukan hanya tidurmu saja, anjing itu menghampirimu lalu mengendus-ngendus ingin diberi makan oleh ayahmu. Lalu menggonggong kearah ibumu dan akan menggigit ibumu ketika ibumu melihatnya bermanja-manja dengan ayahmu. Tidakkah kau ingin memberi tusukan pisau paling tajam di dunia untuk anjing itu? Memotong lidahnya yang menjilat-jilati ayahmu, menjambak bulunya yang mengotori sofa dirumah, dan menyiram wajah lucunya yang terlihat menyedihkan dengan air raksa . Bukankah itu tindakan paling tepat untuk membuat anjing itu keluar dari rumahmu?”
Aku terpaku.
Terdiam.
Mulutku tak bisa terbuka. Seperti ada lem kuat yang sudah diciptakan air liur untuk menutup mulutku.
Air mataku mengalir seperti kran air yang sedang bocor.
Dering dari telepon genggamku berbunyi.
Ada satu panggilan telepon.
“Halo!”
Terdengar suara gonggongan anjing yang terdengar seperti mengkhawatirkan keadaan ayahku.
Suara gonggongan anjing yang ingin tahu keberadaanku.
Suara gonggongan anjing yang ingin bertemu denganku.
Suara gonggongan anjing yang mencoba menenangkanku.
Suara gonggongan anjing kampung yang mencoba menjadi anjing kota.
Suara gonggongan anjing yang mencoba menjadi anjing yang baik dan lucu.
“Bukankah semanis-manisnya anjing dia akan tetap menjadi anjing yang suatu saat akan menggigitmu?”
Suara perempuan yang tadi kutemui di bawah lampu jalanan masih terdengar jelas.
“Sebersih-bersihnya anjing dia akan meninggalkan kotoran di sofa putihmu?”
Aku langsung menutup telepon itu.
Lututku terasa lemas hingga tak mampu berdiri.
Bahkan perempuan yang bersamaku tadi tidak punya cukup tenaga untuk membantuku berdiri.
Aku berpegangan pada dinding yang membantuku berdiri saat itu.
Dinding itu menggenggam tanganku dan membantuku berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
Dia melepas genggamannya saat aku berada di sebrang jalanan di depan taman rumah sakit.
Aku jatuh terkulai lemas di bawah lampu jalanan malam itu.
Lampu jalanan yang mampu memberiku cahaya dikala gelapnya malam menghalangi langkahku.
Sesaat kemudian aku terbangun dan duduk tepat dibawah cahaya bola lampu jalanan itu.
Ranting-ranting pohon yang sudah kering berhamburan di sekelilingku.
Aku mengambil satu ranting lalu mematahkannya menjadi dua.
Aku mencoba menyambungkannya lagi, tapi tidak bisa.
Sekeras apapun usahaku, ranting itu tak akan kembali utuh seperti semula.
Dia hanya ranting, ranting terjatuh dari pohon tempatnya hidup selama ini, lalu tersapu oleh kumpulan kayu tipis dan dibakar oleh batang kayu yang dilapisi fosfor.
Tiba-tiba aku mendapati kaki seseorang berhenti tepat di depanku.
Aku mengangkat wajahku.
Seorang perempuan yang terlihat seperti aku.
“Lihat ke arah gerbang rumah sakit!” Katanya tiba-tiba.
Aku menoleh.
Disana ada seekor anjing berbulu putih bersih dengan mata yang bersinar tajam berjalan akan memasuki pintu rumah sakit.
Air mataku menetes.
Tanganku meremas habis sisa potongan ranting tadi.
“Apakah kau akan diam saja menangis dan tidak berguna seperti ini?”
“TIDAK!” Kali ini aku menjawab pertanyaan perempuan itu.
Aku bangkit dan mengambil potongan ranting yang lebih besar dari yang kupatahkan tadi.
Aku berlari ke arah dimana anjing itu berada.
Dia menatapku dengan tatapan tajamnya, seakan akan menggonggong dan menggigitku.
Namun dengan langkah kecil dia menghampiriku dan menjilat-jilati lidahnya di kakiku.
“Tidakkah kau paham bahwa air liurmu adalah air liur ternajis yang pernah menyentuh kakiku? Oh iya, aku sampai lupa bahwa kau adalah seekor anjing betina yang tak memiliki otak, tak memiliki perasaan dan hanya bisa menggonggong kesana kemari meminta makan pada majikan yang memakai sepatu pantofel hitam.Hh.”
Dia terus menjilati kakiku.
“Apa tujuanmu menggonggong ibuku saat ia melihatmu? Tidakkah kau takut seseorang akan mengambil anakmu yang kau tinggalkan sendiri dikandang usangmu itu? Bisakah kau hanya merawat anakmu bukan berkeliaran kesana kemari bersolek seperti wanita malam? Tidak!Tidak! Aku salah lagi, kau bukan manusia! Kau hanya seekor anjing betina! PERGI! JANGAN PERNAH DATANGI RUMAHKU LAGI!”
Aku menjadi geram.
Emosiku memuncak.
“Sebelum aku memukulmu menggunakan kayu ini, bisakah kau pergi jauh dariku saat ini juga?”
Anjing itu tampak takut. Suara gonggongan seperti malam bulan purnama terdengar dari anjing itu.
“Maaf aku hanya manusia yang tak mengerti bagaimana bahasa binatang. Pergilah! Selagi aku masih menjadi anak gadis manis yang memintamu pergi baik-baik. Atau apakah kau mau aku membuatmu berdarah dengan menghilangkan satu bola matamu yang bening dan cantik itu? Atau mungkin saja kau mau lidahmu hilang agar kau tak mampu lagi menikmati rasa manis sedikitpun? Atau bisa saja mulutmu kujahit hingga kau hanya bisa mengerang menggunakan tenggorokanmu? PERGILAH SELAGI AKU MASIH MEMINTAMU BAIK-BAIK!”
Hhhhhh-
Aku mengeluarkan semuanya malam itu.
Sepertinya anjing itu takut mendengar ancamanku.
Aku melihatnya pergi kearah jalanan yang begitu sepi malam itu.
Mataku masih memerah memperhatikan langkahnya yang bersolek seperti wanita penghibur.
Tidak! Tidak!
Dia seekor anjing betina, bukan seorang manusia.
Aku berbalik arah, kembali berjalan lemah ke tempat dimana aku bisa menemukan cahaya.
Disana, aku melihat perempuan itu melambaikan tangannya padaku.
Aku duduk disampingnya. Dibawah lampu jalanan yang cahayanya masih kuat bersinar malam itu.
Tiba-tiba dia memelukku lalu menyatu kedalam tubuhku.
Tanganku masih menggenggam erat potongan ranting kayu itu.
Kuat. Erat.
Tanpa aku sadari ranting itu marah padaku, Ia melukaiku.
Melukai tanganku.
Tik.Tik.Tik.
Cairan merah yang mengalir dari tanganku itu terjatuh di daun-daun yang gugur dekat dengan ranting-ranting yang berhamburan.
Tanganku terluka.
Mengapa yang terasa perih hatiku?
Kugenggam ranting itu lebih erat.
Cairan itu semakin banyak. Sekarang terasa perih. Sakit.
Aku membuang ranting itu.
Bahkan ranting yang tak bernyawapun bisa melukaiku.
Ranting yang akan kugunakan untuk memukul anjing betina yang kini perlahan hilang ditelan oleh gelapnya malam.

OKTOBER, 2014.
Suatu Malam Yang Dingin.


0 comments:

Post a Comment