Malam itu aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
Menikmati aroma alkohol dan obat-obatan.
Mendengar suara tangis bayi dari ruang NICU.
Mendengar suara ventilator dari ruang ICU.
Mendengar suara nafas para pemilik paru-paru yang sedang
terbaring lemah di tempat itu.
Mengapa terasa pengap?
Aku keluar dari tempat itu.
Menikmati angin malam yang begitu dingin.
Angin malam yang menyakiti hatiku begitu dalam.
Aku lelah.
Aku duduk di kursi taman rumah sakit.
Taman dimana aku bisa mendengar nafas pohon yang sekarang
sedang memperhatikanku.
Hai bunga pukul Sembilan yang malam ini sedang tertidur
pulas,
Bolehkah aku mengganggumu dengan tangisan yang akan
membuat riuh rumahmu ini?
Aku mengangkat pandanganku, melihat seorang perempuan
yang persis sama sepertiku.
Ada apa dengan perempuan yang duduk di bawah lampu
jalanan itu ?
Rambutnya terikat rapi dengan tali berbulu berwarna merah
jambu.
Sepertinya sweater putihnya tak sanggup melindungi tubuhnya dari
hawa malam ini.
Tangannya memegang patahan ranting, menari-menari
menciptakan lukisan abstrak di atas tanah.
Rintikan air terjatuh dari kedua sudut matanya.
Apa yang membuatnya menangis?
Aku beranjak duduk di depannya.
“Apa yang membuatmu menangis?” Tanyaku pada perempuan
yang terlihat seperti kembaranku.
Dia mengangkat wajahnya, melihatku dengan tatapan yang
begitu dalam.
“Siapa lagi yang harus kau percayai saat ini ketika
seseorang yang paling kau percaya mengkhianatimu?”
Aku terdiam.
Seperti pertanyaan yang langsung menusuk ujung jantungku.
“Masihkah kau bisa mempercayai seseorang setelah apa yang
terjadi padamu saat ini?”
Pertanyaan itu menggema di telingaku.
Dingin. Dingin sekali.
Aku berdiri.
Dia pun berdiri.
Mengikuti kemana aku pergi.
Tiba-tiba Ia berhenti di depan sebuah kamar Irna 1B.
Dia memanggilku.
“Lihat, apa yang kau lakukan jika melihat orang yang kau
sayang tersakiti oleh orang yang kau percaya untuk menjagamu? Masih merasa
amankah kau hidup di dunia jika tidak ada yang kau percaya untuk menjagamu?”
Dia menunjuk seorang wanita yang terlihat seperti ibuku
menangis di bawah jendela kamar tempat ayahku dirawat.
“Apa yang akan kau lakukan jika ada suara anjing yang
menganggu kenyamanan tidurmu saat malam hari?”
Aku terdiam.
“Bukan hanya tidurmu saja, anjing itu menghampirimu lalu
mengendus-ngendus ingin diberi makan oleh ayahmu. Lalu menggonggong kearah
ibumu dan akan menggigit ibumu ketika ibumu melihatnya bermanja-manja dengan
ayahmu. Tidakkah kau ingin memberi tusukan pisau paling tajam di dunia untuk
anjing itu? Memotong lidahnya yang menjilat-jilati ayahmu, menjambak bulunya
yang mengotori sofa dirumah, dan menyiram wajah lucunya yang terlihat
menyedihkan dengan air raksa . Bukankah itu tindakan paling tepat untuk membuat
anjing itu keluar dari rumahmu?”
Aku terpaku.
Terdiam.
Mulutku tak bisa terbuka. Seperti ada lem kuat yang sudah
diciptakan air liur untuk menutup mulutku.
Air mataku mengalir seperti kran air yang sedang bocor.
Dering dari telepon genggamku berbunyi.
Ada satu panggilan telepon.
“Halo!”
Terdengar suara gonggongan anjing yang terdengar seperti
mengkhawatirkan keadaan ayahku.
Suara gonggongan anjing yang ingin tahu keberadaanku.
Suara gonggongan anjing yang ingin bertemu denganku.
Suara gonggongan anjing yang mencoba menenangkanku.
Suara gonggongan anjing kampung yang mencoba menjadi anjing
kota.
Suara gonggongan anjing yang mencoba menjadi anjing yang
baik dan lucu.
“Bukankah semanis-manisnya anjing dia akan tetap menjadi
anjing yang suatu saat akan menggigitmu?”
Suara perempuan yang tadi kutemui di bawah lampu jalanan
masih terdengar jelas.
“Sebersih-bersihnya anjing dia akan meninggalkan kotoran
di sofa putihmu?”
Aku langsung menutup telepon itu.
Lututku terasa lemas hingga tak mampu berdiri.
Bahkan perempuan yang bersamaku tadi tidak punya cukup
tenaga untuk membantuku berdiri.
Aku berpegangan pada dinding yang membantuku berdiri saat
itu.
Dinding itu menggenggam tanganku dan membantuku berjalan
menyusuri koridor rumah sakit.
Dia melepas genggamannya saat aku berada di sebrang
jalanan di depan taman rumah sakit.
Aku jatuh terkulai lemas di bawah lampu jalanan malam
itu.
Lampu jalanan yang mampu memberiku cahaya dikala gelapnya
malam menghalangi langkahku.
Sesaat kemudian aku terbangun dan duduk tepat dibawah
cahaya bola lampu jalanan itu.
Ranting-ranting pohon yang sudah kering berhamburan di
sekelilingku.
Aku mengambil satu ranting lalu mematahkannya menjadi
dua.
Aku mencoba menyambungkannya lagi, tapi tidak bisa.
Sekeras apapun usahaku, ranting itu tak akan kembali utuh
seperti semula.
Dia hanya ranting, ranting terjatuh dari pohon tempatnya
hidup selama ini, lalu tersapu oleh kumpulan kayu tipis dan dibakar oleh batang
kayu yang dilapisi fosfor.
Tiba-tiba aku mendapati kaki seseorang berhenti tepat di
depanku.
Aku mengangkat wajahku.
Seorang perempuan yang terlihat seperti aku.
“Lihat ke arah gerbang rumah sakit!” Katanya tiba-tiba.
Aku menoleh.
Disana ada seekor anjing berbulu putih bersih dengan mata
yang bersinar tajam berjalan akan memasuki pintu rumah sakit.
Air mataku menetes.
Tanganku meremas habis sisa potongan ranting tadi.
“Apakah kau akan diam saja menangis dan tidak berguna
seperti ini?”
“TIDAK!” Kali ini aku menjawab pertanyaan perempuan itu.
Aku bangkit dan mengambil potongan ranting yang lebih
besar dari yang kupatahkan tadi.
Aku berlari ke arah dimana anjing itu berada.
Dia menatapku dengan tatapan tajamnya, seakan akan
menggonggong dan menggigitku.
Namun dengan langkah kecil dia menghampiriku dan
menjilat-jilati lidahnya di kakiku.
“Tidakkah kau paham bahwa air liurmu adalah air liur
ternajis yang pernah menyentuh kakiku? Oh iya, aku sampai lupa bahwa kau adalah
seekor anjing betina yang tak memiliki otak, tak memiliki perasaan dan hanya
bisa menggonggong kesana kemari meminta makan pada majikan yang memakai sepatu
pantofel hitam.Hh.”
Dia terus menjilati kakiku.
“Apa tujuanmu menggonggong ibuku saat ia melihatmu?
Tidakkah kau takut seseorang akan mengambil anakmu yang kau tinggalkan sendiri
dikandang usangmu itu? Bisakah kau hanya merawat anakmu bukan berkeliaran
kesana kemari bersolek seperti wanita malam? Tidak!Tidak! Aku salah lagi, kau
bukan manusia! Kau hanya seekor anjing betina! PERGI! JANGAN PERNAH DATANGI
RUMAHKU LAGI!”
Aku menjadi geram.
Emosiku memuncak.
“Sebelum aku memukulmu menggunakan kayu ini, bisakah kau
pergi jauh dariku saat ini juga?”
Anjing itu tampak takut. Suara gonggongan seperti malam
bulan purnama terdengar dari anjing itu.
“Maaf aku hanya manusia yang tak mengerti bagaimana
bahasa binatang. Pergilah! Selagi aku masih menjadi anak gadis manis yang
memintamu pergi baik-baik. Atau apakah kau mau aku membuatmu berdarah dengan
menghilangkan satu bola matamu yang bening dan cantik itu? Atau mungkin saja
kau mau lidahmu hilang agar kau tak mampu lagi menikmati rasa manis sedikitpun?
Atau bisa saja mulutmu kujahit hingga kau hanya bisa mengerang menggunakan
tenggorokanmu? PERGILAH SELAGI AKU MASIH MEMINTAMU BAIK-BAIK!”
Hhhhhh-
Aku mengeluarkan semuanya malam itu.
Sepertinya anjing itu takut mendengar ancamanku.
Aku melihatnya pergi kearah jalanan yang begitu sepi
malam itu.
Mataku masih memerah memperhatikan langkahnya yang
bersolek seperti wanita penghibur.
Tidak! Tidak!
Dia seekor anjing betina, bukan seorang manusia.
Aku berbalik arah, kembali berjalan lemah ke tempat
dimana aku bisa menemukan cahaya.
Disana, aku melihat perempuan itu melambaikan tangannya
padaku.
Aku duduk disampingnya. Dibawah lampu jalanan yang
cahayanya masih kuat bersinar malam itu.
Tiba-tiba dia memelukku lalu menyatu kedalam tubuhku.
Tanganku masih menggenggam erat potongan ranting kayu
itu.
Kuat. Erat.
Tanpa aku sadari ranting itu marah padaku, Ia melukaiku.
Melukai tanganku.
Tik.Tik.Tik.
Cairan merah yang mengalir dari tanganku itu terjatuh di
daun-daun yang gugur dekat dengan ranting-ranting yang berhamburan.
Tanganku terluka.
Mengapa yang terasa perih hatiku?
Kugenggam ranting itu lebih erat.
Cairan itu semakin banyak. Sekarang terasa perih. Sakit.
Aku membuang ranting itu.
Bahkan ranting yang tak bernyawapun bisa melukaiku.
Ranting yang akan kugunakan untuk memukul anjing betina
yang kini perlahan hilang ditelan oleh gelapnya malam.
OKTOBER, 2014.
Suatu Malam Yang Dingin.
0 comments:
Post a Comment